13 Tempat di Dunia yang Sudah Didatangi Manusia Selama Ribuan Tahun dan Kini Jadi Destinasi Wisata

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:49 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

πŸ™ Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

KANAL TRAVEL – Jauh sebelum pesawat terbang, kereta api, hotel, kamera digital dan media sosial dikenal manusia, orang-orang sudah melakukan perjalanan menuju tempat tertentu. Ada yang datang untuk beribadah, berziarah, berdagang, mengikuti festival, mencari ilmu, menjalankan pemerintahan atau sekadar berpindah tempat.

Sebagian lokasi tersebut kini berubah menjadi destinasi wisata terkenal. Namun ada satu hal yang perlu dibedakan. Tempat-tempat ini tidak semuanya merupakan ‘tempat wisata’ sejak awal.

Konsep pariwisata modern baru muncul jauh kemudian. Yang menarik justru adalah kenyataan bahwa sejumlah lokasi telah memiliki hubungan dengan manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun dan sampai sekarang masih didatangi.

Ada tempat yang fungsi sucinya tetap hidup. Ada yang dahulu merupakan ibu kota kerajaan. Ada yang pernah menjadi pusat perdagangan. Ada pula yang dahulu menjadi tempat ritual dan olahraga.

Manusia berubah, peradaban berganti, tetapi tempatnya tetap menjadi magnet.

Berikut 13 di antaranya.

1. Varanasi, India – Kota yang Masih Hidup di Tepi Gangga

Lokasi: Varanasi, Uttar Pradesh

Negara: India

Jejak sejarah, setidaknya sekitar 1200 SM menurut pengajuan India ke UNESCO. Varanasi berbeda dari kebanyakan destinasi dalam daftar ini. Ini bukan kota kuno yang kemudian berubah menjadi situs arkeologi. Varanasi masih merupakan kota yang hidup.

UNESCO menyebut Varanasi sebagai salah satu kota tertua di dunia yang terus dihuni. Bukti arkeologis menunjukkan kawasan tersebut telah dihuni setidaknya sejak sekitar 1200 SM, sementara aktivitas perdagangan berkembang sejak milenium pertama SM. Sejak setidaknya abad ke-6 M, kota ini berkembang sebagai pusat ziarah dan pada abad ke-12 menjadi salah satu pusat paling suci bagi umat Hindu.

Daya tarik utamanya adalah kawasan tepian Sungai Gangga dengan deretan ghat. Di sana wisatawan dapat melihat Dashashwamedh Ghat, Manikarnika Ghat, ritual keagamaan, prosesi kremasi, aktivitas perahu, kuil dan lorong-lorong kota tua.

Yang membuat Varanasi luar biasa adalah wisatawan modern berbagi ruang dengan kehidupan masyarakat yang masih menjalankan tradisi berabad-abad lamanya.

Jadi, Varanasi bukan sekadar kota yang memiliki sejarah kuno. Kota itu sendiri masih menjadi bagian dari sejarah yang terus berjalan.

2. Kota Tua Yerusalem β€” Tempat Suci Tiga Agama

Lokasi: Yerusalem

Status: wilayah dengan status politik yang dipersengketakan

Jejak sejarah: ribuan tahun

Yerusalem memiliki posisi yang sangat berbeda karena nilai utamanya bukan sekadar sejarah, tetapi juga keagamaan.

Kota Tua Yerusalem merupakan tempat suci bagi Yudaisme, Kekristenan dan Islam.

UNESCO mencatat sekitar 220 monumen bersejarah di dalam kawasan Kota Tua dan temboknya. Di antaranya terdapat Kubah Batu yang dibangun pada abad ke-7, Tembok Barat dan Gereja Makam Kudus.

Orang datang ke Yerusalem bukan hanya untuk melihat bangunan bersejarah. Mereka datang untuk berziarah, beribadah dan menjalankan tradisi keagamaan.

