Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D. menyerahkan Kartu Wartawan Utama kepada Ketum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. di UMJ, Kamis (13/8/26). Foto : Istimewa

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D. menyerahkan Kartu Wartawan Utama kepada Ketum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. di UMJ, Kamis (13/8/26). Foto : Istimewa

KANAL JAKARTA – Pengakuan khusus diberikan Dewan Pers kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., melalui penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026.

Kartu tersebut diserahkan dalam kegiatan yang digelar di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Pemberian Kartu Wartawan Utama Khusus menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan tersebut. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kiprah, dedikasi dan pengabdian Haedar dalam dunia jurnalistik.

Haedar sendiri bukan sosok yang baru bersentuhan dengan dunia pers. Sebelum aktif memimpin Muhammadiyah, ia memiliki pengalaman sebagai wartawan dan pernah berkecimpung di Suara Muhammadiyah. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya selama puluhan tahun.

Momentum pemberian kartu itu kemudian beririsan dengan persoalan yang kini dihadapi dunia jurnalistik, yakni bagaimana mempertahankan kredibilitas informasi ketika teknologi digital, media sosial dan kecerdasan buatan membuat siapa pun dapat memproduksi serta menyebarkan informasi dalam hitungan detik.

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., menegaskan profesi wartawan tidak cukup dijalankan sebagai pekerjaan. Di tengah derasnya arus informasi, wartawan dituntut memiliki tanggung jawab, integritas dan kompetensi.

Menurut Komaruddin, tantangan terbesar bukan sekadar banyaknya informasi yang beredar, tetapi bagaimana masyarakat dapat memastikan informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia kemudian mengaitkan prinsip jurnalistik dengan tradisi Islam yang mengenal konsep tabayyun, yakni melakukan pemeriksaan atau verifikasi terhadap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

“Berita itu dalam tradisi Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayyun atau verifikasi,” kata Komaruddin.

Baca Juga :  Daftar Lengkap 50 Lokasi Salat Idul Adha Muhammadiyah di Kota Semarang 2026

Ia menjelaskan, tradisi verifikasi telah lama dikenal dalam sejarah transmisi pengetahuan Islam. Salah satunya terlihat dalam mekanisme sanad yang digunakan untuk menelusuri sumber dan memastikan keabsahan informasi.

Menurutnya, prinsip tersebut tetap relevan di tengah perubahan teknologi informasi. Masyarakat saat ini hampir tidak pernah lepas dari arus informasi karena telepon pintar membuat berbagai berita dan pernyataan dapat diterima kapan saja.

Dalam kegiatan yang sama, Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., mengingatkan posisi pers sebagai salah satu pilar penting demokrasi.

Ia menilai media memiliki fungsi strategis untuk mengawasi jalannya pemerintahan sekaligus memastikan kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol publik.

Pers adalah pilar keempat dari demokrasi. Tanpa media, tanpa pers, saya yakin demokrasi akan sulit berjalan dengan baik,” ujar Ma’mun.

Karena itu, ia berharap media tidak kehilangan fungsi kritisnya dan tetap menjalankan peran kontrol terhadap tiga cabang kekuasaan, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muchlas, M.T., menambahkan keberadaan pers bukan hal baru dalam perjalanan Muhammadiyah.

Menurut Muchlas, Muhammadiyah telah menerbitkan Suara Muhammadiyah sejak 1915. Setelah itu, lahir Suara ‘Aisyiyah serta berbagai media Muhammadiyah di tingkat daerah.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa media bagi Muhammadiyah bukan sekadar sarana menyampaikan informasi, melainkan bagian dari gerakan intelektual dan pencerdasan masyarakat.

“Jadi literasi itu telah menjadi bagian dari DNA gerakan Muhammadiyah,” tegas Muchlas.

Ia mengatakan perkembangan Muhammadiyah selama ini tidak hanya ditopang oleh gerakan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Tradisi membaca, menulis, berdiskusi dan menyebarkan pengetahuan juga menjadi bagian penting dari perkembangan organisasi tersebut.

