KANAL KOTA — Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh atau akrab disapa Mbah Ubed menyampaikan kritik keras terhadap praktik korupsi dan pengelolaan kekayaan alam saat memberikan tausiyah dalam acara Maulidurrosulillah SAW dan Haul ke-27 KH Amirin bin Much Kurdi bin Abdul Halim bin KH Hasan di Jenggot, Kota Pekalongan, Sabtu (15/8/2026).
Mbah Ubed mengingatkan, peringatan Maulid Nabi, haul, sholawatan hingga berbagai majelis taklim seharusnya tidak berhenti sebagai ritual keagamaan. Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut harus mampu membentuk perilaku dan mendorong umat meneladani sifat Rasulullah SAW.
Ia mengawali tausiyah dengan mengajak jamaah memaknai tiga momentum yang berlangsung bersamaan, yakni Maulid Nabi, Haul KH Amirin dan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Maulidurrasul itu kita senang-senang. Proklamasi kemerdekaan senang-senang. Tapi kalau haul kan memperingati kewafatan, jadi susah-susah. Susah campur senang,” kata Mbah Ubed membuka tausiyah.
Menurutnya, suasana tersebut semestinya menjadi momentum untuk mencurahkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus kepada para ulama dan wali Allah.
“Pada malam ini kita curahkan mahabbah kepada Kanjeng Rasul Muhammad SAW, mahabbah kepada para wali dan ulama Allah. Yang jelas di sini banyak ulama yang hadir, juga sahibul haul Romo Kiai Amirin,” ujarnya.
Namun, Mbah Ubed kemudian mengingatkan bahwa rasa syukur dan kecintaan tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ia mencontohkan, salah satu bentuk syukur kepada Allah adalah dengan menjalankan amanah secara jujur, termasuk bagi para pejabat yang diberi tanggung jawab mengelola negara.
“Syukur kita kepada Allah ini harus kita buktikan. Umpamanya pejabat itu jujur-jujur, tidak ada korupsi, tidak ada penambangan liar,” tegasnya.
Mbah Ubed juga menyinggung besarnya potensi sumber daya alam Indonesia, mulai dari batu bara, nikel hingga minyak bumi. Menurutnya, kekayaan tersebut seharusnya dikelola dengan baik sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
“Ya Allah telah memberikan kemurahan kepada kita. Kira-kira kalau kita ini memanfaatkan gunung emas itu, apakah kita mampu memanage tambang batubara, nikel, minyak bumi dan lain sebagainya,” tanyanya.
Ia menilai pengelolaan kekayaan alam secara jujur dan bertanggung jawab dapat berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Mbah Ubed bahkan menyinggung persoalan warga yang mengalami tekanan ekonomi hingga mengambil keputusan ekstrem karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga maupun biaya pendidikan.
“Kalau kita jujur, pejabat kita jujur, maka tidak akan ada orang bunuh diri karena keberatan memberi makan anak-anaknya,” terangnya.
Ia menyebut persoalan serupa pernah terjadi di sejumlah daerah dan meminta jamaah tidak menganggap masalah tersebut sebagai sesuatu yang jauh dari tanggung jawab bersama.
“Ini semuanya adalah tanggung jawab kita,” tegasnya.
Mbah Ubed kemudian mempertanyakan efektivitas berbagai kegiatan keagamaan jika tidak diikuti perubahan perilaku.
Ia menyinggung banyaknya kegiatan pengajian, haul, pembacaan Al-Barzanji, burdah hingga sholawatan yang digelar masyarakat.
“Sudah banyak ritual-ritual yang demikian banyak itu mengingatkan kepada kita untuk memiliki sifat-sifat sebagaimana sifatnya Kanjeng Rasul yang empat itulah,” katanya.
Namun, ia menyayangkan masih adanya praktik pengkhianatan dan korupsi meski kegiatan keagamaan terus dilakukan.
“Apa kira-kira yang tukang korupsi itu tidak pernah ikut haul? Kira-kira tidak pernah ikut berjanjenan atau burdahan atau selawatan?,” tanyanya kepada jamaah.
Menurut Mbah Ubed, berbagai kegiatan keagamaan tersebut seharusnya menjadi sarana untuk terus mengingatkan manusia agar memiliki sifat terpuji sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Ia menyebut keberadaan Maulid, haul dan majelis taklim tetap penting karena menjadi ruang untuk mengingatkan umat secara terus-menerus.
“Alhamdulillah bagi kita yang terus-menerus mengingatkan diri kita, kita diingatkan dengan adanya maulidan, dengan adanya haul, dengan adanya majelis taklim-majelis taklim ini, insyaallah kita akan selamat,” tuturnya.
Mbah Ubed juga menyampaikan bahwa kegiatan untuk mengingat Allah dan Rasulullah tidak harus dibatasi hanya pada momentum tertentu.
“Misalnya saya diberi maulidan setiap hari, ya tidak apa-apa. Bukan Rabiul Awal kok maulidan, tidak apa-apa,” sebutnya.
Menurutnya, semakin sering seseorang mengingat Allah dan Rasulullah, semakin besar peluang dirinya untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki perilaku.
Dalam kesempatan tersebut, Mbah Ubed juga mengajak jamaah menumbuhkan kecintaan kepada para ulama, khususnya KH Amirin yang menjadi sahibul haul.
Ia menilai sosok ulama dan warisan majelis taklim memiliki peran penting dalam menjaga masyarakat agar tetap memiliki pegangan moral dan keagamaan.
“Tentu di sini majelis kita menambah mahabbah kepada ulama, terutama Romo Kiai Haji Amirin,” tukasnya.
Menutup bagian tausiyahnya, Mbah Ubed mengingatkan jamaah bahwa kehidupan manusia masih berada dalam fi khatarin ‘adzim, atau bahaya yang besar.
Peringatan tersebut menjadi pesan agar momen Maulid Nabi dan Haul KH Amirin tidak dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang untuk melakukan introspeksi, memperbaiki akhlak, menjaga amanah dan meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













