Pasar Sayur Pemalang Lesu, Stok Menumpuk dan Harga Sayuran Anjlok hingga 80 Persen

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 07:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Stok sayuran menumpuk di lapak Areha Sayur milik Sandi (29) di Pasar Sayur dan Buah Pemalang, Sabtu (27/6/26).

Stok sayuran menumpuk di lapak Areha Sayur milik Sandi (29) di Pasar Sayur dan Buah Pemalang, Sabtu (27/6/26).

PEMALANG, KANALPLUS.ID – Aktivitas perdagangan di Pasar Sayur dan Buah Pemalang tengah mengalami masa sulit. Dalam sepekan terakhir, hampir seluruh komoditas sayuran mengalami penurunan harga drastis seiring melemahnya permintaan pasar dan melimpahnya pasokan akibat panen raya di sejumlah daerah sentra produksi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga para pedagang grosir. Omzet turun, stok menumpuk, bahkan sebagian sayuran terancam membusuk karena tak kunjung terserap pasar.

Sandi (29), pemilik lapak Aretha Sayur di Pasar Sayur dan Buah Pemalang, mengatakan kondisi tersebut mulai terasa sekitar satu pekan terakhir. Menurutnya, hampir semua jenis sayuran mengalami penurunan harga.

“Rata-rata semua turun. Dari cabai, bawang merah sampai sayuran daun juga turun semua. Pasarnya memang lagi lemah,” ujarnya, kepada kanalplus.id, Sabtu (27/6/2026).

Salah satu komoditas yang mengalami penurunan paling tajam adalah labu siam. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp3.000 per kilogram, kini di tingkat eceran hanya berkisar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram. Harga dari petani bahkan hanya sekitar Rp300 per kilogram.

Tak hanya itu, harga buncis juga merosot dari sekitar Rp8.000 menjadi hanya Rp1.500 per kilogram. Sementara selada darat atau caisim yang sebelumnya sempat mencapai Rp24 ribu per kilogram, kini hanya dijual Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.

Baca Juga :  Tak Lagi Bergantung pada Ijazah, Kemendikdasmen Siapkan Pengakuan Kompetensi Lewat Microcredentials

Menurut Sandi, banjir pasokan terjadi karena panen berlangsung hampir bersamaan di berbagai daerah penghasil seperti Wonosobo, Dieng hingga Jawa Barat.

“Semua wilayah panen raya, jadi stok melimpah. Sementara pembelinya justru berkurang,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, perputaran barang menjadi jauh lebih lambat. Jika biasanya sekitar 30 karung sayuran habis terjual dalam sehari, kini stok yang sama masih tersisa hingga tiga sampai empat hari.

“Biasanya satu hari habis, sekarang sudah tiga sampai empat hari masih banyak yang belum laku,” ungkapnya.

Ia mengaku banyak petani bahkan memilih membuang hasil panen karena harga terlalu murah dan tidak sebanding dengan biaya distribusi.

Di tingkat pedagang, situasi ini juga memukul omzet. Jika sebelumnya pengadaan barang dilakukan setiap hari, kini pembelian stok dikurangi menjadi dua hari sekali agar kerugian tidak semakin besar.

Baca Juga :  Spesialis Bobol Atap Minimarket Dibekuk, Polisi Ungkap Jejak Aksi di 8 Lokasi

“Kalau dulu satu mobil sehari habis, sekarang satu mobil untuk dua hari. Omzet turun, tapi biaya karyawan tetap jalan,” jelas Sandi yang telah menekuni usaha tersebut selama sekitar 10 tahun.

Menurutnya, pada kondisi normal lapaknya mampu memperoleh omzet sekitar Rp1 juta per hari. Namun saat ini, target tersebut sulit dicapai.

“Sekarang enggak rugi saja sudah untung. Kebanyakan malah tetap rugi,” tukasnya.

Untuk mengurangi kerugian, ia memilih memangkas jumlah stok hampir seluruh komoditas yang dijual.

Selain dipicu panen raya, Sandi menilai melemahnya daya beli masyarakat juga dipengaruhi faktor musiman memasuki bulan Suro. Di sisi lain, berhentinya sementara permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah titik serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru turut membuat konsumsi sayuran menurun.

Meski demikian, ia menyebut kondisi seperti ini hampir selalu terjadi setiap tahun dan biasanya mulai membaik setelah bulan Suro berakhir.

“Kalau pengalaman tiap tahun memang ada siklus seperti ini. Biasanya habis Suro pasar mulai ramai lagi,” tutupnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bilik Liar Kembali Bermunculan di Pantai Cemoro Sewu, Satpol PP Pemalang Temukan Kondom dan Pasangan Bukan Suami Istri
Antisipasi Gagal Panen, Jateng Siapkan Perlindungan untuk 10.000 Hektare Sawah
Pemprov Jateng Siapkan Rp147,6 Miliar untuk Pertanian, Pemalang Kebagian Rp5,24 Miliar
Harga Gabah Pemalang Tembus Rp8.500/Kg, Tapi Sawah Terus Menyusut
Jaga Produksi Padi Pemalang, Ahmad Luthfi Bantu 200 Pompa dan 13 Paket Irigasi
Jateng Sumbang 15,6 Persen Gabah Nasional, Ahmad Luthfi Ingatkan Sawah Jangan Beralih Fungsi
Temuan Benda Mirip Belatung, MBG di SMA Negeri 1 Belik Pemalang Dihentikan Sementara
Ogoh-ogoh Mirip Bupati Pemalang Nonaktif Diubah, Camat Pulosari Bantah Melarang

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:40 WIB

Bilik Liar Kembali Bermunculan di Pantai Cemoro Sewu, Satpol PP Pemalang Temukan Kondom dan Pasangan Bukan Suami Istri

Kamis, 3 September 2026 - 11:48 WIB

Antisipasi Gagal Panen, Jateng Siapkan Perlindungan untuk 10.000 Hektare Sawah

Kamis, 3 September 2026 - 11:22 WIB

Pemprov Jateng Siapkan Rp147,6 Miliar untuk Pertanian, Pemalang Kebagian Rp5,24 Miliar

Kamis, 3 September 2026 - 10:57 WIB

Harga Gabah Pemalang Tembus Rp8.500/Kg, Tapi Sawah Terus Menyusut

Kamis, 3 September 2026 - 10:32 WIB

Jaga Produksi Padi Pemalang, Ahmad Luthfi Bantu 200 Pompa dan 13 Paket Irigasi

Berita Terbaru