BATANG, KANALPLUS.ID – Di balik tradisi Nyadran Alas Pandawa yang rutin digelar warga Desa Kreyo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, tersimpan kisah legenda yang masih dipercaya sebagian masyarakat. Hutan yang kini menjadi lokasi ritual tahunan itu disebut-sebut sebagai tempat persembunyian seorang putri keraton yang diburu tentara Belanda, bahkan diyakini masih dijaga pasukan gaib hingga sekarang.
Tradisi Nyadran Alas Pandawa bukan hanya menjadi agenda sedekah bumi bagi warga Desa Kreyo. Lebih dari itu, ritual tersebut juga menjadi upaya menjaga cerita turun-temurun yang telah hidup selama ratusan tahun di tengah masyarakat.
Kepala Desa Kreyo, Suryoto, menuturkan asal-usul Alas Pandawa bermula ketika seorang putri keraton melarikan diri dari kejaran tentara Belanda. Bersama para pengawalnya, sang putri bersembunyi di sebuah hutan dan bertapa semalam suntuk agar lolos dari pengejaran.
“Setelah pagi hari, tentara Belanda sudah pergi ke arah selatan. Dari situlah kawasan itu kemudian dikenal sebagai Alas Siji atau Wonotunggal,” kata Suryoto, Kamis (23/7/2026).
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, sang putri akhirnya meninggal dunia di kawasan tersebut. Para prajurit yang mengawalnya memilih tetap tinggal dan tidak kembali ke keraton. Masyarakat setempat meyakini mereka kemudian ‘muksa’ dan hingga kini menjadi penjaga gaib Alas Pandawa.
Kepercayaan itu melahirkan berbagai mitos yang masih dikenal warga. Salah satunya, orang yang berniat jahat ketika memasuki Alas Pandawa diyakini akan mengalami kesialan.
Tak hanya itu, beredar pula cerita mengenai warga yang memiliki ciri ‘bertulang kuning’. Menurut kepercayaan masyarakat, mereka dipercaya menjadi calon prajurit gaib penjaga Alas Pandawa sehingga konon meninggal sebelum sempat menikah.
“Katanya tentara itu sampai sekarang masih berjaga, bahkan masih merekrut tentara baru. Itu cerita yang berkembang di masyarakat,” ujar Suryoto.
Terlepas dari berbagai kisah mistis yang menyelimuti kawasan tersebut, Nyadran Alas Pandawa tetap dimaknai warga sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa bersama memohon keselamatan.
Momentum itu juga menjadi ajang berkumpulnya warga lintas generasi. Dalam suasana penuh kekeluargaan, masyarakat berdiskusi mengenai berbagai persoalan desa, mulai dari lingkungan hingga pembangunan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo, menilai tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang penting karena mampu menjaga identitas lokal sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Menurutnya, tradisi seperti Nyadran Alas Pandawa tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, cerita rakyat, dan budaya daerahnya sendiri.
Hingga kini, perpaduan antara tradisi sedekah bumi, nilai gotong royong, dan kisah legenda yang menyelimuti Alas Pandawa membuat Nyadran di Desa Kreyo tetap menjadi salah satu tradisi budaya yang unik di Kabupaten Batang dan terus menarik perhatian masyarakat setiap tahunnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













