BATANG, KANALPLUS.ID – Kepulangan Gim Suyati (73), warga Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, setelah hilang kontak selama puluhan tahun di Malaysia menyisakan keprihatinan bagi pemerintah desa setempat.
Kepala Desa Adinuso, Ahmad Kuwat, mengaku bersyukur karena perempuan yang merantau sebagai tenaga kerja wanita sejak puluhan tahun lalu itu akhirnya bisa kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarganya.
Menurut Ahmad Kuwat, kasus yang dialami Gim Suyati menjadi pelajaran penting terkait lemahnya pendataan pekerja migran yang berangkat ke luar negeri melalui jalur PJTKI tanpa koordinasi dengan pemerintah desa.
“Iya, untuk Desa Adinuso memang banyak yang merantau ke luar negeri. Cuma untuk yang perempuan ini, Mbak Gim, memang sudah lama di Malaysia. Alhamdulillah hari ini sudah ketemu dan kembali ke tanah air Indonesia,” ujar Ahmad Kuwat di sela penyambutan kepulangan warganya, Kamis (14/5/2026). s
Ia mengatakan kepulangan Gim Suyati disambut hangat pemerintah desa maupun warga setempat. Bahkan pihak desa langsung bergerak membantu proses administrasi kependudukan perempuan lansia tersebut yang selama ini tidak memiliki identitas resmi Indonesia.
“Nanti langsung kita laksanakan bikin e-KTP. Permasalahannya selama di Malaysia Mbak Gim belum punya e-KTP Indonesia. Ini memang kesulitannya,” katanya.
Pemerintah desa berencana segera mengantar Gim Suyati ke kecamatan untuk melakukan perekaman data kependudukan agar status administrasinya kembali jelas sebagai warga Desa Adinuso.
“Insyaallah besok langsung kita fotokan ke kecamatan, nanti langsung kita jadikan biar dia resmi diterima kembali di Desa Adinuso,” ucapnya.
Di balik rasa syukur atas kepulangan Gim Suyati, Ahmad Kuwat juga mengungkapkan masih adanya warga Desa Adinuso lain yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah merantau ke Malaysia puluhan tahun lalu.
Salah satunya seorang warga bernama Darno yang disebut telah hilang kontak selama sekitar 32 tahun dan belum pernah kembali ke kampung halaman.
“Yang satu lagi ada Darno, warga Adinuso juga. Sampai sekarang belum pulang dan belum ada jejaknya,” beber Ahmad Kuwat.
Karena itu, pihak desa berharap kasus Gim Suyati bisa menjadi pintu pembuka untuk membantu warga lain yang mengalami nasib serupa di luar negeri.
Ahmad Kuwat mengaku pihaknya sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo yang sebelumnya ikut membantu proses kepulangan Gim Suyati dari Malaysia.
“Nanti kalau Pak Yoyok ada kesempatan ke Malaysia lagi, kami juga minta tolong supaya warga kami yang lain bisa dibantu pulang dan kembali ke keluarganya,” katanya.
Lebih jauh, Ahmad Kuwat menyoroti persoalan tata kelola pekerja migran yang menurutnya selama ini minim pelibatan pemerintah desa. Ia mengaku selama menjabat kepala desa sejak 2019, belum pernah ada warga yang berpamitan atau mengurus surat resmi ke desa sebelum berangkat bekerja ke Malaysia.
“Selama saya menjabat enam tahun lebih ini belum pernah ada warga yang mau ke Malaysia minta surat izin ke desa,” ujarnya.
Menurut dia, kebanyakan proses keberangkatan pekerja migran langsung ditangani pihak PJTKI tanpa koordinasi dengan pemerintah desa setempat.
“Betul, urusannya langsung sama PJTKI. Desa sering tidak diberi tahu,” katanya.
Akibatnya, ketika muncul persoalan seperti hilang kontak atau masalah dokumen di luar negeri, pemerintah desa kesulitan melakukan pendataan maupun membantu proses penanganan.
“Kalau ada kesulitan seperti ini akhirnya repot sekali,” ungkapnya.
Karena itu, Ahmad Kuwat berharap ke depan ada pembenahan sistem pendataan pekerja migran, terutama kewajiban pelaporan kepada pemerintah desa sebelum warga diberangkatkan ke luar negeri.
“Kalau bisa PJTKI itu melapor dulu ke desa. Jadi keluarga tahu, desa juga tahu. Kalau keluarga mengizinkan baru desa bisa mengizinkan,” tegasnya.
Kasus Gim Suyati sendiri menjadi perhatian publik setelah perempuan tersebut berhasil dipulangkan ke Indonesia usai hidup terlantar tanpa kewarganegaraan jelas selama 31 tahun di Malaysia.
Kepulangan perempuan asal Batang itu pun menjadi momen penuh haru yang tidak hanya dirasakan keluarganya, tetapi juga warga Desa Adinuso yang selama puluhan tahun mendengar kisah hilangnya Gim Suyati di negeri orang.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












