KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Siapa sangka hamparan sawah yang sejak hampir satu dekade lalu tenggelam akibat rob kini berubah menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Lahan seluas sekitar delapan hektare di Kelurahan Kandang Panjang, Kota Pekalongan, yang dulunya gagal dipanen karena terendam air laut, kini justru menghadirkan pengalaman baru, yakni wisata mendayung kano sambil menikmati panorama matahari terbenam.
Wisata yang berada di kawasan Perumahan Korpri RSS itu lahir bukan dari proyek besar, melainkan dari ide sederhana seorang tenaga PPPK paruh waktu di DPUPR Kota Pekalongan, Thyas Agung (42). Berawal dari iseng menonton video di YouTube, ia kemudian nekat membeli dua unit kano dari Bali dengan modal sekitar Rp10 juta.
Tak disangka, konsep wisata yang memanfaatkan genangan rob tersebut langsung menarik perhatian masyarakat hingga viral di media sosial.
“Awalnya iseng lihat YouTube, terus kepikiran kenapa tidak dicoba di sini. Saya cari-cari harga kano, ternyata masih sesuai budget, akhirnya pesan dua perahu dari Bali,” kata Thyas saat dihubungi kanalplus.id, Rabu (22/7/2026).
Respons pengunjung di luar dugaan. Hanya dalam waktu singkat, jadwal penyewaan kano penuh. Bahkan calon pengunjung yang memesan hari itu baru bisa mendapat giliran sepekan kemudian.
Melihat tingginya animo, Thyas kembali menambah empat unit kano sehingga kini total tersedia enam perahu dengan nilai investasi sekitar Rp30 juta.
“Karena viral akhirnya booking membludak. Dulu kalau pesan hari ini, naiknya bisa minggu depan,” ujarnya.
Berbeda dengan wisata air pada umumnya, pengunjung bebas mendayung sendiri tanpa didampingi operator. Satu kano dapat dinaiki dua orang dewasa dan satu anak kecil. Seluruh penyewa juga dibekali jaket pelampung sehingga tetap aman meski berada di atas air.
Jika kondisi sedang lengang, Thyas bahkan ikut mengabadikan momen pengunjung melalui foto maupun video sebagai bonus layanan.
“Kalau ramai saya hanya mengawasi. Kalau sepi biasanya saya ikut memotret dan membuat video pengunjung,” terangnya.
Area wisata tersebut sebenarnya merupakan bekas persawahan yang mulai terendam rob sekitar tahun 2016 hingga sekarang. Kedalaman air rata-rata hanya sekitar satu meter sehingga relatif aman digunakan untuk aktivitas wisata.
Hamparan air yang luas, dipadukan dengan panorama langit sore, menjadi daya tarik utama. Sementara pada pagi hari, wisatawan bisa mendayung hingga mendekati kawasan mangrove.
“Kalau sore favoritnya menikmati sunset. Kalau pagi bisa keliling ke arah mangrove,” jelas Thyas.
Meski hanya membuka wisata ini sebagai usaha sampingan sepulang bekerja, jadwal operasional tetap disesuaikan. Pada hari kerja wisata dibuka mulai pukul 16.00 WIB hingga menjelang malam, sedangkan Sabtu dan Minggu beroperasi sejak pagi.
Tarif yang dipatok pun cukup ramah di kantong. Cukup membayar Rp20 ribu, pengunjung dapat menggunakan kano sepuasnya tanpa dibatasi waktu.
Menurut Thyas, konsep tersebut sengaja dipilih agar wisatawan bisa menikmati suasana tanpa terburu-buru, terutama bagi mereka yang ingin membuat konten media sosial.
“Kalau dibatasi waktunya kasihan, apalagi banyak yang datang buat foto atau bikin konten. Yang penting mereka puas,” ucapnya.
Meski peminat terus berdatangan, Thyas mengaku usahanya belum balik modal. Namun hal itu bukan menjadi persoalan utama.
“Belum balik modal. Yang penting harganya tetap terjangkau, banyak pengunjung dan usahanya berkah,” tuturnya.
Ke depan, ia bahkan bermimpi menghadirkan kedai kopi di tepi kawasan rob agar wisatawan bisa menikmati matahari terbenam sambil menyeruput kopi.
Salah seorang pengunjung, Renata (28) asal Kabupaten Batang, mengaku mengetahui wisata tersebut dari video yang berulang kali muncul di media sosial.
Rasa penasaran membuatnya datang bersama calon suaminya. Menurutnya, sensasi mendayung sendiri di hamparan air bekas sawah memberikan pengalaman yang berbeda dibanding wisata lain.
“Kita bisa menentukan sendiri jalurnya karena areanya luas sekali. Rasanya seperti mendayung di danau, padahal itu dulunya sawah yang terendam rob,” katanya.
Renata menilai tarif Rp20 ribu sangat murah dibanding pengalaman yang didapat. Ia bahkan berencana kembali membawa keponakannya karena satu kano dapat dinaiki tiga orang, termasuk satu anak kecil.
Ia juga mengaku merasa aman karena seluruh pengunjung diwajibkan mengenakan jaket pelampung.
“Sekarang pengin balik lagi sama keponakan. Pasti senang karena bisa mendayung sendiri dan sudah disediakan pelampung,” tukasnya.
Meski harus memesan lebih dulu dan menunggu antrean, menurut Renata hal itu sepadan dengan pengalaman yang diperoleh.
“Memang harus booking dulu karena peminatnya banyak, apalagi akhir pekan. Tapi tidak apa-apa, yang penting nanti keponakan saya gembira,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD










