Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ahmad Sinang (64) memamerkan hasil panen padi biosalin di lahan miliknya yang sebelumnya terendam rob selama lima tahun dan setelah campur tangan berbagai pihak hingga akhirmya bisa kembali ditanam, Kamis (13/8/26).

Ahmad Sinang (64) memamerkan hasil panen padi biosalin di lahan miliknya yang sebelumnya terendam rob selama lima tahun dan setelah campur tangan berbagai pihak hingga akhirmya bisa kembali ditanam, Kamis (13/8/26).

KANAL KOTA – Selama bertahun-tahun, Ahmad Sinang terbiasa mengolah sawah di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Bagi lelaki berusia 64 tahun itu, bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari kehidupan yang diwarisi dan dijalani selama bertahun-tahun.

Namun, rob mengubah semuanya. Air asin perlahan menggerus kemampuan lahan pertanian untuk menghasilkan padi. Sawah yang sebelumnya produktif harus berhenti digarap. Ahmad pun terpaksa mengubah mata pencaharian. Ia beralih dari petani menjadi pembudidaya ikan.

“Dulu saya petani. Karena kena rob, saya pindah ke budidaya ikan,” ujar Ahmad yang kini menjadi Ketua Kelompok Tani Degayu 3 kepada kanalplus.id, Kamis (13/8/2026).

Kawasan yang ditempatinya memang termasuk bagian terakhir di Degayu yang terdampak rob. Untuk lahan kelompoknya, aktivitas pertanian bahkan sempat berhenti sekitar lima tahun.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi seorang petani. Selama periode itu, Ahmad dan warga lainnya harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Sawah yang dahulu menjadi sumber penghidupan berubah fungsi menjadi lahan budidaya ikan.

Harapan untuk kembali menanam padi sebenarnya tetap ada. Tetapi ketika tanggul mulai berfungsi dan rumah pompa membuat genangan air berkurang, persoalan baru muncul.

Petani justru sempat bingung. Lahan memang kembali bisa digarap, tetapi biaya untuk mengembalikan sawah yang lama terbengkalai bukan perkara kecil. Ahmad mengaku para petani awalnya belum yakin untuk kembali bertani.

“Awalnya setelah tanggul laut jadi dan rumah pompa jalan, petani mau menggarap itu bingung. Biayanya banyak, takut habis,” katanya.

Keraguan itu perlahan berubah setelah muncul dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pertanian dan Pangan serta Bank Indonesia (BI) Tegal.

BI bersama sejumlah pihak kemudian membuat demplot atau lahan percontohan padi biosalin. Petani yang semula pesimistis mulai memperhatikan perkembangan tanaman tersebut. Awalnya hanya melihat. Kemudian mulai mendekat. Lalu ikut mencoba. Ahmad menjadi salah satu petani yang pertama berani mengambil langkah tersebut.

“Awalnya saya sendiri yang mencoba. Setelah dilihat, kok bisa, akhirnya yang lain ikut, ikut, ikut,” tuturnya.

Baca Juga :  Dari Kawasan Industri Menjadi Rumah Satwa, Buku Biodiversitas PLTU Batang Ungkap Hasil Penelitian Ekologi 13 Tahun

Keberhasilan demplot menjadi titik balik. Keraguan petani yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan rob mulai runtuh ketika mereka melihat sendiri tanaman padi dapat tumbuh di lahan yang sebelumnya dianggap sulit kembali menjadi sawah.

Kini, kelompok tani di kawasan Degayu mulai berkembang. Di kelompok Ahmad saja terdapat sekitar 21 anggota. Bagi Ahmad, perubahan itu terasa sangat personal. Lahan yang dulu menjadi sawah, kemudian berubah menjadi tempat budidaya ikan karena rob, kini kembali menghasilkan padi.

Ia sendiri menggarap lahan sekitar setengah hektare atau sekitar satu bahu. Dari lahan tersebut, panen dapat dilakukan dua kali dalam setahun.

“Alhamdulillah, panen terus, Mas. Setahun dua kali,” ucapnya bersemangat.

Yang lebih membuat Ahmad tersenyum adalah hasil ekonomi yang menurutnya lebih menjanjikan dibanding ketika menjadi pembudidaya ikan.

Selama menjadi petambak, ia harus menghadapi biaya pakan yang besar. Modal bahkan kerap berasal dari utang dan hasil panen kemudian digunakan untuk membayar biaya tersebut.

