PEMALANG, KANALPLUS.ID – Meninggalnya Ahmad Al Fian (14), siswa baru SMP Negeri 4 Randudongkal, Kabupaten Pemalang, masih menyisakan banyak tanda tanya. Sebelum mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, remaja itu diketahui telah mengalami keluhan kesehatan selama hampir sepekan, mulai dari nyeri pada tangan, sesak napas hingga muntah darah.
Rangkaian kejadian tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban yang belakangan dikaitkan dengan dugaan perundungan di sekolah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, keluhan pertama muncul pada Senin (27/7). Saat itu Al Fian mengeluhkan tangannya sakit, badannya tidak enak, serta merasa sesak napas. Orang tuanya kemudian membawanya ke Puskesmas.
Di puskesmas, dokter menyarankan agar korban menjalani pemeriksaan rontgen karena ditemukan pembengkakan pada tangan disertai keluhan sesak napas. Namun, saran tersebut tidak dilanjutkan dan korban hanya menjalani pengobatan jalan.
Kondisi Al Fian terus memburuk. Pada Jumat (31/7/2026), keluarga kembali membawanya ke IGD RS Muhammadiyah Mardhatillah Randudongkal. Namun karena ruang IGD saat itu penuh, korban tidak sempat mendapatkan penanganan dan akhirnya dibawa pulang.
Sehari berselang, Sabtu (1/8/2026), kondisi korban semakin mengkhawatirkan. Al Fian dilaporkan sempat muntah darah di rumah. Meski demikian, saat itu ia belum kembali dibawa ke rumah sakit.
Pada hari yang sama, guru Bimbingan Konseling (BK) bersama guru olahraga SMPN 4 Randudongkal sempat menjenguk Al Fian di rumah.
Kepala SMPN 4 Randudongkal, Indah Palupi, mengatakan saat dikunjungi kondisi siswanya masih bisa berjalan dan berkomunikasi, meski lebih banyak diam.
“Guru BK dan guru olahraga datang ke rumah. Saat itu anaknya masih bisa ditemui dan diajak bicara, hanya memang lebih banyak diam. Tidak terlihat ada memar ataupun luka yang diperlihatkan kepada kami,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Menurut Indah, saat kunjungan tersebut pihak keluarga hanya menyampaikan korban mengalami sakit di bagian pundak dan menduga keluhan itu akibat terjatuh ketika mengikuti pelajaran olahraga.
“Informasi muntah darah justru kami ketahui setelah anak tersebut meninggal dunia. Sebelumnya tidak pernah disampaikan kepada sekolah,” katanya.
Kondisi Al Fian akhirnya benar-benar kritis pada Minggu (2/8/2026). Sekitar pukul 17.00 WIB, keluarga kembali membawanya ke RS Muhammadiyah Mardhatillah Randudongkal.
Korban langsung mendapat perawatan intensif di ruang ICU. Namun upaya medis tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Al Fian dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 19.30 WIB.
Jenazah sempat dibawa pulang ke rumah duka di Desa Sumingkir, Kecamatan Randudongkal. Keesokan harinya, jenazah kembali dibawa ke rumah sakit untuk menjalani autopsi guna memastikan penyebab kematian.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Pemalang AKP M. Wildan Umar Rela mengatakan penyelidikan masih berlangsung dan polisi belum menyimpulkan penyebab meninggalnya korban.
“Hasil autopsi secara resmi masih belum keluar. Kami juga masih melakukan pendalaman terhadap keterangan para saksi dan menunggu hasil pemeriksaan dari Dokkes Polda Jawa Tengah,” ujarnya.
Selain memeriksa ibu korban, polisi juga telah meminta keterangan sekitar 10 hingga 11 teman sekolah Al Fian guna menelusuri seluruh rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal.
Polisi meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian Al Fian maupun mengaitkannya dengan dugaan perundungan sebelum seluruh hasil penyelidikan dan autopsi diumumkan secara resmi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













