KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Penghargaan yang diterima Prof. Dr. H. Ahmad Subagyo, SE., MM., CRBD., CSA., CRP., CDMP. pada peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat Jawa Tengah bukanlah cerita tentang sebuah malam seremoni. Bagi akademisi asal Kota Pekalongan itu, penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan panjangnya mengabdikan diri di dunia koperasi selama hampir 35 tahun akhirnya mendapat pengakuan dari gerakan koperasi itu sendiri.
“Ini bentuk apresiasi yang sangat berarti. Selama ini orang-orang yang bekerja membangun koperasi dari bawah sering kali tidak terlihat. Padahal banyak yang bekerja sungguh-sungguh tanpa menggunakan anggaran pemerintah,” ungkap Prof. Ahmad Subagyo kepada kanalplus.id, Sabtu (1/8/2026).
Pada malam puncak Harkopnas di Gedung Pusdiklat Kospin Jasa Pekalongan, Kamis (30/7/2026), DEKOPINWIL Jawa Tengah menetapkan Prof. Ahmad Subagyo sebagai Tokoh Penggerak Koperasi Bidang Akademik Tahun 2026. Ia menjadi satu-satunya akademisi yang masuk dalam daftar penerima penghargaan bersama tiga tokoh lainnya dari bidang keuangan, pemerintahan dan penegak hukum koperasi. Namun, perjalanan yang mengantarkannya menerima penghargaan itu ternyata dimulai jauh sebelum dirinya menjadi guru besar.
Prof. Subagyo mengaku mulai mengenal koperasi sejak masih berusia sekitar 18 tahun. Ketika masih menjadi mahasiswa, ia dipercaya memimpin koperasi mahasiswa. Sejak saat itu, koperasi bukan lagi sekadar organisasi ekonomi, tetapi menjadi jalan hidup yang terus ditekuninya.
“Kesadaran mencintai koperasi itu muncul sejak saya masih pelajar. Kalau dihitung sampai sekarang, ya hampir 35 tahun saya menggeluti koperasi,” ujarnya.
Setelah menjadi Ketua Koperasi Mahasiswa, kariernya berlanjut sebagai pegawai Kospin Jasa Pekalongan. Ketertarikannya terhadap koperasi kemudian membawanya memilih tema koperasi sebagai fokus penelitian akademik, baik saat menyusun tesis maupun disertasi.
Karena berkarier sebagai akademisi, kontribusi yang paling banyak ia hasilkan berasal dari dunia pendidikan dan literasi. Hingga kini ia telah menulis sekitar 32 buku, dengan sedikitnya 12 buku secara khusus membahas koperasi.
“Saya memang diminta panitia menjelaskan apa saja yang sudah dilakukan. Saya sampaikan, karena saya di dunia pendidikan, ya hasilnya buku-buku tentang koperasi,” katanya.
Namun kiprahnya tidak berhenti di ruang kuliah atau meja penelitian. Pada 2017, Prof. Subagyo mendirikan Yayasan Kemandirian Perkoperasian Indonesia (YAKKIN). Melalui lembaga itu, ia bersama timnya mendampingi koperasi-koperasi yang mengalami kesulitan berkembang, memberikan konsultasi manajemen, hingga membantu proses transformasi digital.
Ia bahkan mendirikan perusahaan teknologi informasi yang secara khusus mengembangkan sistem digital bagi koperasi. Perusahaan tersebut telah beroperasi lebih dari lima tahun dan digunakan untuk mempercepat digitalisasi koperasi di berbagai daerah.
“Kami membantu koperasi yang ingin berkembang, termasuk digitalisasi. Karena koperasi juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman,” paparnya.
Tidak hanya memberikan teori, Prof. Subagyo memilih membuat berbagai model koperasi sebagai proyek percontohan agar masyarakat dapat melihat langsung bagaimana koperasi modern bekerja.
Salah satunya adalah koperasi yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pengawasan OJK sebagai sesuatu yang menakutkan, padahal justru meningkatkan kepercayaan anggota.
Ia mencontohkan koperasi Kasuwari yang dibangun di kampung halamannya di Sidoarjo. Berawal dari aset sekitar Rp60 juta, koperasi tersebut kini telah berkembang dengan aset mendekati Rp3 miliar.
“Ternyata diawasi OJK itu justru membuat anggota semakin percaya. Dari aset sekitar Rp60 juta sekarang hampir Rp3 miliar,” bebernya.
Selain itu, ia mengembangkan koperasi berbasis pengelolaan sampah di Jatinangor, membangun model koperasi lintas perusahaan bagi para pekerja pabrik, hingga mengembangkan konsep Food Bank Indonesia yang ke depan juga akan berbasis koperasi.
Menurutnya, seluruh gagasan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mengembalikan koperasi sebagai gerakan gotong royong masyarakat.
“Usaha itu harus berbasis kekeluargaan dan gotong royong. Itu yang ingin terus kami bangun,” katanya.
Bagi Prof. Subagyo, penghargaan bukanlah garis akhir. Justru penghargaan menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia bahkan berseloroh bahwa dirinya akan terus ‘memprovokasi’ masyarakat agar mau membangun koperasi.
“Saya tidak boleh berhenti melakukan hasutan kepada orang lain untuk berbuat baik. Maksudnya mengajak masyarakat membangun koperasi, memperkuat gotong royong dan saling membantu,” tuturnya.
Ia juga mengakui, selama bertahun-tahun berbagai program pendampingan koperasi yang dilakukannya berjalan tanpa dukungan anggaran pemerintah. Meski demikian, semangat untuk membantu masyarakat tidak pernah surut.
“Yang memberi penghargaan kepada saya kali ini bukan pemerintah, tetapi gerakan koperasi sendiri. Menurut saya itu sangat bermakna, karena sesama pejuang koperasi saling menghargai. Minimal ada perhatian, ada dukungan moral agar orang-orang yang bekerja untuk masyarakat tetap bersemangat,” katanya.
Di sisi lain Ketua DEKOPINDA Kota Pekalongan, H. Basir, mengatakan penghargaan tersebut diberikan berdasarkan rekam jejak dan kontribusi nyata para tokoh dalam membangun gerakan koperasi.
“Prof. Ahmad Subagyo merupakan putra daerah Pekalongan yang kiprahnya sudah diakui secara nasional. Kontribusinya di bidang pendidikan, literasi, pendampingan hingga pengembangan koperasi modern menjadi alasan utama penghargaan ini diberikan,” tegasnya.
Penghargaan tersebut diserahkan pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kota Pekalongan. Meski demikian, bagi Prof. Ahmad Subagyo, penghargaan itu hanyalah satu titik kecil dari perjalanan panjang yang belum selesai.
Selama koperasi masih dibutuhkan masyarakat, ia memastikan akan tetap berada di barisan depan untuk mengembangkan gerakan ekonomi berbasis gotong royong yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama hampir tiga setengah dekade.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













