Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pemuda Desa Kayugeritan sedang memasang bagian akhir dari bentangan kain merah putih sepanjang 200 meter di salah satu ruas jalan desa setempat, Sabtu (8/8/26).

Pemuda Desa Kayugeritan sedang memasang bagian akhir dari bentangan kain merah putih sepanjang 200 meter di salah satu ruas jalan desa setempat, Sabtu (8/8/26).

KANAL PEKALONGAN – Ada yang berbeda dari bentangan kain merah putih di Dukuh Rejosari, Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, tahun ini. Jika tahun sebelumnya kain merah putih membentang sekitar 350 meter, tahun ini panjangnya tinggal sekitar 200 meter.

Bukan karena semangat pemuda setempat ikut berkurang. Kain yang biasa dipasang menyambut Hari Kemerdekaan itu terpaksa dipendekkan karena sebagian kain lama sudah kusam dan warnanya memudar sehingga tidak lagi layak dipasang.

Di tengah kondisi ekonomi yang dirasakan masih sulit, para pemuda juga memilih tidak memaksakan diri menambah kain baru untuk mengembalikan panjang seperti tahun sebelumnya. Namun, bentangan sepanjang 200 meter itu tetap menjadi pemandangan mencolok di lingkungan mereka.

Kain merah putih menyerupai bendera terpanjang tersebut dipasang para pemuda pada 1 Agustus 2026 dan direncanakan tetap terpasang hingga 31 Agustus mendatang.

Ketua pemuda setempat, Muhammad Fahri Al Farizi (20), mengatakan pemasangan kain merah putih tersebut merupakan kegiatan swadaya pemuda yang sudah dilakukan selama dua tahun terakhir.

“Ini tahun kedua dan sudah dipasang sejak kemarin tanggal 1 Agustus,” kata Fahri kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).

Menurut dia, pemasangan dilakukan secara gotong royong. Para pemuda datang bersama-sama untuk memasang kain yang sebelumnya mereka persiapkan. Tidak ada anggaran pemerintah dalam pembuatan kain tersebut. Seluruh biaya berasal dari iuran para pemuda setempat.

Baca Juga :  PSEL Kota Pekalongan Selangkah Lagi Disetujui, Tinggal Bebaskan 0,8 Hektare Lahan

Untuk pembuatan kain tahun ini, dana yang dikeluarkan sekitar Rp2,5 juta. Jika ditambah biaya pemasangan, total kebutuhan mencapai sekitar Rp3 juta.

“Biayanya murni swadaya pemuda atau iuran pemuda,” ujarnya.

Bagi Fahri dan para pemuda setempat, kain merah putih tersebut bukan sekadar hiasan untuk memeriahkan bulan kemerdekaan. Bentangan kain itu menjadi simbol nasionalisme sekaligus cara sederhana anak-anak muda di lingkungan tersebut menunjukkan kecintaan mereka kepada Indonesia.

“Ini sebagai simbol nasionalisme pemuda sini, kami masih pertahankan. Rencananya mungkin tahun depan berbeda konsep,” terang Fahri.

Menariknya, sebagian besar pemuda yang ikut menyisihkan uang untuk kegiatan tersebut bekerja sebagai pegawai konveksi. Latar belakang pekerjaan itu pula yang membuat proses pembuatan kain dapat dilakukan secara cepat.

Bahan kain dibeli pada pagi hari, kemudian langsung dikerjakan. Para pemuda memotong dan menjahitnya sendiri hingga menjadi bentangan kain merah putih. Dalam waktu sehari, kain tersebut sudah selesai dibuat.

“Pagi beli bahan, langsung dieksekusi, langsung dijahit, dipotong, dijahit. Satu hari selesai,” jelas Fahri.

Dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya mudah, mereka memilih membuat bentangan sepanjang yang mampu mereka biayai. Tidak ada rencana memperpanjang kembali kain hingga 350 meter tahun ini.

“Sepertinya tidak ada. Karena sudah ada rencana tahun depan mau dibuat konsep yang lain,” katanya.

Baca Juga :  Kades Kalipancur Sebut Terduga Pelaku Kematian Perangkat Desa Sudah Diamankan Polisi

Keputusan itu bukan berarti kegiatan akan berhenti. Justru para pemuda mulai memikirkan konsep berbeda untuk menyambut kemerdekaan pada tahun berikutnya.

Bagi orang dewasa, bentangan kain merah putih tersebut mungkin hanya terlihat sebagai dekorasi lingkungan. Namun bagi anak-anak yang setiap hari melewatinya, kain itu memiliki cerita yang berbeda.

Salah satunya Bagus Setiawan, siswa kelas dua SD setempat. Bagus mengaku senang ketika berjalan di bawah bentangan kain merah putih tersebut.

“Seru,” jawabnya singkat ketika ditanya bagaimana rasanya jalan kampungnya di pasang kain merah putih sepanjang 200 meter.

Kain yang membentang di atas jalan itu juga membuat perjalanan terasa lebih nyaman karena memberikan sedikit perlindungan dari teriknya matahari.

“Enggak panas,” kata Bagus.

Ia mengaku cukup sering bermain di bawah bentangan kain tersebut. Bagi Bagus, keberadaan kain merah putih itu menjadi hal yang sudah menjadi tradisi tiap tahun.

“Iya, ada,” ujarnya ketika ditanya apakah setiap tahun ada pemasangan kain merah putih.

Kisah sederhana Bagus menunjukkan bahwa apa yang dikerjakan para pemuda ternyata tidak hanya menjadi simbol bagi mereka sendiri. Bentangan kain itu ikut menjadi bagian dari pengalaman anak-anak di lingkungan tersebut dalam mengenal suasana bulan kemerdekaan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah
Kisah Pilu Ikin Sodikin Bertahan Setengah Abad Jualan Bendera Merah Putih, Kini Dikalahkan Belanja Online
Misteri Alas Pandawa Batang, Konon Dijaga Pasukan Gaib Putri Keraton hingga Kini
Pangdam Soroti Ironi Desa di Jawa Tengah Belum Punya Jembatan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat

Berita Terbaru