KANAL KOTA — Peringatan Maulidurrosulillah SAW dan Haul ke-27 KH Amirin bin Much Kurdi bin Abdul Halim bin KH Hasan di Jenggot, Kota Pekalongan, tidak hanya menjadi acara mengenang perjuangan pendiri Majelis Ta’lim Al Maliki tersebut.
Pimpinan Majelis Ta’lim Al Maliki sekaligus tuan rumah kegiatan, KH Muhammad Saifuddin Amirin, menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, nilai utama yang harus dibawa pulang adalah semangat mengamalkan ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pesan tersebut pernah disampaikan Presiden Soekarno dalam peringatan Maulid Nabi di Istana Negara yang didengarnya melalui rekaman kaset saat masih muda.
“Saya ingat betul dulu sekitar tahun 1985-1986, saya dipanggil Abah ke kamar dan diperdengarkan kaset. Ternyata suara Insinyur Soekarno ketika mengadakan Maulid di Istana Negara,” kenang KH Muhammad Saifuddin Amirin dalam sambutannya, Sabtu (15/8/2026).
Ia kemudian mengingat pesan Bung Karno bahwa peringatan Maulid Nabi bukan semata-mata kegiatan seremonial.
“Hal-hal seperti ini adalah seremoni. Paling besar adalah bagaimana mengamalkan, menjaga ajaran daripada Sayyidina Rasulullah SAW,” katanya.
Pesan tersebut, menurut KH Saifuddin, tetap relevan untuk menjadi bahan refleksi dalam setiap peringatan Maulid Nabi, termasuk kegiatan yang digelar Majelis Ta’lim Al Maliki.
Apalagi, kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan Haul ke-27 KH Amirin bin Much Kurdi, ayahanda KH Saifuddin sekaligus pendiri Majelis Ta’lim Al Maliki.
KH Amirin dikenal sebagai sosok ulama yang menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu, berdakwah dan membangun majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya.
Lahir di Jenggot pada 17 November 1946, KH Amirin berasal dari keluarga sederhana. Perjalanan keilmuannya ditempuh dengan berguru kepada sejumlah ulama, di antaranya KH Abdul Jamil bin KH As’ari bin KH Khomsah Landungsari dan KH Muhammad Sholeh Bagusan, Pemalang.
Dari Bagusan, KH Amirin kemudian melanjutkan pengembaraan keilmuannya hingga Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, di bawah asuhan KH Muslih bin Abdurrahman.
Selama menimba ilmu, ia memperoleh berbagai ijazah, sanad dan aurad dari sejumlah ulama, termasuk Syekh Yasin Al-Padani dari Makkah, KH Hamid Pasuruan, Habib Ali bin Ahmad Alatas serta sejumlah ulama sepuh lainnya.
Ketekunannya dalam mencari ilmu juga membawanya bersilaturahmi kepada banyak kiai sepuh. Setelah dianggap memiliki bekal keilmuan yang cukup, KH Amirin kemudian diminta kembali ke kampung halaman untuk meneruskan perjuangan dakwah di tengah masyarakat.
Di Jenggot, ia mendirikan majelis taklim yang kemudian berkembang dan memiliki banyak santri. Majelis tersebut menjadi salah satu warisan utama perjuangannya yang kemudian diteruskan oleh anak-anaknya.
KH Amirin wafat pada 18 Juli 1999 atau malam Jumat Wage sekitar pukul 00.00 WIB. Semangat dakwah dan keberadaan Majelis Ta’lim Al Maliki hingga kini terus dilanjutkan oleh generasi penerusnya.
Dalam sambutannya, KH Saifuddin juga menyampaikan apresiasi kepada para ulama, habaib, masyaikh, tokoh masyarakat dan seluruh tamu yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut sejumlah ulama dan tamu dari berbagai daerah maupun luar negeri turut hadir, di antaranya Syekh Ziyad Amar Al-Silawi dari Palestina, Syekh Ibrahim Al-Silawi dan Syekh Abdurrahman At-Tabusi dari Lebanon serta sejumlah habaib dan kiai dari berbagai daerah.
Turut hadir pula Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh, pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang, serta sejumlah ulama dan tokoh lainnya.
“Kami berterima kasih kepada para tamu undangan, para masyaikh, para kiai, para habaib. Dengan hadirnya para sesepuh ini, insyaallah kita mendapatkan barokah dan terutama syafaat Sayyidina Rasulullah SAW,” katanya.
KH Saifuddin juga memberikan penghargaan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan, termasuk mereka yang bekerja di balik layar.
Menurutnya, kontribusi sekecil apa pun dalam kegiatan tersebut tetap memiliki arti besar.
“Kami berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam acara ini, tenaganya, waktunya, pikirannya. Dari hal yang kelihatan kecil, tetapi itu adalah besar perannya. Semuanya insyaallah akan dibalas oleh Allah SWT,” tuturnya.
Menutup sambutannya, KH Saifuddin kemudian mempersilakan KH Ubaidillah Shodaqoh untuk memberikan tausiah kepada para jamaah.
Ia berharap nasihat dari salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama tersebut dapat menjadi penguat bagi jamaah dalam memaknai Maulid Nabi sekaligus mengenang perjuangan KH Amirin.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












