Terungkap, Jukir yang Terlibat Keributan di Jalan Hayam Wuruk Bukan Nama dalam Surat Tugas Dishub

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kabid Lalu Lintas Dishub Kota Pekalongan Sugeng Hardi Widiyanto saat mendatangi lokasi kejadian jukir viral di Jalan Hayamwuruk yang diduga premanisme, Jumat (14/8/26).

Kabid Lalu Lintas Dishub Kota Pekalongan Sugeng Hardi Widiyanto saat mendatangi lokasi kejadian jukir viral di Jalan Hayamwuruk yang diduga premanisme, Jumat (14/8/26).

KANAL KOTA – Polemik juru parkir (jukir) yang terlibat keributan dengan pengemudi mobil di Jalan Hayam Wuruk, Kota Pekalongan, mengungkap fakta baru. Orang yang berada di lokasi saat kejadian ternyata bukan nama yang tercantum dalam surat tugas sebagai jukir resmi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pekalongan.

Fakta tersebut terungkap setelah Dishub melakukan penelusuran langsung ke lokasi untuk mengklarifikasi video yang sebelumnya viral di media sosial.

Kabid Lalu Lintas Dishub Kota Pekalongan, Sugeng Hardi Widiyanto, mengatakan titik parkir tempat kejadian memang merupakan lokasi parkir yang berada dalam pengelolaan resmi. Namun, petugas yang terlibat dalam insiden bukan orang yang namanya tercantum dalam surat tugas Dishub.

“Kaitan kami hanya dengan jukir yang ada di surat tugas kami. Kalau tidak, berarti sudah tidak ada kaitan dengan kami,” kata Sugeng kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, jukir yang namanya tercantum dalam surat tugas merupakan orang yang secara resmi bertanggung jawab di titik parkir tersebut. Dalam praktiknya, ketika jukir bersangkutan belum berada di lokasi, ada orang lain yang terkadang membantu menggantikan.

Orang yang terlibat dalam insiden viral tersebut disebut melakukan tugas pengganti atau dalam istilah setempat ‘nyulapi’.

“Dia nyulapi. Karena informasi yang kami dapat dari atas nama itu kan punya anak. Nah, anaknya itu setiap pagi sampai dengan jam 09.30 atau jam 10.00 tidak bisa, disulapi sama orang tersebut,” terang Sugeng.

Baca Juga :  Yayasan Tarbiyatuddunya Wal Akhiroh Medono dan Al Irsyad Pekalongan Jajaki Kolaborasi Dakwah hingga Pengolahan Sampah

Dishub menjelaskan, jukir resmi di lokasi tersebut sebenarnya memiliki surat tugas, rompi dan karcis. Namun, orang yang menggantikannya tidak tercantum sebagai personel dalam surat tugas.

Dengan demikian, keberadaan orang pengganti tersebut bukan berarti secara otomatis membuatnya menjadi jukir resmi Dishub.

Sugeng bahkan menegaskan bahwa pergantian personel semacam itu secara aturan tidak diperbolehkan.

“Kalau pergantian person kami hanya dengan nama yang ada di surat tugas,” katanya.

Meski demikian, Dishub mengakui terdapat persoalan praktis di lapangan. Ketika jukir resmi tidak berada di lokasi, titik parkir tetap membutuhkan orang untuk mengatur kendaraan.

Apabila tidak ada petugas sama sekali, kendaraan yang parkir berpotensi tidak tertata dan bahkan dapat mengganggu arus lalu lintas.

“Manakala tidak ada penggantinya juga memang ada risiko. Pada saat ramai seperti ini, tidak ada juru, tidak ada yang nata, ini juga berisiko kemacetan,” jelasnya.

Namun, kondisi tersebut tidak kemudian menjadi dasar bagi orang yang tidak tercantum dalam surat tugas untuk secara bebas mengambil alih tugas jukir resmi.

Dishub kini berencana memanggil pihak yang berkaitan dengan titik parkir tersebut untuk memberikan penjelasan dan memastikan mekanisme pengelolaan parkir berjalan sesuai ketentuan.

Sugeng mengatakan pihaknya tetap melakukan penelusuran karena kasus tersebut telah menjadi perhatian publik.

Baca Juga :  Diadang Aparat Gabungan, 150 Mahasiswa AMPERA Pilih Gelar 'Parlemen Jalanan', Berujung Kesepakatan dengan Wali Kota dan DPRD

Menurutnya, Dishub tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan video viral yang beredar di media sosial. Pihaknya juga telah meminta keterangan dari orang-orang yang berada di lokasi untuk mendapatkan gambaran kejadian secara lebih utuh.

“Kita mencoba mengklarifikasi satu sisi yang lain,” ujarnya.

Persoalan jukir pengganti menjadi penting karena titik parkir tersebut merupakan lokasi resmi. Namun, terdapat perbedaan antara status titik parkir dengan status orang yang bertugas di lokasi.

Titik parkir dapat berada dalam pengelolaan resmi, tetapi personel yang menjalankan tugas di lapangan tetap harus sesuai dengan surat tugas yang diterbitkan.

Sugeng menegaskan praktik orang lain menggantikan jukir resmi bukan sesuatu yang dilegalkan oleh Dishub.

“Kadang mungkin antara mereka saja. Yang jelas namanya di surat tugas kan tidak ada,” paparnya.

Ia mengatakan pihaknya hanya bertanggung jawab secara administratif terhadap jukir yang tercatat dalam surat tugas.

Meski demikian, ketika muncul persoalan di lapangan, Dishub tetap turun tangan untuk melakukan klarifikasi dan mencegah persoalan serupa kembali terjadi.

Kasus di Jalan Hayam Wuruk tersebut kini juga telah ditangani kepolisian. Dishub menyerahkan persoalan mengenai dugaan kekerasan maupun pihak yang dinilai bersalah kepada aparat penegak hukum.

Sementara dari sisi pengelolaan parkir, Dishub akan melakukan evaluasi agar mekanisme penugasan jukir tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mbah Ubed: NU Harus Tetap Jadi Penjaga Moral, Dinamika Jangan Keluar dari Khittah
Duduk Perkara Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Dikeroyok Bermula dari Cinta Lama yang Belum Usai
Polisi Memastikan Pendampingan Psikologis dan Keamanan Terhadap F Saat Kembali ke Sekolah
Kasus Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Berkelahi, Polisi Turun Tangan Cegah Perundungan Susulan dan Balas Dendam
Punya SOP Antikekerasan, SMPN 6 Pekalongan Akui Tak Ada CCTV di Lokasi Perkelahian
Berawal dari Persoalan Teman Wanita di WhatsApp, Siswa SMPN 6 Pekalongan Berkelahi di WC Sekolah Hingga Koma
Siswa SMPN 6 Pekalongan Sempat Koma, Dokter Ungkap Hasil CT Scan Kepala Korban
Siswa SMPN 6 Pekalongan Sempat Koma Usai Dihajar Tiga Teman, Kini Mulai Sadar
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:05 WIB

Mbah Ubed: NU Harus Tetap Jadi Penjaga Moral, Dinamika Jangan Keluar dari Khittah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Terungkap, Jukir yang Terlibat Keributan di Jalan Hayam Wuruk Bukan Nama dalam Surat Tugas Dishub

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:33 WIB

Duduk Perkara Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Dikeroyok Bermula dari Cinta Lama yang Belum Usai

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Polisi Memastikan Pendampingan Psikologis dan Keamanan Terhadap F Saat Kembali ke Sekolah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:43 WIB

Kasus Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Berkelahi, Polisi Turun Tangan Cegah Perundungan Susulan dan Balas Dendam

Berita Terbaru