Mahasiswa IPB Tinggalkan Dua Solusi Sekaligus di Desa Tanjungsari: Bantu Petani Tingkatkan Produktivitas, Bangun Insinerator Atasi Sampah

- Jurnalis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Proses pembuatan insinerator oleh mahasiswa KKNT Inovasi IPB untuk mengatasi persoalan sampah di Desa Tanjungsari, Rabu (5/8/26). Foto : Dok Mahasiswa

Proses pembuatan insinerator oleh mahasiswa KKNT Inovasi IPB untuk mengatasi persoalan sampah di Desa Tanjungsari, Rabu (5/8/26). Foto : Dok Mahasiswa

KARAWANG, KANALPLUS.ID – Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University di Desa Tanjungsari, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, tak hanya berfokus pada sektor pertanian, tetapi juga menyasar persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi masyarakat. Melalui dua program unggulan, mahasiswa menghadirkan edukasi pertanian berkelanjutan sekaligus membangun fasilitas insinerator sederhana sebagai alternatif pengelolaan sampah desa.

Pemerintah Desa Tanjungsari mengapresiasi program yang dinilai menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Selain memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik dan pengukuran tingkat keasaman (pH) tanah kepada petani, mahasiswa juga membangun satu unit insinerator sederhana untuk membantu mengurangi praktik pembakaran sampah secara terbuka.

Sekretaris Desa Tanjungsari, Divky Alpian Pahmi, mengatakan program bertajuk Sahabat Tani yang dijalankan mahasiswa KKNT IPB memberikan pengetahuan praktis kepada kelompok tani mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik serta pemeriksaan pH tanah sebelum budidaya padi.

“Program ini memberikan pengetahuan kepada para petani di Desa Tanjungsari mengenai cara pembuatan pupuk organik serta pentingnya melakukan pengukuran pH tanah sebelum budidaya tanam padi,” ujarnya.

Menurut Divky, materi yang diberikan mudah dipahami karena tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga langsung dipraktikkan bersama petani dan mahasiswa di lapangan.

Ia berharap ilmu yang telah diberikan tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai, melainkan terus diterapkan dalam pengelolaan lahan pertanian.

“Semoga kebiasaan memanfaatkan pupuk organik dan mengecek kondisi tanah dapat membantu meningkatkan hasil panen di Desa Tanjungsari serta menjadi bekal yang bermanfaat bagi para gapoktan untuk diteruskan kepada anggotanya,” katanya.

Baca Juga :  34 Pilkades di Pekalongan Masuk Radar Pengamanan, Polisi Waspadai Politik Uang hingga Hoaks

Selain mendukung sektor pertanian, Tim KKNT Inovasi IPB University Karawang KAB01 juga menjalankan program LESTARI (Langkah Edukasi Sampah Terpadu untuk Lingkungan Asri) dengan membangun insinerator sederhana di area belakang Kantor Desa Tanjungsari pada 22 Juli 2026.

Program tersebut dilatarbelakangi belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) di desa sehingga sebagian masyarakat masih membakar sampah secara terbuka. Di sisi lain, volume sampah rumah tangga terus meningkat sehingga dibutuhkan alternatif pengelolaan yang lebih terkontrol.

Insinerator yang dibangun menggunakan material bata ringan (hebel) dengan ukuran sekitar 60 x 100 x 170 sentimeter. Pembangunan dilakukan melalui beberapa tahapan mulai dari survei lokasi, pembangunan fasilitas, uji coba operasional, sosialisasi penggunaan hingga serah terima kepada Pemerintah Desa.

Sebanyak delapan mahasiswa KKNT IPB bersama enam warga Desa Tanjungsari terlibat langsung dalam proses pembangunan fasilitas tersebut.

Tak hanya membangun sarana, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai prinsip kerja insinerator, standar operasional penggunaan, keselamatan kerja, pemeliharaan fasilitas, hingga jenis sampah yang dapat maupun tidak dianjurkan untuk dibakar.

Sampah yang dapat dimusnahkan menggunakan fasilitas tersebut meliputi plastik dan kemasan, kertas, kardus, styrofoam, kayu, serta tekstil. Sementara sampah organik, kaca, logam, keramik, popok, limbah elektronik, dan limbah berbahaya tidak dianjurkan dimasukkan ke dalam insinerator.

Ketua Kelompok KKNT Inovasi IPB University Karawang KAB01, Fadhil Hario Nugraha Gajah, mengatakan persoalan sampah di Kabupaten Karawang membutuhkan solusi yang dapat diterapkan hingga tingkat desa.

Baca Juga :  34 Pilkades di Pekalongan Masuk Radar Pengamanan, Polisi Waspadai Politik Uang hingga Hoaks

“Persoalan sampah di Kabupaten Karawang sudah menjadi tantangan yang cukup besar, dengan timbulan sampah mencapai sekitar 1.108,60 ton per hari. Melalui pembangunan insinerator sederhana ini, kami berharap desa memiliki alternatif pengelolaan sampah yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan berbagai hasil penerapan teknologi insinerator, volume sampah yang dibakar dapat berkurang sekitar 75 hingga 90 persen.

“Apabila diterapkan secara konsisten, fasilitas ini diharapkan mampu membantu mengurangi penumpukan sampah di tingkat desa sekaligus mengurangi praktik pembakaran terbuka yang selama ini masih dilakukan masyarakat,” katanya.

Seluruh rangkaian program telah selesai dilaksanakan. Luaran kegiatan meliputi satu unit insinerator sederhana yang telah melalui uji coba operasional, handbook penggunaan, sosialisasi kepada masyarakat, serta penyerahan fasilitas kepada Pemerintah Desa Tanjungsari.

Dengan kombinasi program di bidang pertanian dan lingkungan, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University berupaya meninggalkan dampak yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat, mulai dari peningkatan produktivitas lahan pertanian hingga terciptanya sistem pengelolaan sampah desa yang lebih tertata, bersih, dan berkelanjutan.

Penulis : Tim KKNT Inovasi IPB

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:47 WIB

Mahasiswa IPB Tinggalkan Dua Solusi Sekaligus di Desa Tanjungsari: Bantu Petani Tingkatkan Produktivitas, Bangun Insinerator Atasi Sampah

Berita Terbaru