Panen Raya Berlalu, BI Waspadai Daya Beli Petani Jateng Mulai Tertahan

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala BI Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho memberikan keterangan kepada media terkait pertumbuhan ekonomi Jateng di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/26).

Kepala BI Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho memberikan keterangan kepada media terkait pertumbuhan ekonomi Jateng di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/26).

KANAL KOTA – Sektor pertanian Jawa Tengah menghadapi persoalan musiman setelah periode panen raya berlalu. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap produksi, tetapi juga berpotensi menahan daya beli petani.

Bank Indonesia menilai kontraksi pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II 2026 berkaitan erat dengan faktor musiman.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, periode panen raya yang telah berlalu membuat aktivitas ekonomi sektor pertanian mengalami penyesuaian.

Namun, persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan hanya penurunan produksi setelah panen raya.

Baca Juga :  BI Tegal Masukkan Materi Cinta Rupiah ke SD-SMP, Edukasi Ekonomi Dimulai Sejak Bangku Sekolah

BI juga melihat adanya potensi tertahannya pendapatan petani karena belum memasuki periode panen berikutnya.

“Karena belum ada income dari panen, otomatis daya belinya mungkin agak sedikit tertahan di petani,” kata Nunu saat memberikan paparan PDRB di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).

Kondisi tersebut kemudian memiliki kaitan dengan perlambatan konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah.

Pada triwulan I, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen. Namun pada triwulan II pertumbuhannya melambat menjadi 4,31 persen.

Baca Juga :  Dijanjikan Bisa Jualan di Gedung Bakorwil saat Acara Gubernur Jateng, Puluhan UMKM di Kota Pekalongan Malah Kehilangan Rp60 Juta

BI menilai perlambatan konsumsi tersebut memang sebagian merupakan efek normalisasi setelah tingginya aktivitas masyarakat pada momentum hari besar dan mudik Lebaran.

Namun, pelemahan daya beli tetap harus diwaspadai. Terlebih bagi masyarakat yang pendapatannya sangat bergantung pada siklus produksi pertanian. Ketika masa panen berakhir dan belum memasuki panen berikutnya, kemampuan masyarakat untuk berbelanja dapat ikut menurun.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap stabil.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ekonomi Eks Karesidenan Pekalongan Tumbuh 6,01 Persen, Lampaui Jawa Tengah dan Nasional
BI Sebut Digitalisasi Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah
Ironi Pangan Jateng: Jadi Produsen, Tapi Komoditas Keluar Daerah dan Masuk Lagi dengan Harga Lebih Mahal
Inflasi Jateng Turun Jadi 2,6 Persen, BI Masih Waspadai Cabai hingga Bawang
Dunia Bergejolak Ekspor Jawa Tengah Justru Naik, BI Ungkap Penyebabnya
Investasi Jateng Mulai Melambat, Sektor Konstruksi Ikut Terkoreksi
Pertumbuhan Ekonomi Jateng Masih Solid, Tapi Daya Beli Mulai Jadi Alarm
Investasi Rp6,1 Triliun Dongkrak Ekonomi Batang, Ribuan Warga Kini Bekerja di Sektor Formal
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 05:11 WIB

Ekonomi Eks Karesidenan Pekalongan Tumbuh 6,01 Persen, Lampaui Jawa Tengah dan Nasional

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:45 WIB

BI Sebut Digitalisasi Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:20 WIB

Ironi Pangan Jateng: Jadi Produsen, Tapi Komoditas Keluar Daerah dan Masuk Lagi dengan Harga Lebih Mahal

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:55 WIB

Inflasi Jateng Turun Jadi 2,6 Persen, BI Masih Waspadai Cabai hingga Bawang

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:30 WIB

Dunia Bergejolak Ekspor Jawa Tengah Justru Naik, BI Ungkap Penyebabnya

Berita Terbaru