KANAL JAKARTA— Produk wastra asal wilayah eks-Karesidenan Pekalongan menunjukkan daya jualnya di pasar nasional. Baru sehari mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, sembilan UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal membukukan transaksi mencapai Rp1,188 miliar.
Nilai tersebut berasal dari 249 transaksi yang tercatat pada hari pertama penyelenggaraan KKI 2026, Kamis (20/8/2026).
Jika dihitung berdasarkan nilai dan jumlah transaksi tersebut, rata-rata transaksi mencapai sekitar Rp4,77 juta. Capaian ini menjadi salah satu indikator besarnya minat terhadap produk wastra dari wilayah Pantura Jawa Tengah yang dibawa ke pameran tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, mengatakan sembilan UMKM wastra binaannya mendapatkan respons positif dari pengunjung.
“Sembilan UMKM wastra mencatat total transaksi sebesar Rp1,188 miliar dari 249 transaksi. Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat pasar terhadap wastra daerah sekaligus memperlihatkan potensi UMKM eks-Karesidenan Pekalongan untuk terus naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Bimala, Jumat (21/8/2026).
Produk yang dibawa ke Jakarta tidak hanya menawarkan batik tradisional. Para pelaku UMKM menghadirkan beragam inovasi, mulai dari perpaduan batik dan tenun, penggunaan pewarna alami hingga pengembangan motif kontemporer.
Salah satunya Rumah Batik Cahyo yang membawa karakter batik Pekalongan dengan perpaduan motif klasik serta pengaruh budaya Tionghoa dan Arab.
Ada pula Batik Dudung yang dikenal melalui sejumlah inovasi motif kontemporer, salah satunya Parang Indonesia Raya. Pelaku usaha ini juga mengembangkan batik dengan pewarna alami sejak 1990.
Inovasi berbeda dibawa Zuki Batik Tenun. Produk yang dihasilkan menggabungkan batik tulis dengan tenun sulam bertekstur timbul menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Sementara Indigo Makers memilih mengembangkan batik dengan pewarna alami indigo. Konsep ramah lingkungan juga menjadi bagian dari produk yang ditawarkan Perada Batik.
Perada Batik memadukan motif klasik dengan desain modern dan melibatkan sekitar 350 hingga 400 perajin lokal dalam kegiatan produksinya.
Batik Rifaiyah Batang Ikut Unjuk Gigi
Produk dari Kabupaten Batang juga ikut dibawa dalam KKI 2026 melalui Batik Rifaiyah.
Berbeda dengan batik yang lebih mengandalkan pengembangan desain kontemporer, Batik Rifaiyah membawa identitas budaya dan nilai spiritual melalui motif serta teknik batik tulis tradisional.
Batik Rifaiyah Batang pada 2025 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Keberadaan berbagai karakter produk tersebut menjadi modal bagi UMKM wastra Pantura untuk memperluas pasar di luar daerah asalnya.
KKI 2026 sendiri diikuti lebih dari 550 UMKM secara langsung dan lebih dari 1.300 UMKM melalui pameran daring.
Ajang yang berlangsung 20-23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) itu juga dimanfaatkan untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli maupun mitra usaha melalui business matching.
Bank Indonesia melibatkan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis dalam penyelenggaraan KKI tahun ini. Selain perluasan pasar, program diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan dan digitalisasi UMKM.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pengembangan UMKM diarahkan pada tiga aspek utama, yakni bangkit, tangguh dan berdaya saing.
Menurutnya, daya saing tidak hanya ditentukan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga inovasi serta kemampuan menembus pasar domestik maupun ekspor.
“Berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” kata Destry.
Bagi sembilan UMKM wastra binaan BI Tegal, indikasi penerimaan pasar setidaknya sudah terlihat sejak hari pertama. Dengan transaksi menembus Rp1,18 miliar, produk batik dan wastra dari Pekalongan, Batang dan wilayah sekitarnya menunjukkan peluang untuk bergerak dari produk berbasis kekuatan lokal menuju pasar yang lebih luas.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













