KANAL KOTA – Sektor pertanian Jawa Tengah menghadapi persoalan musiman setelah periode panen raya berlalu. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap produksi, tetapi juga berpotensi menahan daya beli petani.
Bank Indonesia menilai kontraksi pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II 2026 berkaitan erat dengan faktor musiman.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, periode panen raya yang telah berlalu membuat aktivitas ekonomi sektor pertanian mengalami penyesuaian.
Namun, persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan hanya penurunan produksi setelah panen raya.
BI juga melihat adanya potensi tertahannya pendapatan petani karena belum memasuki periode panen berikutnya.
“Karena belum ada income dari panen, otomatis daya belinya mungkin agak sedikit tertahan di petani,” kata Nunu saat memberikan paparan PDRB di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).
Kondisi tersebut kemudian memiliki kaitan dengan perlambatan konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah.
Pada triwulan I, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen. Namun pada triwulan II pertumbuhannya melambat menjadi 4,31 persen.
BI menilai perlambatan konsumsi tersebut memang sebagian merupakan efek normalisasi setelah tingginya aktivitas masyarakat pada momentum hari besar dan mudik Lebaran.
Namun, pelemahan daya beli tetap harus diwaspadai. Terlebih bagi masyarakat yang pendapatannya sangat bergantung pada siklus produksi pertanian. Ketika masa panen berakhir dan belum memasuki panen berikutnya, kemampuan masyarakat untuk berbelanja dapat ikut menurun.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap stabil.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












