Protes ke Pemerintah, Peternak Pekalongan Siap Bagikan 500 Ayam Petelur Gratis ke Warga

- Jurnalis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 15:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ratusan peternak siap membagikan ayam petelur kepada masyarakat secara gratis di Alun-alun Kabupaten Pekalongan pada 10 Agustus besok sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan dan mengancam kelangsungan usaha, Minggu (9/8/26). Foto : Ilustrasi AI

Ratusan peternak siap membagikan ayam petelur kepada masyarakat secara gratis di Alun-alun Kabupaten Pekalongan pada 10 Agustus besok sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan dan mengancam kelangsungan usaha, Minggu (9/8/26). Foto : Ilustrasi AI

KANAL PEKALONGAN – Ratusan peternak ayam petelur berencana menggelar aksi membagikan sekitar 500 ekor ayam secara gratis kepada masyarakat di Alun-alun Kabupaten Pekalongan, Senin (10/8/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk protes peternak terhadap kondisi usaha yang dinilai semakin tertekan akibat tingginya biaya pakan, sementara harga telur di tingkat peternak masih jauh dari harapan.

Peternak ayam petelur asal Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, Kus Budianto (49), mengatakan ayam yang dibagikan merupakan ayam petelur hidup. Ayam tersebut nantinya dibagikan satu per satu kepada masyarakat agar kegiatan berlangsung tertib.

“Kurang lebih nanti ada 500 ekor ayam petelur akan kami bagikan gratis,” kata Kus kepada kanalplus.id, Minggu (9/8/2026).

Menurut Kus, persoalan utama yang mendorong aksi tersebut adalah kenaikan harga pakan yang tidak sebanding dengan harga jual telur.

Ia mencontohkan harga konsentrat yang sebelumnya sekitar Rp8.200 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp9.150 per kilogram. Sementara harga jagung yang menjadi salah satu bahan campuran pakan berada di kisaran Rp6.500 per kilogram.

“Kami sangat terbebani. Harga pakan melambung, sementara harga telur murah,” ujarnya.

Tekanan tersebut semakin terasa karena harga acuan pemerintah (HAP) telur disebut berada di kisaran Rp26.000 per kilogram. Sementara harga telur di tingkat peternak saat ini hanya sekitar Rp22.000 per kilogram, bahkan di sejumlah kondisi disebut bisa berada di kisaran Rp19.000-Rp21.000 per kilogram.

Dengan kondisi tersebut, peternak berpotensi mengalami kerugian hingga ribuan rupiah untuk setiap kilogram telur yang diproduksi.

HAP-nya kan Rp26.000, sekarang harga telur di kisaran Rp22.000. Berarti rugi sekitar Rp4.000,” ucapnya getir.

Baca Juga :  Pilu Ibu Hamil 4 Bulan di Pekalongan Gantung Diri, Dugaan Aksi Nekat Korban Dipicu Tagih Utang Tak Kembali

Kondisi tersebut menurutnya menjadi ironi ketika pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian telur di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram. Sebab, harga yang diterima peternak di lapangan belum mencerminkan angka tersebut.

Kus menilai persoalan bukan hanya berada pada harga telur, tetapi juga lemahnya penyerapan pasar. Produksi telur yang surplus tidak sepenuhnya terserap sehingga harga di tingkat peternak tetap tertekan.

“Produksi surplus, penyerapan pasarnya tidak maksimal,” terangnya.

Ia berharap penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berjalan lebih maksimal sehingga mampu membantu menyerap produksi peternak.

“Penyerapan dapur MBG saja belum maksimal. Kalau misalnya sudah maksimal, insyaallah kondisi harga bisa naik,” sebutnya.

Kus mengatakan kondisi peternak saat ini seperti berada di antara dua tekanan. Di satu sisi harga telur rendah, sedangkan di sisi lain biaya pakan terus meningkat.

“Sudah ada dua jepitan. Jepitan pertama harga telur murah, jepitan kedua harga pakan melambung,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi tersebut membuat sebagian peternak memilih melakukan afkir dini. Ayam yang masih dalam masa produksi terpaksa dikeluarkan dari kandang dan dijual karena biaya pemeliharaannya dinilai justru semakin memperbesar kerugian.

Menurut Kus, dalam kondisi normal ayam yang diafkir akan diganti dengan ayam yang lebih muda agar usaha terus berjalan. Namun, ketika harga telur tidak mampu menutup biaya produksi, sebagian peternak memilih tidak kembali mengisi kandangnya.