Karena itu, Yerusalem termasuk contoh paling jelas mengenai tempat yang tidak berubah menjadi sekadar objek wisata meskipun dikunjungi jutaan manusia modern. Fungsi spiritualnya tetap hidup.

3. Delphi, Yunani β€” Tempat Orang Kuno Mencari Jawaban

Lokasi: Delphi, Phocis

Negara: Yunani

Jejak sejarah: permukiman sejak sekitar 1500–1100 SM; sanctuary berkembang sejak abad ke-8 SM

Delphi merupakan salah satu tempat paling terkenal dalam dunia Yunani kuno.

Kawasan ini telah dihuni sejak milenium kedua SM. UNESCO mencatat peninggalan Mycenaean dari sekitar 1500–1100 SM, sedangkan perkembangan sanctuary dan orakel Apollo dimulai sekitar abad ke-8 SM.

Pada masa kejayaannya, Delphi menjadi pusat keagamaan dan politik penting.

Di sana terdapat Sanctuary of Apollo, tempat Oracle Delphi menyampaikan ramalan yang dipercaya memiliki pengaruh besar terhadap keputusan politik dan kehidupan masyarakat Yunani.

Orang-orang pada masa itu datang bukan untuk berlibur. Mereka datang karena percaya tempat tersebut dapat memberikan jawaban mengenai masa depan.

Kini wisatawan datang dengan tujuan berbeda. Mereka mengunjungi reruntuhan Kuil Apollo, teater, stadion, berbagai bangunan suci dan Museum Arkeologi Delphi.

Dulu manusia datang mencari ramalan. Sekarang manusia datang mencari jejak sejarahnya.

4. Acropolis Athena, Yunani β€” Bukit yang Bertahan Lebih dari 3.300 Tahun

Lokasi: Athena

Negara: Yunani

Jejak sejarah: benteng pertama sekitar abad ke-13 SM

Acropolis sering dianggap sebagai simbol Yunani kuno. Namun usia kawasan ini lebih tua daripada Parthenon yang selama ini paling dikenal.

UNESCO menyebut benteng pertama di puncak Acropolis dibangun pada abad ke-13 SM, ketika bukit tersebut menjadi kediaman penguasa Mycenaean. Artinya, sistem pertahanannya telah berusia lebih dari 3.300 tahun.

Baru sekitar abad ke-8 SM kawasan itu semakin memiliki karakter keagamaan melalui kultus Athena.

Sementara bangunan-bangunan yang sekarang paling terkenal, seperti Parthenon, Erechtheion, Propylaia dan Kuil Athena Nike, terutama berasal dari program pembangunan besar pada abad ke-5 SM.

Hari ini, wisatawan naik ke bukit tersebut untuk melihat peninggalan arsitektur klasik Yunani dan panorama Athena.

Namun sebelum menjadi destinasi wisata, tempat ini telah berfungsi sebagai benteng, pusat keagamaan dan simbol kekuasaan.

5. Olympia, Yunani β€” Dari Pusat Pemujaan Zeus Menjadi Ikon Olimpiade

Lokasi: Olympia, Peloponnese

Negara: Yunani

Jejak sejarah: permukiman sejak prasejarah; pusat pemujaan Zeus sekitar abad ke-10 SM

Olympia memiliki hubungan langsung dengan salah satu tradisi olahraga paling terkenal di dunia.

UNESCO mencatat lembah Olympia telah dihuni sejak masa prasejarah dan memiliki sejarah hingga milenium ke-4 SM. Pada sekitar abad ke-10 SM, Olympia menjadi pusat pemujaan Zeus.

Baca Juga :  Sustainable Tourism in Bali: Balancing Preservation and Growth

Kemudian, mulai 776 SM, Olimpiade kuno diselenggarakan setiap empat tahun sebagai bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial dunia Yunani.

Pertandingan tersebut berlangsung hingga 393 M. Jadi orang yang datang ke Olympia pada masa kuno bukanlah wisatawan dalam pengertian modern.

Mereka datang sebagai peserta, penonton, peziarah atau bagian dari perayaan keagamaan. Kini pengunjung dapat melihat reruntuhan kuil, fasilitas olahraga dan stadion kuno.

Tempat yang dahulu menjadi panggung pertandingan manusia ribuan tahun lalu kini menjadi museum terbuka tentang sejarah olahraga dunia.

6. Lumbini, Nepal β€” Tempat Ziarah yang Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun

Lokasi: Lumbini, Provinsi Lumbini

Negara: Nepal

Jejak sejarah, Buddha dikaitkan lahir di sini pada 623 SM; bukti pusat ziarah sejak abad ke-3 SM

Lumbini merupakan salah satu contoh paling kuat mengenai kesinambungan fungsi sebuah tempat.

UNESCO menyebut Siddhartha Gautama, Buddha, lahir di Lumbini pada 623 SM. Tempat tersebut kemudian segera menjadi lokasi ziarah. Kaisar Ashoka dari India juga datang sebagai peziarah dan mendirikan pilar peringatan pada 249 SM.

Bukti arkeologis di kawasan tersebut menunjukkan keberadaan pusat ziarah Buddha sejak setidaknya abad ke-3 SM.

Kini wisatawan dan peziarah dapat melihat, Maya Devi Temple,Β  Ashoka Pillar, kolam suci, sisa,Β  biara kuno, berbagai kompleks keagamaan.

Yang menarik, Lumbini tidak pernah sekadar menjadi reruntuhan. Fungsi ziarahnya tetap hidup hingga sekarang.

7. Bodh Gaya, India β€” Tempat Pencerahan Buddha

Lokasi: Bodh Gaya, Bihar

Negara: India

Jejak sejarah, situs ziarah terdokumentasi sejak abad ke-3 SM

Jika Lumbini dikenal sebagai tempat kelahiran Buddha, Bodh Gaya dikenal sebagai tempat Buddha mencapai pencerahan.

Hubungan tempat ini dengan tradisi Buddha telah terdokumentasi sejak masa Kaisar Ashoka.

UNESCO mencatat kuil pertama dibangun Ashoka pada abad ke-3 SM, sedangkan bangunan Mahabodhi yang sekarang terutama berasal dari abad ke-5 atau ke-6 M.

Perbedaan ini penting. Artinya, tidak tepat mengatakan bahwa bangunan yang sekarang berdiri berusia 2.300 tahun.

Yang berusia lebih dari dua milenium adalah hubungan situs tersebut dengan tradisi ziarah dan sejarah Buddhisme, sementara struktur utama yang masih berdiri berasal dari periode yang lebih muda dan telah mengalami perbaikan serta restorasi.

Di kompleks ini terdapat Mahabodhi Temple, Vajrasana, Pohon Bodhi dan berbagai stupa.

UNESCO mencatat hingga sekarang peziarah dari berbagai penjuru dunia terus datang untuk berdoa, bermeditasi dan melakukan upacara keagamaan.

8. Thebes, Luxor dan Karnak, Mesir β€” Jejak Kota Para Firaun

Lokasi: Luxor, tepi Sungai Nil

Negara: Mesir

Jejak sejarah, pusat penting Mesir kuno selama ribuan tahun

Kawasan Thebes berbeda dengan sebuah bangunan tunggal. Ini merupakan kawasan besar yang mencakup Karnak, Kuil Luxor, Lembah Para Raja dan Lembah Para Ratu.

Thebes pernah menjadi ibu kota Mesir pada masa Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru serta menjadi pusat keagamaan penting. UNESCO mencatat sisa kota kuno dari sekitar 1500–1000 SM, sementara makam-makam di Lembah Para Raja berasal dari sekitar 1500–1000 SM.

Di sana wisatawan modern dapat melihat,Β Kompleks Kuil Karnak, Kuil Luxor, Lembah Para Raja, Lembah Para Ratu, Kuil Hatshepsut, makam dan kompleks keagamaan lainnya.

Karnak dan Luxor dahulu bukan objek wisata. Keduanya merupakan pusat keagamaan dan politik.

