KANAL OTOMOTIF – Dunia otomotif saat ini berdiri di persimpangan besar, yakni mobil konvensional masih menguasai jalan, mobil listrik baterai tumbuh paling cepat, sementara mobil hidrogen menempati jalur teknologi yang kecil tetapi strategis. Perbedaan ketiganya bukan hanya soal bahan bakar, melainkan juga sejarah panjang, infrastruktur, biaya, dan arah kebijakan iklim global.
Mobil konvensional: fondasi industri
Mobil modern pertama yang dikomersialkan bermula dari Benz Patent-Motorwagen karya Karl Benz pada akhir abad ke-19. Model Benz Patent-Motorwagen No. 3 kemudian diproduksi secara seri dan ditawarkan seharga 3.000 gold mark, menandai awal industri mobil bermesin pembakaran dalam yang dapat dijual ke publik.
Sejak itu, mobil bensin dan solar berkembang menjadi tulang punggung transportasi dunia karena bahan bakar mudah diisi, jaringan pom bensin tersebar luas, serta biaya produksi massal relatif rendah. Keunggulan inilah yang membuat mobil konvensional bertahan lebih dari satu abad dan menjadi standar mobilitas pribadi di hampir semua negara.
Kini, dari sekitar 1,6–1,65 miliar kendaraan bermotor yang beredar di dunia, mayoritas masih merupakan kendaraan berbahan bakar fosil. Jika hanya mobil penumpang yang dihitung, jumlahnya diperkirakan sekitar 1,4–1,5 miliar unit, sehingga mobil konvensional masih mendominasi sekitar 95% armada mobil penumpang global.
Namun dominasi itu mulai tergerus. Tekanan regulasi emisi, harga bahan bakar yang fluktuatif, dan target netralitas karbon mendorong produsen untuk mengurangi ketergantungan pada mesin pembakaran dalam. Meski demikian, mobil konvensional kemungkinan masih akan menjadi kendaraan utama di banyak negara berkembang selama satu sampai dua dekade ke depan, terutama karena harga kendaraan dan infrastruktur pengisian energi alternatif belum merata.
Mobil listrik: dari pionir yang kalah hingga kebangkitan
Mobil listrik sebenarnya bukan teknologi baru. Kendaraan listrik bertenaga baterai telah diuji sejak awal 1880-an, dan Baker Electric menjadi mobil listrik komersial pertama yang dijual pada 1899. Detroit Electric kemudian memproduksi lebih dari 13.000 unit antara 1907 dan 1939, menjadikannya salah satu mobil listrik paling sukses di era awal otomotif.
Pada awal abad ke-20, mobil listrik sempat populer karena tenang, mudah dikendarai, dan tidak memerlukan engkol manual. Tetapi kemajuan mesin bensin, harga bahan bakar yang murah, serta produksi massal mobil konvensional membuat mobil listrik kalah bersaing dan nyaris menghilang selama puluhan tahun.
Kebangkitan modern dimulai ketika baterai lithium-ion menjadi lebih murah, mobil listrik lebih terjangkau dan pemerintah mulai memberi insentif serta regulasi emisi. Hasilnya sangat nyata, penjualan mobil listrik global melampaui 17 juta unit pada 2024, tumbuh lebih dari 25% dibanding tahun sebelumnya dan mencakup lebih dari 20% penjualan mobil baru dunia.
Tiongkok menjadi pusat pertumbuhan tersebut. Dari 17 juta mobil listrik yang terjual pada 2024, lebih dari 11 juta unit terjual di Tiongkok, atau hampir separuh dari seluruh mobil baru yang dijual di negara itu. Eropa mempertahankan pangsa sekitar 20%, sementara Amerika Serikat mencatat pertumbuhan sekitar 10% dengan pangsa lebih dari satu dari sepuluh mobil baru.
Per 2025, armada mobil listrik ringan global diperkirakan mencapai sekitar 76 juta unit. Pertumbuhan ini juga ditopang infrastruktur: lebih dari 7 juta titik pengisian publik telah tersedia di dunia pada akhir 2025, setelah penambahan hampir 1,8 juta titik dalam satu tahun.
