PEMALANG, KANALPLUS.ID – Aktivitas perdagangan di Pasar Sayur dan Buah Pemalang tengah mengalami masa sulit. Dalam sepekan terakhir, hampir seluruh komoditas sayuran mengalami penurunan harga drastis seiring melemahnya permintaan pasar dan melimpahnya pasokan akibat panen raya di sejumlah daerah sentra produksi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga para pedagang grosir. Omzet turun, stok menumpuk, bahkan sebagian sayuran terancam membusuk karena tak kunjung terserap pasar.
Sandi (29), pemilik lapak Aretha Sayur di Pasar Sayur dan Buah Pemalang, mengatakan kondisi tersebut mulai terasa sekitar satu pekan terakhir. Menurutnya, hampir semua jenis sayuran mengalami penurunan harga.
“Rata-rata semua turun. Dari cabai, bawang merah sampai sayuran daun juga turun semua. Pasarnya memang lagi lemah,” ujarnya, kepada kanalplus.id, Sabtu (27/6/2026).
Salah satu komoditas yang mengalami penurunan paling tajam adalah labu siam. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp3.000 per kilogram, kini di tingkat eceran hanya berkisar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram. Harga dari petani bahkan hanya sekitar Rp300 per kilogram.
Tak hanya itu, harga buncis juga merosot dari sekitar Rp8.000 menjadi hanya Rp1.500 per kilogram. Sementara selada darat atau caisim yang sebelumnya sempat mencapai Rp24 ribu per kilogram, kini hanya dijual Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.
Menurut Sandi, banjir pasokan terjadi karena panen berlangsung hampir bersamaan di berbagai daerah penghasil seperti Wonosobo, Dieng hingga Jawa Barat.
“Semua wilayah panen raya, jadi stok melimpah. Sementara pembelinya justru berkurang,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, perputaran barang menjadi jauh lebih lambat. Jika biasanya sekitar 30 karung sayuran habis terjual dalam sehari, kini stok yang sama masih tersisa hingga tiga sampai empat hari.
“Biasanya satu hari habis, sekarang sudah tiga sampai empat hari masih banyak yang belum laku,” ungkapnya.
Ia mengaku banyak petani bahkan memilih membuang hasil panen karena harga terlalu murah dan tidak sebanding dengan biaya distribusi.
Di tingkat pedagang, situasi ini juga memukul omzet. Jika sebelumnya pengadaan barang dilakukan setiap hari, kini pembelian stok dikurangi menjadi dua hari sekali agar kerugian tidak semakin besar.
“Kalau dulu satu mobil sehari habis, sekarang satu mobil untuk dua hari. Omzet turun, tapi biaya karyawan tetap jalan,” jelas Sandi yang telah menekuni usaha tersebut selama sekitar 10 tahun.
Menurutnya, pada kondisi normal lapaknya mampu memperoleh omzet sekitar Rp1 juta per hari. Namun saat ini, target tersebut sulit dicapai.
“Sekarang enggak rugi saja sudah untung. Kebanyakan malah tetap rugi,” tukasnya.
Untuk mengurangi kerugian, ia memilih memangkas jumlah stok hampir seluruh komoditas yang dijual.
Selain dipicu panen raya, Sandi menilai melemahnya daya beli masyarakat juga dipengaruhi faktor musiman memasuki bulan Suro. Di sisi lain, berhentinya sementara permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah titik serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru turut membuat konsumsi sayuran menurun.
Meski demikian, ia menyebut kondisi seperti ini hampir selalu terjadi setiap tahun dan biasanya mulai membaik setelah bulan Suro berakhir.
“Kalau pengalaman tiap tahun memang ada siklus seperti ini. Biasanya habis Suro pasar mulai ramai lagi,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