Kini keduanya menjadi salah satu tujuan wisata sejarah terbesar Mesir.

9. Petra, Yordania β€” Kota Dagang yang Dipahat di Batu

Lokasi: Ma’an

Negara: Yordania

Jejak sejarah, dihuni sejak prasejarah; berkembang sebagai pusat Nabatea

Petra terlihat seperti kota yang sengaja dibuat untuk menjadi objek wisata. Padahal fungsi aslinya jauh berbeda.

Petra merupakan kota dan pusat perdagangan bangsa Nabatea. UNESCO menyebut kawasan tersebut telah dihuni sejak masa prasejarah dan kemudian menjadi pusat perdagangan karavan penting yang menghubungkan Arabia, Mesir, Suriah-Phoenicia serta jalur perdagangan menuju Asia.

Kota ini memiliki sistem pengelolaan air yang sangat maju sehingga masyarakat mampu hidup di wilayah yang relatif kering.

Kini wisatawan masuk melalui Siq, kemudian melihat Al-Khazneh atau Treasury, makam-makam batu, kuil, tempat pemujaan, saluran air, waduk, gereja dan berbagai peninggalan lainnya.

Dahulu orang datang ke Petra karena perdagangan dan kehidupan kota. Kini orang datang karena sejarah dan arsitekturnya.

10. Angkor, Kamboja β€” Bekas Pusat Kerajaan yang Kini Menjadi Taman Arkeologi

Lokasi: Siem Reap

Negara: Kamboja

Jejak sejarah: sekitar abad ke-9 hingga ke-15 M

Angkor bukan satu bangunan. Kawasan ini membentang sekitar 400 kilometer persegi dan menyimpan sisa berbagai ibu kota Kerajaan Khmer dari abad ke-9 hingga ke-15.

Di dalamnya terdapat, Angkor Wat, Angkor Thom, Bayon, Ta Prohm, Preah Khan, berbagai reservoir, kanal dan sistem pengairan kuno.

Dahulu Angkor merupakan pusat kekuasaan dan kehidupan kerajaan. Kini kawasan tersebut menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terbesar di Asia Tenggara.

Namun ada fakta yang membuat Angkor semakin menarik. Angkor tidak sepenuhnya menjadi kota mati.

UNESCO mencatat kawasan arkeologi tersebut masih dihuni masyarakat dan terdapat desa-desa yang sebagian penduduknya memiliki leluhur yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak periode Angkor.

Jadi wisatawan bukan hanya mengunjungi peninggalan masa lalu. Mereka juga masuk ke sebuah lanskap yang masih memiliki kehidupan masyarakat hingga sekarang.

11. Borobudur, Indonesia β€” Monumen Buddha Berusia Lebih dari 1.100 Tahun

Lokasi: Magelang, Jawa Tengah

Negara: Indonesia

Jejak sejarah, abad ke-8 hingga ke-9 M

Baca Juga :  Dari Sawah Terendam Rob Jadi Wisata Dayung Kano, Kini Selalu Diserbu Pemburu Sunset

Borobudur merupakan salah satu peninggalan paling penting dalam sejarah Asia Tenggara.

UNESCO menyebut kompleks Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 M pada masa Dinasti Syailendra. Monumen ini memiliki tiga tingkatan utama, lima teras persegi, tiga platform melingkar dan sebuah stupa utama.

Pada bagian atas terdapat 72 stupa berlubang, masing-masing berkaitan dengan patung Buddha. Dinding dan pagar langkannya dihiasi relief dengan luas sekitar 2.500 meter persegi.

Namun ada catatan sejarah penting. Borobudur memang digunakan sebagai tempat ibadah Buddha sejak pembangunannya, tetapi kemudian ditinggalkan sekitar abad ke-10 hingga ke-15.

Kompleks tersebut ditemukan kembali oleh dunia modern pada abad ke-19 dan menjalani berbagai upaya konservasi, termasuk restorasi besar dengan bantuan UNESCO pada 1970-an.

Artinya, Borobudur bukan tempat yang terus-menerus menjadi destinasi wisata selama 1.100 tahun. Yang bertahan adalah monumennya.

Setelah lama ditinggalkan, Borobudur kemudian kembali menjadi pusat perhatian sebagai situs sejarah, budaya dan keagamaan.

12. Mount Athos, Yunani β€” Tempat yang Tradisinya Masih Berjalan

Lokasi: Semenanjung Chalkidiki

Negara: Yunani

Jejak sejarah, pusat spiritual Ortodoks sejak abad ke-10

Mount Athos merupakan kasus yang sangat berbeda. Ini bukan sekadar situs arkeologi yang ditinggalkan. Mount Athos masih menjadi pusat spiritual Ortodoks yang hidup.

UNESCO menyebut kawasan tersebut menjadi pusat spiritual Ortodoks sejak abad ke-10 dan memiliki status pemerintahan sendiri sejak masa Bizantium. Konstitusi pertamanya ditandatangani pada 972.

Saat ini terdapat sekitar 20 biara yang dihuni sekitar 1.400 biarawan, menurut UNESCO. Di dalam kawasan terdapat, biara kuno, gereja, ikon, manuskrip, lukisan dinding, perpustakaan, permukiman monastik.

Namun Mount Athos bukan destinasi wisata biasa. Aksesnya terbatas dan terdapat aturan khusus, termasuk larangan masuk bagi perempuan dan anak-anak.

Karena itu, tempat ini lebih tepat disebut pusat ziarah dan warisan budaya yang dapat dikunjungi secara terbatas daripada objek wisata massal.

13. Stonehenge, Inggris β€” Misteri yang Dibangun Ribuan Tahun Sebelum Piramida?

Lokasi: Wiltshire

Negara: Britania Raya

Jejak sejarah: sekitar 3700–1600 SM

Stonehenge merupakan salah satu tempat paling tua dalam daftar ini. Namun sekali lagi, angka tersebut bukan berarti seluruh batu dibangun dalam satu waktu.

UNESCO menyebut lanskap Stonehenge dan Avebury memperlihatkan sekitar 2.000 tahun aktivitas pembangunan dan penggunaan monumen, dari sekitar 3700 hingga 1600 SM.

Kompleks tersebut merupakan bagian dari lanskap prasejarah yang mencakup lingkaran batu, monumen tanah, makam dan berbagai struktur lainnya.

Fungsi pastinya masih menjadi bahan penelitian, tetapi jelas bahwa tempat tersebut memiliki hubungan dengan aktivitas ritual dan pemakaman masyarakat prasejarah.

Kini manusia modern datang ke Stonehenge sebagai wisatawan, peneliti dan orang yang ingin melihat langsung salah satu peninggalan prasejarah paling terkenal di dunia.

Yang menarik, orang modern masih berdiri di tempat yang sama dengan manusia yang hidup ribuan tahun sebelum mereka.

Tidak Semua ‘Berusia Ribuan Tahun’ dengan Cara yang Sama Jika seluruh tempat tersebut disusun berdasarkan usianya, kita bisa menemukan perbedaan yang cukup besar.

Stonehenge memiliki aktivitas pembangunan dan penggunaan sejak sekitar 3700 SM.

Varanasi merupakan kota hidup dengan sejarah permukiman yang sangat tua.

Lumbini memiliki hubungan dengan kelahiran Buddha pada 623 SM dan berkembang menjadi tempat ziarah.

Olympia memiliki sejarah prasejarah dan menjadi pusat pemujaan Zeus sekitar abad ke-10 SM.

Acropolis memiliki benteng sejak abad ke-13 SM, tetapi Parthenon berasal dari abad ke-5 SM.

Bodh Gaya memiliki bukti hubungan dengan ziarah sejak masa Ashoka pada abad ke-3 SM, sedangkan kuil yang berdiri sekarang terutama berasal dari abad ke-5–6 M.

