Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Zaenal Mutaqin (24) petani muda asal Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, dengan bangga memamerkan hasil panen padi biosalin yang ia rawat bersama Kelompok Tani Degayu 2 menghasilkan panen yang melimpah, Sabtu (15/8/26).

Zaenal Mutaqin (24) petani muda asal Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, dengan bangga memamerkan hasil panen padi biosalin yang ia rawat bersama Kelompok Tani Degayu 2 menghasilkan panen yang melimpah, Sabtu (15/8/26).

KANAL KOTA — Bagi sebagian anak muda, sawah mungkin bukan tempat yang menarik untuk membangun masa depan. Namun pandangan itu tidak berlaku bagi Zaenal Mutaqin (24), pemuda asal Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Lulusan SMK jurusan otomotif tersebut justru memilih masuk ke dunia pertanian setelah menyelesaikan sekolah. Bukan sekadar membantu orang tua, Zaenal kini menjadi petani sekaligus Ketua Kelompok Tani Degayu 2.

Ia menggarap sawah di kawasan yang beberapa tahun sebelumnya nyaris kehilangan fungsi sebagai lahan pertanian akibat terus-menerus terendam rob.

Bagi Zaenal, keputusan menjadi petani bukan sebuah keterpaksaan. Ia melihat masih ada peluang untuk berkembang di sektor pertanian, terlebih setelah kondisi lahan di Degayu perlahan kembali memungkinkan untuk ditanami padi.

“Saya terjun ke petani itu karena mungkin saya masih bisa berkembang di sini,” kata Zaenal kepada kanalplus.id, Sabtu (15/8/2026).

Perjalanan Zaenal menjadi petani tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Wilayah Degayu yang kini kembali dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sebelumnya menghadapi persoalan rob cukup berat. Air laut berulang kali menggenangi sawah hingga kondisi lahan berubah drastis.

Air asin bahkan membuat sejumlah biota laut seperti ikan, udang dan kepiting dapat ditemukan di kawasan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga meninggalkan aktivitas bercocok tanam. Sawah yang tak lagi produktif kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ikan bandeng. Bagi Zaenal, kondisi itu sempat membuat harapan untuk kembali menjadi petani hampir hilang.

“Ini hampir tujuh tahun sawah tergenang air rob. Kayaknya sudah tidak ada kemungkinan untuk jadi sawah lagi,” ujarnya.

Ia menggambarkan kondisi kawasan tersebut seperti ‘kota mati’. Bukan hanya lahan pertanian yang terdampak, rob juga sempat masuk ke permukiman warga. Lahan pertanian pun sempat dibiarkan begitu saja.

Harapan mulai muncul setelah pembangunan tanggul pengaman rob selesai. Kondisi tanah secara perlahan berubah. Tanaman yang sebelumnya hanya tumbuh di daratan mulai kembali muncul di lahan tersebut.

Bagi Zaenal, tumbuhnya rumput dan tanaman darat menjadi salah satu tanda bahwa kondisi tanah mulai berubah. Kemudian, upaya mengembalikan lahan menjadi sawah diperkuat dengan pengembangan varietas padi yang mampu bertahan di lingkungan dengan kadar garam tinggi atau salinitas.

Varietas padi biosalin tersebut kemudian diuji dan dikembangkan di kawasan Degayu. Zaenal yang awalnya masih ragu akhirnya ikut menggarap kembali lahan tersebut.

Baca Juga :  Cara Warga Pekalongan Beri Pesan Menohok kepada Pemerintah dan DPRD, Bikin Gerakan Semen Rakyat Tambal Sendiri Jalan Kabupaten

“Awalnya masih ragu. Tapi setelah tanaman-tanaman darat mulai tumbuh, tanggul sudah jadi, kemudian ada demplot yang memberikan varietas tahan air asin, akhirnya ada kemungkinan lahan ini kembali ditanami,” ucapnya mulai optimis.

Keputusan untuk kembali menggarap sawah juga dipengaruhi alasan ekonomi. Dibandingkan budidaya bandeng, Zaenal menilai pertanian padi saat ini memiliki prospek yang cukup menjanjikan.

Dalam setahun, lahan pertanian dapat ditanami dua hingga tiga kali, tergantung kondisi. Hasil panen pun mulai menunjukkan perkembangan seiring kemampuan tanaman beradaptasi dengan kondisi lahan.

Pada panen awal, produktivitas lahan masih sekitar 4,5-5 ton per hektare. Hasil tersebut dianggap belum maksimal karena kondisi tanah masih dalam proses pemulihan setelah bertahun-tahun terendam rob. Namun, dari waktu ke waktu hasil dan kualitas tanaman disebut semakin membaik.

“Bibit yang masuk ke sini terus beradaptasi. Hasilnya pun sangat bagus,” bebernya.

Adapun tantangan tetap selalu ada. Salah satunya serangan hama tikus yang sempat membuat hasil panen turun. Gangguan burung juga pernah membuat salah satu musim tanamnya gagal.

