KANAL KOTA β Investasi masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Namun, kinerjanya pada triwulan II 2026 mulai menunjukkan perlambatan.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan investasi Jawa Tengah pada triwulan II mencapai 8,84 persen. Angka tersebut masih tergolong tinggi, tetapi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 9,61 persen.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, investasi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Keberadaan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus turut menjadi magnet investasi, termasuk investasi yang berasal dari luar Jawa Tengah.
βInvestasi itu merupakan tulang punggung ataupun faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Jawa Tengah,β ujarnya saat paparan Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) di Kota Pekalongan, kamis (13/8/2026).
Namun, perlambatan investasi pada triwulan II turut memberikan dampak terhadap sektor lain, terutama konstruksi. Pertumbuhan sektor konstruksi tercatat turun dari 8,5 persen menjadi 5,22 persen.
Menurut Nunu, sapaan karib Mohamad Noor Nugroho, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II sedikit lebih moderat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tumbuh 5,71 persen, melambat dari 5,89 persen pada triwulan sebelumnya.
Meski demikian, BI masih melihat pertumbuhan tersebut sebagai angka yang cukup solid.
Perkembangan investasi menjadi penting karena Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir terus mengandalkan masuknya investasi untuk memperkuat struktur ekonomi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menggerakkan sektor turunannya.
Karena itu, perlambatan investasi perlu dicermati agar tidak berlanjut dan memengaruhi sektor ekonomi lainnya.
Perlambatan investasi tersebut juga kemudian ikut tercermin pada sektor konstruksi yang pertumbuhannya turun dari 8,5 persen menjadi 5,22 persen.
Sementara sektor pertanian juga mengalami kontraksi. Kondisi ini dinilai berkaitan dengan faktor musiman karena periode panen raya telah berlalu.
βYang perlu kita waspadai adalah karena belum ada income dari panen, otomatis daya belinya mungkin agak sedikit tertahan di petani,β jelasnya.
Karena itu, meskipun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih tergolong solid, BI menilai perkembangan konsumsi dan daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian pada periode berikutnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












