KANAL KOTA – Tekanan inflasi di Jawa Tengah mulai mereda. Bank Indonesia mencatat Jawa Tengah mengalami deflasi sekitar 0,13 persen pada periode terakhir, sehingga inflasi tahunan turun dari 2,92 persen menjadi 2,6 persen.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, hampir seluruh wilayah yang menjadi pantauan inflasi menunjukkan penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah juga masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Namun, BI belum sepenuhnya bisa bernapas lega.
Sejumlah komoditas pangan yang harganya mudah bergejolak atau volatile food masih menjadi perhatian.
Komoditas tersebut antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, hingga beras.
“Inflasinya terkendali, tapi volatile food-nya kita masih perlu effort lebih lagi untuk menjaga supaya dia tidak meningkat terlalu signifikan,” kata Nunu, sapaan karib Mohamad Noor Nugroho di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, kenaikan harga pangan memiliki dampak yang luas karena langsung dirasakan masyarakat.
Kelompok masyarakat dengan pendapatan relatif tetap dinilai menjadi pihak yang paling rentan terdampak ketika harga kebutuhan pokok meningkat.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan melalui intervensi pemerintah dan TPID, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku konsumen.
BI mendorong masyarakat menerapkan prinsip belanja bijak, antara lain membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau menimbun bahan pangan.
Masyarakat juga didorong memanfaatkan alternatif bahan pangan olahan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas segar yang sangat dipengaruhi musim.
Salah satu contohnya adalah penggunaan cabai olahan sebagai alternatif cabai segar.
Dengan umur simpan yang lebih panjang, penggunaan produk olahan dinilai dapat membantu mengurangi tekanan harga yang muncul akibat faktor musiman.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












