KANAL KOTA — Perusahaan ritel komputer dan perlengkapannya, ELS.ID, terus memperluas jaringan bisnis di Jawa Tengah. Setelah hadir di sejumlah kota seperti Yogyakarta, Solo, Purwokerto, Semarang, Madiun dan Tegal, perusahaan tersebut kini membuka cabang di Kota Pekalongan.
Direktur ELS.ID, Charles, mengatakan Pekalongan dipilih sebagai lokasi cabang karena dinilai memiliki aktivitas ekonomi yang cukup ramai serta berada di posisi strategis untuk memperkuat jaringan perusahaan di Jawa Tengah.
“Kalau ke Tegal kan kadang-kadang lewat sini, saya lihat kotanya ramai dan menarik,” kata Charles saat pembukaan toko, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, pembukaan gerai di Pekalongan juga bagian dari rencana jangka panjang ELS.ID untuk memperkuat jaringan hingga seluruh wilayah Jawa Tengah. Pekalongan dinilai berada di antara sejumlah kota yang sebelumnya sudah menjadi basis bisnis perusahaan.
“Impian kita bisa rapet di seluruh Jawa Tengah. Kemarin kita sudah di Semarang, kemudian Tegal, saya pikir tengah-tengahnya ada Pekalongan,” ujarnya.
Charles mengatakan pasar yang dibidik di Pekalongan tidak hanya berasal dari mahasiswa dan pelajar. Meskipun jumlah mahasiswa di Pekalongan dinilainya tidak sebesar Yogyakarta, sektor industri, pelaku usaha, perkantoran hingga masyarakat umum tetap menjadi pasar potensial.
Ekspansi tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan bisnis ELS.ID yang telah berlangsung sejak 1997. Hampir tiga dekade berkecimpung di bisnis penjualan laptop, komputer, printer serta berbagai perlengkapan dan aksesori, Charles menyebut konsistensi menjadi salah satu kunci perusahaan bertahan di tengah ketatnya persaingan.
“Kita kan sudah cukup matang, dari tahun 1997 sampai sekarang hampir 30 tahun. Pokoknya kasih yang terbaik ke konsumen,” ucapnya memberikan tips.
Ia menilai persaingan bisnis perangkat teknologi saat ini semakin ketat. Karena itu, ELS.ID tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga berusaha mempertahankan kualitas pelayanan dan memberikan kepastian kepada konsumen.
Charles mengatakan seluruh produk yang dijual ELS.ID merupakan produk baru. Selain itu, perusahaan menawarkan layanan purnajual yang menurutnya menjadi salah satu pembeda dengan toko komputer pada umumnya.
Salah satunya melalui layanan ELS Total Care. Konsumen yang membeli perangkat di ELS.ID dan mengalami kerusakan pada masa awal pemakaian tidak harus langsung berurusan dengan pusat layanan pabrikan.
“Kalau orang biasanya beli elektronik rusak ke service center. Kalau kita 14 hari bisa kita ganti. Namanya elektronik kan kita enggak tahu, walaupun baru bisa saja terjadi kerusakan di awal. Kita kasih jaminan 14 hari bisa ditukar baru,” jelasnya.
Untuk menarik konsumen Pekalongan, ELS.ID juga menyiapkan sejumlah promo selama masa pembukaan gerai. Salah satunya laptop yang harga normalnya disebut sekitar Rp4 juta ditawarkan dengan harga Rp2.999.000. Namun, promo tersebut hanya berlaku untuk 10 pembeli pertama.
Selain itu, tersedia potongan harga Rp250.000 selama periode pembukaan. Meski demikian, Charles menegaskan strategi perusahaan tidak semata-mata mengandalkan promo. Menurut dia, hal yang ingin dibangun ELS.ID adalah rasa aman dan kepercayaan konsumen dalam bertransaksi.
“Intinya yang kita berikan itu rasa aman. Kita kepengin orang yang beli di ELS.ID itu hoki, beruntung,” terangnya.
Ia mengatakan konsumen harus mendapatkan kombinasi antara harga, produk, pelayanan dan garansi yang baik.
“Pokoknya harga terbaik, produk terbaik, layanan terbaik, garansi terbaik. Kita yakin sekarang masyarakat butuh rasa aman dan tenang,” bebernya.
Gerai ELS.ID Pekalongan menyediakan berbagai kebutuhan teknologi, mulai dari laptop, komputer, printer hingga aksesori. Untuk laptop, tersedia sejumlah merek seperti Lenovo, Asus, Acer, HP, MSI, Axioo hingga Advance.
