KANAL PEMALANG – Sebuah ogoh-ogoh yang dibuat warga untuk memeriahkan karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, mendadak menjadi sorotan setelah karakter yang ditampilkan mengalami perubahan. Sebelumnya, ogoh-ogoh tersebut menampilkan sosok pria berkumis dengan rompi yang menyerupai rompi KPK dan kedua tangan diborgol. Karakter itu kemudian berubah menjadi sosok pria yang mengenakan kemeja.
Perubahan tersebut menjadi perbincangan setelah foto sebelum dan sesudah perubahan diunggah akun Instagram @inipemalang dan menyebar di media sosial.
Karakter dalam ogoh-ogoh tersebut juga dikaitkan warganet dengan sosok Bupati Pemalang nonaktif Anom Widiyantoro, yang saat ini tersangkut perkara korupsi dan telah diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Salah satu warganet yang mengaku berasal dari RT 18, Dusun Karangpoh, Desa Pulosari, bahkan menyebut adanya permintaan dari pihak kecamatan agar karakter tersebut diganti.
“Itu di RT saya min, pihak kecamatan langsung mendatangi rumah RT suruh diganti, kalau enggak diganti diancam enggak boleh ikut lomba karnaval,” tulis warganet tersebut dalam kolom komentar unggahan.
Namun, Camat Pulosari Arif Seno Aji membantah jika pihak kecamatan melarang warga menggunakan karakter tersebut.
Saat dikonfirmasi, Arif mengatakan persoalan itu bermula ketika Kepala Desa Pulosari dan panitia karnaval berkonsultasi kepadanya mengenai karakter ogoh-ogoh yang akan ditampilkan.
Menurut Arif, dalam konsultasi tersebut pihak kecamatan hanya mengingatkan agar penyelenggara tetap memperhatikan norma serta mengedepankan prinsip praduga tak bersalah.
“Kami awalnya semalam ada konsultasi dari kepala desa terkait ini via telepon. Kami jawab sesuai norma aturannya. Bahwa kedepankan prinsip praduga tak bersalah,” ujar Arif.
Arif menjelaskan, setelah adanya konsultasi tersebut, pemerintah desa bersama panitia kemudian memberikan edukasi kepada warga.
Dari proses tersebut, warga dan panitia akhirnya menyepakati perubahan tema karakter ogoh-ogoh yang sebelumnya sudah dibuat.
“Selanjutnya hasil edukasi dari kepala desa dan panitia menyepakati perubahan tema,” terangnya.
Arif menegaskan, perubahan tersebut bukan hasil dari larangan pihak kecamatan terhadap kreativitas warga.
Ia justru menduga munculnya narasi bahwa dirinya melarang ogoh-ogoh tersebut disebabkan adanya miskomunikasi ketika proses edukasi kepada masyarakat berlangsung.
“Mungkin saat edukasi Pak Kades nyatut nama saya, jadi terkesan saya yang melarang. Monggo, yang penting masyarakat senang,” ucapnya.
Menurut Arif, pihak kecamatan tidak memiliki kepentingan untuk menghalangi kreativitas masyarakat dalam memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Persoalan ogoh-ogoh tersebut mencuat ke publik bertepatan dengan pelaksanaan karnaval tingkat dusun di Desa Pulosari pada Sabtu (22/8/2026).
Karya warga RT 18 Dusun Karangpoh sebelumnya dipersiapkan sebagai bagian dari kreativitas masyarakat dalam memeriahkan karnaval HUT Kemerdekaan RI.
Namun, karakter sosok pria berkumis dengan rompi menyerupai rompi KPK dan tangan diborgol kemudian menjadi perhatian karena dinilai memiliki kemiripan dengan figur Bupati Pemalang nonaktif Anom Widiyantoro.
Belum diketahui secara pasti apakah karakter tersebut memang dimaksudkan sebagai representasi sosok tertentu. Hingga kini, pihak Kecamatan Pulosari menegaskan persoalan tersebut lebih berkaitan dengan edukasi mengenai norma dan prinsip praduga tak bersalah.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD














