Jalur Disabilitas Tak Nampak Buka Peluang bagi Anak Talasemia di Batang Masuk Sekolah Negeri

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) mulai membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak penderita talasemia untuk mengakses pendidikan di sekolah negeri di Batang, Selasa (23/6/26). Foto : Ilustrasi AI

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) mulai membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak penderita talasemia untuk mengakses pendidikan di sekolah negeri di Batang, Selasa (23/6/26). Foto : Ilustrasi AI

BATANG, KANALPLUS.ID – Kebijakan terkini dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) mulai membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak penderita talasemia untuk mengakses pendidikan di sekolah negeri. Untuk pertama kalinya, penderita talasemia di Kabupaten Batang dapat memanfaatkan jalur afirmasi disabilitas fisik tak tampak dalam proses penerimaan siswa baru.

Kebijakan tersebut menjadi titik penting bagi keluarga penyandang talasemia yang selama ini kerap menghadapi tantangan saat mendaftarkan anak ke sekolah. Kondisi kesehatan yang mengharuskan transfusi darah rutin sering kali membuat kebutuhan khusus mereka belum sepenuhnya dipahami oleh lingkungan pendidikan.

Ahli Medis Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Batang, dr. Tan Evi Susanti, Sp.A., menjelaskan bahwa talasemia termasuk kategori disabilitas kronis yang tidak tampak secara fisik, tetapi berdampak pada aktivitas sehari-hari penderitanya.

“Anak dengan talasemia aktivitasnya terbatas dan membutuhkan transfusi darah secara berkala setiap dua hingga tiga minggu sekali. Karena itu talasemia termasuk disabilitas tak tampak yang bersifat kronis dan berlangsung dalam jangka panjang,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).

Baca Juga :  Didemo Warga, Legalitas Rumah Kos 30 Kamar di Batang Dipersoalkan

Menurut dr. Evi, pengakuan terhadap kondisi tersebut melalui jalur afirmasi menjadi langkah penting untuk memastikan anak-anak penderita talasemia memperoleh hak pendidikan yang setara.

Tahun ini, POPTI Batang mendampingi empat anak yang mengajukan surat keterangan medis sebagai syarat mengikuti jalur afirmasi. Dari jumlah tersebut, satu siswa jenjang SMA telah berhasil diterima melalui mekanisme tersebut.

Meski demikian, penerapan kebijakan serupa di tingkat SMP dinilai masih menghadapi tantangan karena belum banyak sekolah maupun orang tua yang mengetahui adanya fasilitas tersebut.

“Harapannya informasi ini bisa menjangkau lebih banyak sekolah, terutama SMP, sehingga anak-anak dengan disabilitas kronis tak tampak seperti talasemia juga memiliki kesempatan yang sama untuk diterima di sekolah yang mereka pilih,” katanya.

Manfaat kebijakan tersebut dirasakan langsung oleh Dian Widiastuti, salah satu orang tua penderita talasemia di Batang. Ia mengaku proses administrasi yang dijalani anaknya berjalan relatif lancar meskipun harus melengkapi sejumlah dokumen pendukung.

Baca Juga :  Dirazia Tim Gabungan, Ribuan Rokok Ilegal Gagal di Sembunyikan Pemilik Warung di Batang

Dokumen yang diperlukan antara lain surat keterangan dokter, surat psikolog, rekomendasi dari sekolah asal, hingga asesmen inklusi yang dilakukan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) sebelum diterbitkan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

“Alhamdulillah semua proses berjalan lancar. Dari rumah sakit sangat kooperatif dalam penerbitan surat keterangan kesehatan, kemudian asesmen inklusi juga bisa dilalui sesuai prosedur,” ungkapnya.

Dalam proses asesmen tersebut, calon siswa harus mengikuti sejumlah tahapan penilaian. Hasil asesmen biasanya diterbitkan dalam waktu tiga hingga lima hari kerja sebelum dikirimkan ke Cabang Dinas Pendidikan Provinsi.

Setelah seluruh tahapan dilalui, anak Dian akhirnya diterima di SMA negeri yang menjadi pilihannya melalui jalur afirmasi disabilitas.

Bagi keluarga penderita talasemia, keberhasilan tersebut bukan sekadar soal diterima di sekolah negeri. Kebijakan yang mulai mengakui talasemia sebagai disabilitas tak tampak dinilai menjadi langkah awal untuk menghapus hambatan administratif sekaligus stigma yang selama ini masih melekat pada anak-anak dengan penyakit kronis.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan
Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado
Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir
Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji
Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta
BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang
Kejari Batang Musnahkan Ratusan Barang Bukti dan Ajak Pelajar-Santri Deklarasi Perundungan
Kurangi Biaya Operasional Melaut, Puluhan Nelayan Roban Barat Batang Dilatih Perbaiki Mesin Perahu

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta

Berita Terbaru

Kesibukan kru dalam produksi film di sebuah studio besar. Foto: Ilustrasi AI

Hiburan

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:10 WIB