PEMALANG, KANALPLUS.ID – Jalan Provinsi yang melintasi Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, berubah menjadi lautan pelayat. Ribuan warga berjalan kaki, sebagian mengendarai sepeda motor, mengiringi langkah terakhir Kepala Desa Pegiringan, Drs Sukandar, menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Pemandangan yang jarang terjadi itu direkam warga dan kemudian viral di media sosial. Dalam video berdurasi lebih dari satu menit terlihat terlihat iring-iringan manusia memenuhi ruas jalan hingga sejauh mata memandang. Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 63 ribu kali hanya dalam waktu kurang dari sehari.
Di balik ramainya prosesi pemakaman, tersimpan kisah tentang seorang pemimpin desa yang disebut warganya tidak pernah membeda-bedakan siapa pun.
Kasi Pemerintahan Desa Pegiringan, Slamet, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, ribuan pelayat yang hadir bukan hanya berasal dari Desa Pegiringan, tetapi juga dari desa-desa lain yang mengenal almarhum.
“Betul, itu terjadi Kamis siang. Kami benar-benar kehilangan sosok pemimpin sekaligus suri teladan,” ujar Slamet saat dihubungi, Jumat (31/7/2026).
Ia memperkirakan lebih dari dua ribu orang mengantar Sukandar ke pemakaman.
“Yang mengantar bukan hanya warga desa kami, tetapi juga dari luar desa. Mereka datang karena mengenal kebaikan almarhum,” katanya.
Sukandar meninggal dunia di usia 63 tahun setelah menjalani perawatan akibat sakit. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai pemimpin sederhana, religius dan mudah ditemui kapan saja.
Besarnya rasa kehilangan bahkan sudah terlihat sejak pelaksanaan salat jenazah. Masjid yang digunakan tidak mampu menampung seluruh jamaah sehingga sebagian warga terpaksa mengikuti salat dari halaman hingga area di luar masjid.
“Masjid penuh, jamaah sampai meluber ke luar. Itu menunjukkan betapa besar kecintaan masyarakat kepada beliau,” tutur Slamet.
Bagi warga Pegiringan, Sukandar bukan sekadar kepala desa. Sebelum dipercaya memimpin desa, ia lebih dulu mengabdi sebagai Sekretaris Desa. Ketika terpilih menjadi kepala desa, ia disebut tetap merangkul seluruh masyarakat tanpa melihat perbedaan pilihan politik.
“Beliau tidak pernah membedakan siapa yang dulu mendukung atau tidak. Semua dirangkul untuk membangun desa bersama,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, Sukandar juga dikenal taat beribadah. Menurut Slamet, almarhum rutin menjalankan puasa sunah setiap Senin dan Kamis.
Kepercayaan masyarakat terhadapnya pun masih sangat tinggi. Menjelang berakhirnya masa jabatan pada akhir 2026, banyak warga berharap Sukandar kembali maju dalam pemilihan kepala desa berikutnya.
Harapan itu kini tinggal kenangan. Ribuan langkah yang mengiringi perjalanan terakhir Sukandar seolah menjadi ungkapan terima kasih masyarakat kepada seorang pemimpin yang mereka nilai telah mengabdikan hidupnya untuk desa.
Di tengah riuhnya iring-iringan pelayat yang memenuhi jalan, masyarakat Pegiringan mengantar bukan hanya seorang kepala desa, tetapi juga sosok yang telah meninggalkan jejak di hati warganya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