Borobudur berasal dari abad ke-8–9 M.

Angkor berkembang sebagai pusat kerajaan sekitar abad ke-9–15 M.

Jadi, menyebut semua tempat tersebut sebagai ‘bangunan berusia ribuan tahun’ sebenarnya kurang tepat.

Yang lebih akurat adalah menyebutnya tempat yang memiliki sejarah penggunaan, pemukiman, keagamaan atau kebudayaan yang berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun.

Dulu Bukan Wisata, Sekarang Jadi Tujuan Wisata

Ada satu kesamaan menarik dari seluruh daftar tersebut. Manusia dahulu datang dengan tujuan yang berbeda dengan manusia modern.

Ke Delphi, orang datang mencari jawaban dari Oracle. Ke Olympia, mereka datang mengikuti festival dan pertandingan yang berkaitan dengan Zeus. Ke Petra, orang datang untuk berdagang. Ke Angkor, manusia datang karena kota itu merupakan pusat kerajaan. Ke Varanasi, orang datang untuk menjalankan kehidupan, perdagangan dan kemudian ziarah. Ke Lumbini dan Bodh Gaya, orang datang untuk berziarah. Ke Mount Athos, tradisi spiritual masih berlangsung sampai sekarang.

Sementara wisatawan modern datang dengan kamera, tiket masuk, peta digital dan kendaraan. Lokasinya sama, tetapi alasan manusia mendatanginya bisa berubah total. Itulah yang membuat tempat-tempat ini lebih menarik daripada sekadar bangunan tua.

Mereka adalah semacam ‘rekaman hidup’ perjalanan peradaban manusia. Kerajaan bisa runtuh. Bahasa bisa berubah. Agama dan sistem politik dapat mengalami perubahan.

Teknologi manusia bisa bergerak dari batu ke baja, dari kertas ke komputer, lalu ke kecerdasan buatan. Namun di tempat-tempat tertentu, jejak manusia tetap bertahan.

Dan setiap kali wisatawan modern berdiri di sana, mereka sebenarnya sedang menginjak ruang yang pernah digunakan oleh manusia dari generasi yang sangat jauh sebelum mereka.

Bukan sekadar mengunjungi masa lalu, tetapi datang ke tempat di mana masa lalu dan kehidupan modern masih bertemu.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

300 Relawan Turun ke Waduk Malahayu, Kebersihan Jadi ‘Modal Utama’ Dongkrak Wisata Brebes
Batang Ubah Arah Pariwisata, Lima Destinasi Disulap Jadi Wisata Healing hingga Wellness Tourism
Dari Sawah Terendam Rob Jadi Wisata Dayung Kano, Kini Selalu Diserbu Pemburu Sunset
Di Saat Keluhan Tukang Parkir Ramai di Medsos, Ada Jalan 3 Kilometer di Pekalongan yang Justru Bebas Parkir
Wisata Kabupaten Pekalongan di Ujung Tanduk, Kunjungan Anjlok 50 Persen hingga Sejumlah Destinasi Gulung Tikar
Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix
The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone
From Farm to Table: The Journey of Food and its Impact on Our Health and the Environmen
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 14:35 WIB

300 Relawan Turun ke Waduk Malahayu, Kebersihan Jadi ‘Modal Utama’ Dongkrak Wisata Brebes

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:22 WIB

Batang Ubah Arah Pariwisata, Lima Destinasi Disulap Jadi Wisata Healing hingga Wellness Tourism

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:42 WIB

Dari Sawah Terendam Rob Jadi Wisata Dayung Kano, Kini Selalu Diserbu Pemburu Sunset

Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:16 WIB

Di Saat Keluhan Tukang Parkir Ramai di Medsos, Ada Jalan 3 Kilometer di Pekalongan yang Justru Bebas Parkir

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:35 WIB

Wisata Kabupaten Pekalongan di Ujung Tanduk, Kunjungan Anjlok 50 Persen hingga Sejumlah Destinasi Gulung Tikar

Berita Terbaru