KANAL KOTA – Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil berbagai komoditas pangan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat harga pangan di wilayah ini selalu murah dari daerah lain.
Bank Indonesia mengungkap salah satu persoalannya berada pada rantai distribusi yang panjang berliku.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, sebagian komoditas pangan produksi Jawa Tengah justru dibawa keluar daerah oleh agregator atau pedagang besar untuk dikemas maupun diolah.
Setelah dikemas dan berubah menjadi barang jadi, produk tersebut kemudian dijual kembali masuk ke Jawa Tengah.
Kondisi tersebut membuat rantai distribusi menjadi lebih panjang dan berpotensi meningkatkan harga yang harus dibayar konsumen.
“Jadi Jawa Tengah ini merupakan produsen untuk bahan pangan, tapi kebanyakan diambil oleh agregator ataupun pedagang besar di luar Jawa Tengah untuk dikemas dan diolah selanjutnya, dan baru setelah jadi barang jadi masuk lagi ke Jawa Tengah,” jelasnya.
Untuk memotong rantai distribusi tersebut, BI bersama pemerintah daerah mendorong Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
Salah satu upayanya dilakukan adalah melalui pertemuan antara produsen dengan pedagang besar atau offtaker.
“Pada 10 Juni lalu, sebanyak 99 offtaker atau pedagang besar dipertemukan dengan 111 produsen bahan pangan dari 34 kabupaten/kota di Jawa Tengah,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut berlangsung 177 sesi business matching secara one-on-one atau pertemuan tertutup antara kedua belah pihak.
Adapun komoditas yang dipertemukan antara lain cabai, beras, jagung, minyak goreng, bawang merah dan telur ayam.
Tercatat 50 sesi business matching untuk cabai, 47 untuk beras, 27 jagung, 26 minyak goreng, 22 bawang merah dan lima sesi untuk telur ayam.
Sejumlah pertemuan tersebut bahkan masih dilanjutkan kembali dengan penandatanganan kerja sama antara kedua belah pihak.
Menurut BI, skema tersebut diharapkan membuat hasil produksi Jawa Tengah bisa langsung terserap dan diolah di dalam daerah tanpa harus keluar terlebih dahulu.
“Dengan begitu, rantai distribusi dapat dipangkas dan biaya yang akhirnya dibebankan kepada konsumen bisa ditekan,” jelasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