Charles menyebut kehadiran merek lokal juga mulai semakin mendapat tempat di pasar perangkat teknologi. Sementara untuk printer, tersedia merek seperti HP, Epson dan Canon. Produk aksesori seperti perangkat Logitech juga menjadi bagian dari pilihan yang tersedia.
“Produknya hampir semua lengkap. Printer juga ada, HP, Epson dan Canon. Produk Logitech dan aksesori juga lengkap,” promonya.
Berdasarkan penjualan perusahaan, Lenovo dan Asus saat ini menjadi dua merek laptop yang paling banyak diminati konsumen. Acer berada di posisi berikutnya, sementara produk dari merek lokal seperti Axioo dan Advance mulai menunjukkan perkembangan permintaan.
Charles mengungkapkan skala bisnis ELS.ID tercermin dari jumlah laptop yang terjual setiap tahunnya. Pada tahun sebelumnya, penjualan laptop perusahaan disebut mencapai lebih dari 60.000 unit.
“Kalau tahun lalu total laptop mungkin di atas 60.000 unit,” ungkapnya.
Dari jaringan yang dimiliki perusahaan, Yogyakarta masih menjadi pasar terbesar. Charles menyebut pangsa pasar ELS.ID di kota tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 persen.
Sementara jika dihitung untuk wilayah Jawa Tengah, perusahaan memperkirakan pangsa pasarnya berada di kisaran 30-35 persen.
“Kalau di Jawa Tengah, data terakhir sekitar 30 sampai 35 persen. Jadi seluruh Jawa Tengah, orang yang beli laptop di ELS.Id kira-kira sepertiga,” katanya.
Konsumen ELS.ID selama ini berasal dari berbagai segmen. Di Yogyakarta, pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu pasar utama. Selain itu, pelaku usaha kecil dan menengah, perkantoran serta institusi pendidikan, termasuk kampus, turut menjadi pelanggan.
Menariknya, segmen laptop dengan harga menengah justru menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari konsumen saat ini.
Charles mengatakan laptop di kisaran harga Rp8 juta hingga Rp10 juta menjadi segmen yang paling laris. Menurutnya, konsumen membutuhkan perangkat yang memiliki kemampuan cukup untuk menunjang pekerjaan tanpa harus membeli laptop kelas premium dengan harga puluhan juta rupiah.
“Rata-rata sekarang yang Rp8 sampai Rp10 juta itu yang paling laris,” tuturnya.
Segmen tersebut banyak digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha, konten kreator hingga konsumen yang membutuhkan perangkat untuk aktivitas produktif sehari-hari.
Menurut Charles, laptop dengan harga terlalu murah terkadang tidak mampu memenuhi kebutuhan kerja pengguna. Sebaliknya, laptop kelas Rp20 juta-Rp30 juta dianggap terlalu tinggi bagi sebagian besar konsumen.
“Enggak yang Rp30 juta, enggak yang Rp20 juta, tapi yang Rp10 jutaan itu paling laris sekarang,” ujarnya.
Charles juga mengakui kondisi ekonomi saat ini menjadi tantangan bagi bisnis perangkat teknologi. Kenaikan nilai dolar turut berpengaruh terhadap harga barang teknologi yang sebagian besar berkaitan dengan produk dan komponen global.
Di sisi lain, kenaikan harga barang tidak selalu diikuti dengan peningkatan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mencari cara agar produk tetap dapat dijangkau konsumen.
“Kalau kita lihat kondisinya secara negatif mungkin memang sulit. Dolar naik, otomatis harga-harga naik. Barang naik, sedangkan gaji belum tentu naik,” tukasnya.
Meski demikian, ia memilih tidak bersikap pesimistis. ELS.ID, kata Charles, mencoba menyediakan sejumlah pilihan pembayaran, termasuk fasilitas kredit, agar konsumen tetap memiliki akses terhadap perangkat teknologi yang dibutuhkan.
“Kita mencoba untuk tetap positif. Walaupun memang enggak gampang, kalau semua nglokro kan enggak baik. Masih harus ada yang semangat di tengah beratnya itu dan kita mau terus berkembang,” paparnya.
Charles mengatakan kinerja perusahaan sejauh ini masih berkembang dengan baik. Setelah membuka cabang di Pekalongan, ELS.ID masih memiliki target untuk memperluas jaringan ke sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah.
“Keinginannya seluruh Jawa Tengah rapet kita,” tegasnya.
Pembukaan cabang Pekalongan menjadi langkah terbaru perusahaan untuk mendekatkan akses konsumen terhadap produk teknologi sekaligus memperkuat posisi ELS.ID di pasar ritel laptop dan komputer di Jawa Tengah.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












