KANAL KOTA – Perekonomian Jawa Tengah masih menunjukkan kinerja positif pada triwulan II 2026 dengan pertumbuhan mencapai 5,71 persen secara tahunan. Meski angka tersebut sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,89 persen, Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi Jateng masih berada dalam kondisi cukup solid.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, perlambatan tersebut antara lain merupakan dampak normalisasi setelah tingginya aktivitas ekonomi pada triwulan I yang bertepatan dengan sejumlah momentum hari besar dan periode mudik Lebaran.
Menurut dia, konsumsi rumah tangga yang pada triwulan I tumbuh 5,08 persen kemudian melambat menjadi 4,31 persen pada triwulan II.
“Ini bisa dibilang karena efek normalisasi yang sebelumnya ada hari besar. Jadi sudah kembali normal,” kata Mohamad Noor Nugroho dalam paparannya di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).
Namun demikian, BI melihat ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian, yakni kemungkinan mulai tertahannya daya beli masyarakat.
Perlambatan konsumsi tersebut, menurut Nunu, sapaan Mohamad Noor Nugroho, tidak hanya berkaitan dengan berakhirnya momentum hari besar, tetapi juga perlu dicermati dari sisi kemampuan masyarakat dalam melakukan konsumsi.
Kondisi tersebut semakin terlihat dari hasil survei Bank Indonesia mengenai keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen pada triwulan II menunjukkan sedikit pelemahan.
Meski demikian, indeks tersebut masih berada di atas level 100. Artinya, jumlah masyarakat yang memiliki pandangan optimistis terhadap kondisi ekonomi ke depan masih lebih banyak dibandingkan yang pesimistis.
“Optimismenya masih ada. Memang optimismenya agak sedikit menurun,” ujarnya.
BI menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih mempunyai ruang untuk tumbuh. Namun, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan tetap perlu mewaspadai perkembangan daya beli masyarakat.
Selain konsumsi, perlambatan pertumbuhan juga terlihat pada investasi. Investasi yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tumbuh 8,84 persen, turun dari 9,61 persen pada periode sebelumnya.
Perlambatan investasi tersebut kemudian ikut tercermin pada sektor konstruksi yang pertumbuhannya turun dari 8,5 persen menjadi 5,22 persen.
Sementara sektor pertanian juga mengalami kontraksi. Kondisi ini dinilai berkaitan dengan faktor musiman karena periode panen raya telah berlalu.
“Yang perlu kita waspadai adalah karena belum ada income dari panen, otomatis daya belinya mungkin agak sedikit tertahan di petani,” jelasnya.
Karena itu, meskipun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih tergolong solid, BI menilai perkembangan konsumsi dan daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian pada periode berikutnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