Baca Juga :  Kemenag Dorong Guru Madrasah Jadi PPPK, Layani Lebih dari 18 Juta Siswa di Indonesia

Muchlas menilai pers dan literasi memiliki hubungan yang saling menguatkan. Media membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan literasi agar informasi dapat dipahami secara kritis. Sebaliknya, tradisi literasi membutuhkan media yang sehat untuk menyediakan ruang bagi pertukaran gagasan.

Selain menerima Kartu Wartawan Utama Khusus, Haedar Nashir menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk ‘Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama dan Semangat Kebangsaan’.

Dalam orasinya, Haedar menekankan bahwa pers memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi karena mampu menghadirkan informasi alternatif dan mengungkap realitas yang tidak selalu terlihat di ruang publik.

Ia mengingatkan bahwa pers harus mampu bekerja di antara kepentingan politik, modal, perubahan teknologi dan derasnya informasi media sosial.

Menurut Haedar, kondisi tersebut membuat pers justru semakin membutuhkan fondasi etik dan intelektual yang kuat.

Bagi Muhammadiyah, nilai agama juga tidak cukup berhenti pada ritual. Agama harus mampu memberikan makna, nilai, sekaligus arah bagi kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut, menurut Haedar, tercermin dari warisan KH Ahmad Dahlan yang menerjemahkan pemahaman keagamaan ke dalam gerakan nyata melalui pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan perempuan.

Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 akhirnya tidak sekadar menjadi agenda penghormatan terhadap sejarah pers Muhammadiyah. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali masa depan jurnalisme ketika masyarakat menghadapi banjir informasi, media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan.

Di tengah situasi tersebut, prinsip verifikasi, integritas, kompetensi, dan literasi menjadi semakin penting agar pers tetap dipercaya sebagai salah satu penjaga kualitas ruang publik dan demokrasi.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden
Haedar Nashir Soroti Media Sosial: Dulu Berita Dikurasi, Kini Semua Orang Bisa Merasa Paling Benar
Muktamar XVI Dibuka di Unimus, Tapak Suci Susun Arah Organisasi Menuju Kancah Dunia
Bukan Diserbu Impor, Kemenperin Sebut Turunnya Order Ekspor Jadi Pemicu Ancaman PHK 1.500 Buruh Garmen Jateng
Maruarar Klaim Akad Massal 62.710 Rumah Subsidi Jadi yang Terbesar, Tapera Ditantang Tembus 71 Ribu Unit
Menteri PKP Sebut Jawa Tengah Juara Nasional Program Rumah Subsidi
Menteri PKP Wajibkan Tiap Rumah Subsidi Tanam Satu Pohon
Sempat Beri Pujian, Maruarar Ledek Gubernur Ahmad Luthfi di Depan Prabowo: ‘Lagi Heboh, Banyak Memberikan Harapan kepada Perempuan Jawa Tengah’
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:07 WIB

Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:24 WIB

Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:59 WIB

Haedar Nashir Soroti Media Sosial: Dulu Berita Dikurasi, Kini Semua Orang Bisa Merasa Paling Benar

Jumat, 7 Agustus 2026 - 12:49 WIB

Muktamar XVI Dibuka di Unimus, Tapak Suci Susun Arah Organisasi Menuju Kancah Dunia

Selasa, 4 Agustus 2026 - 17:20 WIB

Bukan Diserbu Impor, Kemenperin Sebut Turunnya Order Ekspor Jadi Pemicu Ancaman PHK 1.500 Buruh Garmen Jateng

Berita Terbaru

Petugas Damkar Kota Pekalongan usai melakukan pendinginan kebakaran rumah di Desa Karangjompo, Selasa (18/9/26).

Kota Pekalongan

Kerugian Kebakaran Rumah di Pekalongan Ditaksir Rp30 Juta

Selasa, 18 Agu 2026 - 13:34 WIB