Potensi mobil listrik di masa depan sangat besar karena biaya baterai terus turun, pilihan model semakin beragam, dan banyak negara menargetkan penghentian penjualan mobil baru berbahan bakar fosil. Tantangan utamanya adalah ketersediaan listrik bersih, jaringan pengisian di wilayah padat dan pedesaan, serta pasokan mineral baterai seperti lithium, nikel, dan kobalt.
Mobil hidrogen: teknologi bersih yang masih kecil
Mobil hidrogen atau fuel cellelectric vehicle (FCEV) menghasilkan tenaga dari reaksi hidrogen dan oksigen di dalam sel bahan bakar, dengan emisi langsung berupa uap air. Ide kendaraan berbasis sel bahan bakar telah dikembangkan sejak pertengahan abad ke-20; Chevrolet Electrovan dari General Motors pada 1966 sering disebut sebagai kendaraan jalan raya pertama yang menggunakan sel bahan bakar.
Komersialisasi yang lebih serius baru terjadi pada abad ke-21. Honda meluncurkan FCX Clarity untuk disewakan di Jepang dan California Selatan pada 2008, sementara Hyundai menjadi produsen pertama yang memulai produksi massal mobil hidrogen melalui ix35 Fuel Cell pada 2013. Toyota kemudian memperkenalkan Mirai di Jepang pada 2014 sebagai mobil sel bahan bakar yang diproduksi dan dijual secara komersial.
Meski secara teknis menjanjikan, pasar mobil hidrogen tetap sangat kecil. Pada 2025, total armada FCEV global hanya mencapai hampir 130.000 unit, tumbuh 20% dari tahun sebelumnya. Penjualan baru pada tahun yang sama tercatat 16.011 unit, naik 24,4% dibanding 2024, tetapi jumlah itu masih sangat kecil dibanding penjualan mobil listrik yang melampaui 20 juta unit.
Tiongkok dan Korea Selatan menjadi motor utama pasar ini. Pada 2025, Tiongkok menjual 7.797 unit FCEV, terutama untuk truk dan bus, sementara Korea Selatan menjual 6.802 unit yang didorong kuat oleh Hyundai. Sebaliknya, Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat masing-masing hanya menjual ratusan unit pada tahun tersebut.
Potensi mobil hidrogen paling menonjol bukan pada mobil penumpang, melainkan pada sektor yang sulit dielektrifikasi secara langsung seperti truk jarak jauh, bus, kapal, kereta non-elektrifikasi, serta industri berat. Keunggulan utamanya adalah pengisian cepat dan jangkauan panjang. Namun, perkembangannya masih terhambat oleh harga hidrogen yang mahal, jumlah stasiun pengisian yang sangat terbatas, efisiensi energi yang lebih rendah dibanding mobil baterai, dan biaya kendaraan yang masih tinggi.
Arah masa depan
Masa depan otomotif kemungkinan tidak akan berakhir dengan satu pemenang tunggal. Mobil listrik baterai tampaknya akan menjadi pilihan dominan untuk mobil pribadi dan kendaraan perkotaan karena efisiensinya tinggi serta ekosistem pengisian berkembang pesat.
Mobil konvensional akan tetap ada dalam jangka menengah, terutama di pasar dengan harga kendaraan rendah dan infrastruktur listrik terbatas, tetapi pangsanya diperkirakan terus menyusut. Sementara itu, mobil hidrogen kemungkinan lebih cocok menjadi solusi pelengkap untuk transportasi berat dan jarak jauh, bukan pesaing utama mobil listrik di segmen mobil penumpang.
Dari sekitar 1,4–1,5 miliar mobil penumpang konvensional, 76–85 juta mobil listrik baterai/plug-in, dan sekitar 130 ribu mobil hidrogen, terlihat jelas bahwa transisi energi di sektor transportasi masih berada pada tahap awal. Namun arahnya sudah jelas, yakni electrification mendominasi jalan menuju mobilitas rendah emisi, sedangkan hidrogen menunggu waktu dan infrastruktur yang tepat untuk menemukan perannya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