Meski demikian, Zaenal tidak melihat persoalan tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan pertanian.

Ia mulai serius menggarap sawah sekitar 2023, ketika usianya baru 22 tahun. Saat itu, ia menggarap lahan seluas sekitar setengah hektare. Sebagian lahan merupakan milik keluarga, sementara lainnya merupakan lahan bengkok yang dikelolanya.

Keputusan tersebut mendapat dukungan dari orang tua yang juga masih aktif bertani. Namun, Zaenal menegaskan pilihan menjadi petani juga datang dari dirinya sendiri.

“Yang pertama dari orang tua, kemudian yang kedua saya sendiri,” ungkapnya.

Pilihan tersebut cukup menarik karena latar belakang pendidikannya justru tidak berhubungan dengan pertanian. Zaenal merupakan lulusan SMK Al-Fusha dan mengambil jurusan otomotif. Namun, ia tidak menganggap perbedaan bidang pendidikan dan pekerjaan sebagai persoalan.

Menurutnya, lingkungan keluarga dan kondisi sekitar turut membentuk keputusannya untuk masuk ke sektor pertanian. Dari hasil panen, Zaenal mulai merasakan manfaat ekonomi secara langsung. Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus disisihkan sebagai tabungan.

Untuk lahan sekitar setengah hektare, ia menyebut pendapatan bersih dalam sekali panen bisa mencapai belasan juta rupiah, tergantung hasil dan kondisi musim.

Baca Juga :  Pertemuan Rahasia Sejumlah Kepala Puskesmas Batang di Pekalongan Picu Kontroversi di Tengah Kasus Dana BOK

Jika kondisi normal memungkinkan tiga kali tanam dalam setahun, potensi pendapatan tersebut tentu bisa menjadi sumber penghasilan yang cukup menarik bagi anak muda.

Menjadi petani di usia muda ternyata tidak membuat Zaenal merasa minder. Justru sebaliknya, ia melihat profesi petani sekarang sudah jauh berbeda dengan gambaran masa lalu.

Modernisasi pertanian membuat pekerjaan di sawah tidak lagi identik dengan mencangkul dan mengandalkan tenaga manusia sepenuhnya.

Proses tanam sudah bisa menggunakan mesin transplanter. Saat panen, petani dapat menggunakan combine harvester. Bahkan penyemprotan tanaman dapat dilakukan menggunakan drone.

Peralatan tersebut membuat pekerjaan pertanian menjadi lebih efisien sekaligus menunjukkan bahwa sektor pertanian juga berkembang mengikuti teknologi.

“Kalau ditanya petani sekarang, petani itu keren,” kata Zaenal.

Menurutnya, modernisasi menjadi salah satu alasan generasi muda tidak perlu malu masuk ke sektor pertanian yang identik dengan cangkul dan lumpur.

“Karena didorong dengan alat-alat yang modern. Sekarang panen pakai combine, tanam pakai transplanter, bahkan penyemprotan padi menggunakan drone,” tuturnya.

Zaenal kini tidak berhenti pada lahan setengah hektare yang telah digarapnya. Ia memiliki rencana memperluas lahan pertanian secara mandiri hingga sekitar satu bau atau kurang lebih 7.400 meter persegi.

Rencana tersebut akan direalisasikan apabila kondisi cuaca mendukung. Jika hujan memungkinkan, pengolahan lahan akan dilakukan dalam waktu dekat. Jika belum memungkinkan, ia menargetkan awal tahun.

Keinginan memperluas lahan menunjukkan bahwa Zaenal tidak melihat pertanian sebagai pekerjaan sementara sembari menunggu pekerjaan lain. Sebaliknya, ia mulai melihat pertanian sebagai pilihan profesi dan sumber penghasilan jangka panjang.

Bahkan, ketika kelak berkeluarga, ia mengaku tetap terbuka menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan. Zaenal juga memiliki pesan bagi anak-anak muda yang masih menganggap pertanian sebagai pekerjaan kelas dua.

Menurutnya, kesulitan mencari pekerjaan seharusnya tidak membuat generasi muda menutup mata terhadap peluang di sektor pertanian. Ia menilai sektor pertanian masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan.

Apalagi, menurut Zaenal, kondisi saat ini cukup mendukung petani karena harga gabah dinilai menarik, sementara biaya pupuk lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Penggunaan mesin pertanian juga dapat mengurangi beban tenaga dalam proses produksi.

“Kalau mau hidup di sektor pertanian itu sangat luas,” tukasnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah
Kisah Pilu Ikin Sodikin Bertahan Setengah Abad Jualan Bendera Merah Putih, Kini Dikalahkan Belanja Online
Misteri Alas Pandawa Batang, Konon Dijaga Pasukan Gaib Putri Keraton hingga Kini
Pangdam Soroti Ironi Desa di Jawa Tengah Belum Punya Jembatan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat

Berita Terbaru