KANAL KOTA — Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengingatkan NU agar tetap memegang prinsip dasar organisasi di tengah perubahan sosial dan dinamika politik yang berkembang.
Ulama yang akrab disapa Mbah Ubed itu menilai NU tidak bisa sepenuhnya terlepas dari pengaruh perubahan lingkungan, baik dari sisi politik, pemerintahan maupun budaya. Namun, perubahan tersebut menurutnya tidak boleh membuat NU kehilangan pijakan nilai yang selama ini menjadi dasar perjuangan organisasi.
“NU tidak bisa terpengaruh dengan keadaan yang sekitarnya. Ada pengaruh partai, ada pengaruh pemerintah, ada pengaruh budaya. Semuanya sudah berubah,” kata Mbah Ubed kepada wartawan usai menghadiri Haul KH Amirin Ke-27 di Jenggot, Kota Pekalongan, Sabtu (15/8/2026) malam.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang tersebut, salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan NU adalah perannya sebagai penjaga moral di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, NU harus terus menjaga dan menegakkan moral dengan mengacu pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Praktik-praktik yang dinilai tidak sesuai dengan nilai tersebut, kata dia, harus dikikis dan ditinggalkan.
“Jadi kita tetap harus memegang yang tidak bisa kita lepaskan di NU. NU sebagai penjaga moral. Penjaga moral ini harus selalu ditegakkan,” ujarnya.
Mbah Ubed juga menyinggung dinamika dan persaingan yang terjadi di internal maupun lingkungan NU. Menurutnya, persaingan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi cara yang digunakan tetap harus berada dalam koridor etika dan kehormatan.
Ia mengingatkan agar kepentingan maupun persaingan tidak menjadi alasan untuk menghalalkan berbagai cara.
“Mau persaingan kayak apa dan lain sebagainya, tapi harus tetap dengan cara-cara yang terhormat. Ora cara-cara sing halal, ora cara-cara sing haram,” tuturnya.
Lebih jauh, Mbah Ubed menilai akan menjadi sesuatu yang memalukan apabila dinamika NU justru bergerak keluar dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta keteladanan yang telah diwariskan para kiai dan pendiri NU.
Ia pun mengingatkan agar perubahan zaman tidak membuat NU kehilangan karakter dan prinsip yang selama ini menjadi fondasi organisasi.
“Sungguh sangat memalukan kalau dinamika itu sudah keluar dari jalur Ahlussunnah wal Jamaah dan apa yang telah dicontohkan oleh para kiai dahulu, para pendiri NU,” tegasnya.
Pernyataan ulama kharismatik tersebut kembali mengaskan bahwa di tengah perubahan politik, pemerintahan dan budaya, NU dinilai perlu tetap menjaga identitas serta fungsi moralnya. Bagi Mbah Ubed, dinamika organisasi tetap diperlukan, tetapi harus berjalan dengan cara-cara yang terhormat dan tidak meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan para pendahulu NU.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












