Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan arah pembangunan negara tidak harus selalu bergantung kepada visi dan misi presiden yang selalu berganti tiap periode, Senin (17/8/26). Foto: Istimewa

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan arah pembangunan negara tidak harus selalu bergantung kepada visi dan misi presiden yang selalu berganti tiap periode, Senin (17/8/26). Foto: Istimewa

KANAL YOGYAKARTA — Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan agar pembangunan Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada visi dan misi presiden yang berganti setiap periode. Menurutnya, pergantian kekuasaan melalui pemilu harus tetap berada dalam satu arah besar untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Pesan tersebut disampaikan Haedar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Ia menilai, 81 tahun perjalanan Indonesia telah menunjukkan bahwa pemerintahan boleh berganti, tetapi cita-cita kebangsaan tidak boleh ikut berubah.

Menurut Haedar, Indonesia bukan milik pemerintah, partai politik, kelompok ekonomi, maupun kekuatan tertentu. Indonesia merupakan milik bersama seluruh rakyat.

Karena itu, seluruh penyelenggara negara, mulai eksekutif, legislatif, yudikatif hingga lembaga negara lainnya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebijakan yang dibuat tetap mengarah pada tujuan nasional.

“Indonesia wajib dibawa menjadi bangsa dan negara yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagai tujuan nasional yang diletakkan oleh para pendiri bangsa dan termaktub dalam Pembukaan UUD 1945,” ujarnya.

Haedar melihat salah satu tantangan besar Indonesia pada era Reformasi adalah memastikan demokrasi dan pergantian pemerintahan tidak membuat arah pembangunan nasional terputus atau berubah secara berlebihan.

Menurut dia, visi dan misi yang lahir dari proses politik elektoral memang penting. Namun, setelah pemerintahan terbentuk, visi tersebut harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang memiliki kesinambungan dengan agenda nasional jangka panjang.

Baca Juga :  ‘Aisyiyah dan UNISA Yogyakarta Perkuat SOP Penanganan Kekerasan di Kampus

“Agenda strategis yang harus dipastikan ialah bagaimana visi dan misi hasil politik elektoral melalui serangkaian program dan kebijakan nasional menjadi proses pembangunan yang berkelanjutan untuk terwujudnya tujuan nasional,” jelasnya.

Ia menilai setiap pemerintahan tetap memiliki ruang untuk membuat program dan kebijakan baru. Namun, program tersebut harus memiliki nilai strategis, tepat sasaran, serta tidak semata-mata diarahkan untuk kepentingan politik jangka pendek.

Dengan demikian, pembangunan nasional tidak berhenti sebagai kumpulan program masing-masing pemerintahan, melainkan menjadi rangkaian panjang yang saling berkesinambungan.

Haedar juga mengingatkan seluruh pemegang mandat rakyat agar tidak terjebak pada keyakinan bahwa kekuasaan yang dimiliki dapat dijalankan tanpa mempertimbangkan suara masyarakat.

Menurutnya, demokrasi dan Pancasila harus menjadi landasan dalam penggunaan kekuasaan negara. Aspirasi masyarakat harus tetap menjadi bagian penting dalam proses pengambilan maupun pengawasan kebijakan.

“Di sinilah pentingnya aspirasi, pandangan, dan suara rakyat mengawal setiap pelaksanaan kebijakan dan langkah penting eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta lembaga pemerintahan lainnya,” tutur Haedar.

Ia menilai keterbukaan negara terhadap aspirasi publik akan memperkuat legitimasi sekaligus membantu memastikan kebijakan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Sebaliknya, semakin lebar jarak antara penyelenggara negara dan rakyat, semakin berat pula upaya Indonesia mencapai cita-cita nasional.

Baca Juga :  QurbanMu di Aplikasi MASA Kelola Ratusan Juta Rupiah Transaksi Kurban, Muhammadiyah Perkuat Layanan Digital yang Transparan

“Jangan sampai atas nama mandat rakyat setiap pihak berjalan sendiri-sendiri dan merasa mampu sendiri,” tegasnya.

Bagi Haedar, pekerjaan besar Indonesia setelah 81 tahun merdeka bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan ekonomi atau menjalankan agenda politik, melainkan memastikan kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Ia menempatkan keadilan sosial sebagai agenda strategis yang harus menjadi orientasi utama pembangunan nasional.

Menurutnya, kekuatan politik dan ekonomi yang dimiliki seseorang atau kelompok seharusnya digunakan untuk kepentingan bangsa, bukan justru menjadi alat untuk menguasai kehidupan bernegara.

“Mereka yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi mesti mau mengkhidmatkan diri sepenuhnya untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran rakyat,” kata Haedar.

Haedar kemudian mengajak masyarakat kembali mengingat gagasan para pendiri bangsa mengenai Indonesia. Ia merujuk pada pandangan Soekarno dalam sidang BPUPKI bahwa negara tidak dibangun untuk kepentingan satu orang ataupun satu golongan.

Gagasan tersebut, kata dia, tetap relevan di tengah dinamika politik dan ekonomi Indonesia saat ini.

Ia mengingatkan agar tidak ada kekuatan yang menjadi terlalu dominan hingga menguasai arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jangan sampai ada kekuatan apa pun yang dominan dan menguasai Indonesia, sehingga negara dan bangsa tercinta ini kehilangan jiwa utamanya, yakni Indonesia milik bersama,” tutup Haedar.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Kota di Indonesia dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak
Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal
10 Negara dengan Jumlah Profesor Terbanyak di Dunia, Indonesia Masuk?
Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia
Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal
Sehari Tembus Rp1,18 Miliar, Wastra Pantura Laris di KKI 2026
Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI
Haedar Nashir Soroti Media Sosial: Dulu Berita Dikurasi, Kini Semua Orang Bisa Merasa Paling Benar

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:10 WIB

10 Kota di Indonesia dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak

Sabtu, 26 September 2026 - 18:39 WIB

Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal

Kamis, 17 September 2026 - 06:10 WIB

10 Negara dengan Jumlah Profesor Terbanyak di Dunia, Indonesia Masuk?

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal

Berita Terbaru

Banyak Megapolitan global memiliki PDB melampaui negara maju yang notabene secara ekonomi melebihi negara berkembang. Foto: Ilustrasi AI

Ekonomi

Ketika Ekonomi Sebuah Kota Melampaui Negara

Jumat, 16 Okt 2026 - 06:10 WIB

Kolaborasi PLTU Batang dan DLHK Jawa Tengah menanam 1.300 bibit mangrove di Desa Denasri Kulon, Kamis (15/10/26). Foto: Istumewa

Batang

BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:21 WIB

Wakil Wali Kota Pekalongan Balqis Diab mengajak pelaku usaha batik untuk memperkuat digital marketing, Kamis (15/10/26). Foto: dok Pemkot Pekalongan

Kota Pekalongan

Pelaku Usaha Batik di Kota Pekalongan Diajak Perkuat Digital Marketing

Kamis, 15 Okt 2026 - 12:17 WIB