PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin menyoroti masih adanya kampung-kampung di Jawa Tengah yang terisolasi akibat tidak memiliki akses jembatan. Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat Pulau Jawa merupakan kawasan dengan tingkat pembangunan yang relatif maju.
Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan operasional 53 Jembatan Garuda Merah Putih di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang dipusatkan di Desa Galangpengampon, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Rabu (22/7/2026).
“Kita tinggal di Pulau Jawa yang sudah cukup maju. Tapi kalau masih ada kampung yang tidak bisa terkoneksi dengan kampung lain karena sungai atau akibat bencana alam, itu sesuatu yang miris. Ini harus segera kita atasi,” kata Achiruddin.
Menurutnya, persoalan keterisolasian desa tidak boleh dipandang sebagai masalah biasa karena berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Putusnya akses jembatan dapat menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga hubungan sosial antarwarga.
“Jangan sampai keluarga yang tinggal di kampung seberang menjadi sulit bersilaturahmi hanya karena tidak ada jembatan,” ujarnya.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian TNI adalah Desa Galangpengampon. Jembatan lama yang menghubungkan Dukuh Galang Wolu dan Dukuh Sibetok rusak diterjang banjir sehingga membuat akses warga terputus.
Melihat kondisi tersebut, Kodim 0710/Pekalongan bersama Kodam IV/Diponegoro membangun Jembatan Gantung Garuda Merah Putih melalui gotong royong bersama masyarakat.
“Awalnya masyarakat mengusulkan agar jembatan ini dibangun kembali karena aktivitas mereka terganggu setelah jembatan putus akibat banjir. TNI kemudian berupaya menyelesaikan persoalan itu,” jelas Achiruddin.
Jembatan sepanjang 60 meter dengan lebar 1,2 meter itu kini kembali menghubungkan dua dukuh yang sebelumnya harus memutar jauh untuk beraktivitas.
Achiruddin mengatakan pembangunan di Galangpengampon merupakan bagian dari program pembangunan 317 jembatan di wilayah Jawa Tengah dan DIY yang dilaksanakan TNI Angkatan Darat atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut mencakup pembangunan 156 jembatan gantung, 109 jembatan beton, 36 jembatan aramco, dan dua jembatan Bailey di wilayah-wilayah yang mengalami keterisolasian maupun terdampak bencana.
Hingga saat ini, lebih dari seratus jembatan telah selesai dibangun. Pada hari yang sama, sebanyak 53 jembatan diresmikan secara serentak, sementara sisanya masih dalam tahap pengerjaan.
Menurut Achiruddin, seluruh proyek tersebut mengedepankan semangat kemanunggalan TNI dan rakyat melalui sistem gotong royong.
Selain membuka akses antarwilayah, TNI juga menjalankan berbagai program sosial lain, seperti pembangunan sumur bor di daerah rawan kekeringan, pemasangan pompa hidram untuk pertanian, hingga rehabilitasi rumah tidak layak huni.
“Semua yang kami lakukan tidak untuk mencari imbalan. Ini merupakan kewajiban TNI membantu mengatasi kesulitan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” tegasnya.
Bagi Achiruddin, pembangunan jembatan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan langkah untuk memastikan tidak ada lagi warga di Jawa Tengah dan DIY yang terisolasi akibat putusnya akses penghubung. Menurutnya, selama masih ada desa yang terputus oleh sungai atau bencana alam, pekerjaan membangun konektivitas belum selesai.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