“Hasilnya ya Allah lah,” ujarnya sembari menggambarkan betapa tipis hasil yang diperoleh setelah berbagai biaya dikurangi.

Berbeda dengan pertanian padi yang kini kembali digelutinya. Dengan lahan sekitar setengah hektare, hasil panen disebut mencapai sekitar tiga ton. Dengan asumsi harga gabah sekitar Rp6.000 per kilogram, nilai hasil panennya dapat mencapai sekitar Rp18 juta sekali panen. Jika dua kali panen dalam setahun, nilai produksi kotor tersebut sekitar Rp36 juta.

“Alhamdulillah,” jawab Ahmad ketika ditanya apakah hasil tersebut cukup membantu kehidupan keluarganya.

Bagi seorang kepala keluarga yang memiliki empat anak dan tujuh cucu, kembalinya sawah bukan sekadar keberhasilan pertanian. Itu juga berarti kembalinya sumber penghidupan yang sempat hilang. Perubahan lingkungan akibat rob sebelumnya membuat sebagian warga Degayu mencari pekerjaan di luar daerah.

Ahmad menyebut ada petani yang akhirnya pergi mencari pekerjaan hingga ke wilayah lain karena tidak lagi dapat mengandalkan sawah. Kini, ketika sawah kembali bisa ditanami, muncul harapan baru. Warga yang sebelumnya meninggalkan kampung mulai memiliki alasan untuk kembali. Sawah tidak lagi dipandang sebagai lahan yang mustahil digarap, tetapi kembali menjadi sumber ekonomi.

Baca Juga :  Investasi Jateng Mulai Melambat, Sektor Konstruksi Ikut Terkoreksi

Ahmad pun mengaku kembali bangga menjadi petani.

“Senang,” katanya singkat ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah kembali bertani.

Ia bahkan memiliki keinginan untuk memperluas lahan garapan jika kesempatan memungkinkan.

“Kalau orang hidup itu ingin tambah terus,” ujarnya sambil tertawa.

Semangat tersebut bukan hanya muncul dari hasil panen. Ahmad mengatakan para petani juga terus mendorong satu sama lain agar semakin banyak lahan di kawasan tersebut kembali menjadi sawah.

Ada perubahan lain yang dirasakan Ahmad ketika kembali menjadi petani. Jika dahulu bertani identik dengan pekerjaan berat menggunakan cangkul dari pagi hingga sore, kini teknologi mulai masuk ke lahan pertanian Degayu.

Peralatan modern mulai diperkenalkan dalam pengolahan lahan. Bank Indonesia turut mendorong penggunaan teknologi tersebut sebagai bagian dari pengembangan pertanian.

“Sekarang sudah ada peralatan modern. Tidak seperti dulu, petani terkenal mencangkul dari pagi sampai sore,” terangnya.

Perubahan itu membuat pekerjaan petani menjadi lebih ringan dan efisien. Tantangan tentu belum sepenuhnya hilang. Setelah berhasil melewati persoalan rob dan salinitas, petani kini menghadapi gangguan lain, salah satunya serangan burung yang dapat mengancam tanaman menjelang panen.

Namun, bagi Ahmad, tantangan tersebut terasa berbeda dibanding masa ketika sawah benar-benar tidak bisa ditanami. Dulu ia harus menerima kenyataan bahwa sawahnya berhenti berproduksi dan beralih ke budidaya ikan.

Kini ia kembali berdiri di lahan yang sama sebagai petani. Lima tahun sawahnya beristirahat karena rob akhirnya berakhir. Di atas tanah yang dahulu ditinggalkan air asin, tanaman padi kembali tumbuh. Dan bagi Ahmad Sinang, bulir-bulir padi yang menguning bukan sekadar tanda musim panen. Itu adalah tanda bahwa kehidupan lama yang sempat hilang perlahan pulang kembali.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah
Kisah Pilu Ikin Sodikin Bertahan Setengah Abad Jualan Bendera Merah Putih, Kini Dikalahkan Belanja Online
Misteri Alas Pandawa Batang, Konon Dijaga Pasukan Gaib Putri Keraton hingga Kini
Pangdam Soroti Ironi Desa di Jawa Tengah Belum Punya Jembatan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat

Berita Terbaru