BATANG, KANALPLUS.ID – Kawasan penyangga PLTU Batang yang dahulu didominasi lahan terbuka kini berubah menjadi habitat baru bagi beragam satwa liar. Hasil penelitian selama lebih dari satu dekade mengungkap semakin banyak flora dan fauna yang kembali menghuni kawasan tersebut, mulai dari burung gelatik jawa, kepodang, elang, hingga burung-burung migran. Temuan itu dibukukan dalam Buku Biodiversitas yang diluncurkan dan dibedah di Aula Kantor Bupati Batang, Selasa (30/6/2026).
Peluncuran buku tersebut menjadi penanda perjalanan panjang pemantauan ekologi yang dilakukan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) bersama para peneliti terhadap kawasan penyangga PLTU Batang.
Selama kurun waktu sekitar 12 hingga 13 tahun, penelitian dilakukan secara berkala di area reforestasi, kawasan proyek, hingga wilayah pesisir Ujungnegoro-Sigandu yang menjadi bagian dari bentang ekosistem di sekitar PLTU.
External Relation Manager PT Bhimasena Power Indonesia, Dona Doni Putu Wignya, mengatakan upaya konservasi merupakan bagian dari komitmen perusahaan menjalankan pembangunan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, rehabilitasi lahan yang dilakukan tidak hanya sebatas memenuhi kewajiban dalam dokumen lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi keberlangsungan ekosistem.
“Kami menyediakan area reforestasi sebagai bentuk komitmen perusahaan. Bersama tim CSR dan masyarakat, kawasan itu terus kami rawat sehingga sekarang mulai terlihat hasilnya,” katanya.
Hasil pemantauan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Berbagai jenis tanaman yang ditanam mulai membentuk ekosistem baru sehingga menarik satwa liar datang secara alami.
Beberapa spesies bahkan tergolong memiliki nilai konservasi tinggi.
“Gelatik jawa, kepodang, kera ekor panjang, burung migran hingga beberapa jenis elang kini dapat ditemukan di sekitar kawasan proyek,” ujarnya.
Selain itu, jumlah spesies burung, kupu-kupu, dan capung juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bagi perusahaan, temuan tersebut menjadi indikator bahwa proses pemulihan lingkungan mulai berjalan.
“Ini menunjukkan upaya yang kami lakukan berada di jalur yang benar. Namun pekerjaan kami belum selesai karena pelestarian lingkungan harus terus dilakukan bersama masyarakat,” katanya.
Bukti Rehabilitasi Berhasil
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, menyebut Buku Biodiversitas memiliki arti penting karena menjadi bukti ilmiah sekaligus bukti administrasi bahwa perusahaan telah memenuhi komitmen rehabilitasi lingkungan.
Menurutnya, kawasan penyangga seluas sekitar sembilan hektare yang direhabilitasi kini mulai memperlihatkan fungsi ekologisnya.
“Buku ini menunjukkan bahwa Bhimasena tidak hanya membangun industri, tetapi juga melaksanakan komitmen melindungi dan memulihkan lingkungan,” sebutnya.
Heru berharap pendekatan serupa dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang menjalankan kegiatan industri di Jawa Tengah maupun daerah lain.
“Kalau semua perusahaan melakukan seperti ini, tentu kualitas lingkungan kita akan jauh lebih baik,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengusulkan agar kawasan rehabilitasi tersebut juga dimanfaatkan sebagai laboratorium alam.
Menurutnya, keberadaan berbagai jenis satwa dan tumbuhan akan jauh lebih bermanfaat apabila dapat diakses sebagai media pembelajaran bagi pelajar maupun mahasiswa.
“Kami ingin ada zona edukasi sehingga siswa bisa belajar langsung mengenal flora dan fauna di habitat aslinya. Mereka tidak hanya melihat gambar di buku, tetapi melihat langsung jenis-jenis satwa yang hidup di sana,” paparnya
Peneliti BRIN: Terjadi Suksesi Ekologi
Peneliti ekologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hidayat Ashari, menilai penelitian yang dilakukan memiliki kualitas ilmiah yang sangat baik karena dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka waktu panjang.
Ia menjelaskan peningkatan jumlah spesies menjadi tanda berlangsungnya proses suksesi ekologi, yakni proses alami ketika kawasan yang semula rusak perlahan pulih dan kembali dihuni berbagai makhluk hidup.
“Kalau spesies tanaman bertambah, spesies burung bertambah, kupu-kupu bertambah, berarti kawasan itu sedang mengalami pemulihan ekosistem,” bebernya.
Menurut Hidayat, kawasan rehabilitasi di sekitar PLTU Batang kini mulai menjalankan fungsi sebagai refugial area, yaitu tempat berlindung bagi satwa liar dari kawasan lain yang kualitas lingkungannya menurun.
Ia menjelaskan, kawasan seperti itu tidak harus berupa hutan yang masih alami. Selama tersedia pakan, vegetasi, dan rasa aman dari gangguan manusia, satwa akan datang dengan sendirinya.
“Kawasan ini menjadi menarik bagi satwa untuk tinggal. Kalau terus dilindungi, jumlah spesies akan semakin bertambah karena mereka merasa habitatnya aman,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa penelitian ini baru menjadi fondasi awal.
Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat kawasan tersebut mampu menarik begitu banyak satwa, sekaligus memastikan habitat tersebut tetap terjaga di tengah aktivitas industri.
“Ke depan yang perlu dikaji adalah mengapa kawasan ini begitu menarik bagi satwa. Itu akan menjadi dasar pengembangan konservasi berikutnya,” tutupnya.
Peluncuran Buku Biodiversitas ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi hasil penelitian, tetapi juga menjadi referensi bagi pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat dalam membangun model pembangunan yang mampu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