“Kalau harga tidak sesuai HAP, setelah afkir kandang bisa kosong. Mau mengisi lagi sudah bingung,” bebernya.

Ia menyebut cukup banyak peternak yang memilih ‘istirahat’ dari usaha setelah melakukan afkir dini. Kus sendiri masih menjalankan usaha peternakan dengan sekitar 4.000 ekor ayam petelur di Talun. Namun, ia mengakui tekanan biaya produksi membuat peternak berada dalam posisi sulit untuk mempertahankan usahanya.

Baca Juga :  Belum Ada Motif, Polisi Masih Tunggu Kesaksian Korban Selamat Ungkap Misteri Penusukan Maut di Tratebang

Aksi membagikan ayam gratis tersebut bukan dimaksudkan sebagai kegiatan sosial biasa. Peternak ingin menjadikan aksi itu sebagai pesan kepada pemerintah mengenai kondisi riil usaha ayam petelur di tingkat bawah.

Ayam yang dibagikan memang merupakan ayam petelur. Meski bukan jenis ayam yang umum digunakan sebagai ayam pedaging, Kus mengatakan ayam tersebut tetap dapat dimanfaatkan masyarakat untuk dikonsumsi.

“Ini ayam petelur, tetapi bisa diolah untuk dimasak seperti pada umumnya,” katanya.

Sebanyak 100 hingga 150 peternak disebut akan turun dalam aksi tersebut. Mereka akan membawa ayam untuk kemudian dibagikan langsung kepada masyarakat secara tertib.

Bagi peternak, membagikan ayam secara gratis menjadi simbol bahwa mempertahankan ternak dalam kondisi harga telur jauh di bawah biaya produksi justru berpotensi semakin memperbesar kerugian.

Mereka berharap pemerintah tidak hanya menetapkan angka HAP, tetapi juga memastikan harga tersebut benar-benar dapat dirasakan peternak di tingkat kandang.

Sebab, selama harga jual telur masih berada di bawah biaya produksi sementara harga pakan terus meningkat, keberlangsungan usaha peternakan ayam petelur dinilai semakin terancam.

Aksi di Alun-alun Kabupaten Pekalongan tersebut pun diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk melihat langsung persoalan yang dihadapi peternak, mulai dari mahalnya pakan, rendahnya harga telur hingga persoalan penyerapan produksi yang belum maksimal.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Percobaan Pembakaran Rumah di Pekalongan Gagal, Pemilik Pergoki Dua Pelaku Kabur
Mahasiswa di Pekalongan Ditemukan Tak Bernyawa di Posko KKN
Setelah Pikir-pikir Ketua Lindu Aji Pekalongan Putuskan Banding atas Vonis 6 Bulan Kasus Gacon
Ketua Ormas Lindu Aji Pekalongan Divonis 6 Bulan, Hakim Soroti Pihak Lain yang Disebut Punya Peran Lebih Besar
Disebut Menu Olahan Daging dan Ayam Basi Bikin Siswa Mual, Distribusi MBG di Karangdadap Disetop Sementara
Tiang Jaringan WiFi Roboh Timpa Rel, Perjalanan Kereta di Pekalongan Sempat Lumpuh
Polres Pekalongan Tegas Larang Kereta Kelinci Beroperasi di Jalan Raya, Nekat Bakal Ditindak
Investor Korea Selatan Laporkan Dugaan Kasus Perizinan ke Kejari Pekalongan, Mantan Kepala DPMPTSP Ikut Terseret
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:03 WIB

Dugaan Percobaan Pembakaran Rumah di Pekalongan Gagal, Pemilik Pergoki Dua Pelaku Kabur

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Mahasiswa di Pekalongan Ditemukan Tak Bernyawa di Posko KKN

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Setelah Pikir-pikir Ketua Lindu Aji Pekalongan Putuskan Banding atas Vonis 6 Bulan Kasus Gacon

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Ketua Ormas Lindu Aji Pekalongan Divonis 6 Bulan, Hakim Soroti Pihak Lain yang Disebut Punya Peran Lebih Besar

Minggu, 9 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Protes ke Pemerintah, Peternak Pekalongan Siap Bagikan 500 Ayam Petelur Gratis ke Warga

Berita Terbaru