KANAL BISNIS – Banyumas merupakan kabupaten dengan jumlah pelanggan Perusahaan Daetah Air Minim (PDAM) terbanyak atau terbesar di Jawa Tengah, sementara di tingkat kota, Kota Semarang menempati posisi teratas. Namun, jumlah pelanggan yang besar tidak selalu berarti penetrasi layanan tinggi, karena banyak warga Jawa Tengah masih memanfaatkan sumur, mata air, air kemasan, depot isi ulang dan sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat.
Kabupaten Banyumas, yang dilayani oleh Perumdam Tirta Satria, memiliki basis pelanggan PDAM terbesar di antara kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah. Pada 2024 jumlah pelanggan tercatat 98.994, menurun 2,33 persen dari 2023, dengan demikian, jumlah pelanggan 2023 diperkirakan sekitar 101 ribu sambungan.
Jumlah ini besar dibandingkan kabupaten lain yang datanya tersedia, misalnya Kabupaten Klaten yang mencatat sekitar 50.087 pelanggan pada 2023. Dari sisi pendapatan, data BPS Kabupaten Banyumas mencatat nilai air yang disalurkan kepada pelanggan sebesar sekitar Rp92,87 miliar dari 94.895 pelanggan, menunjukkan bahwa PDAM Banyumas merupakan salah satu perusahaan air minum daerah dengan omzet layanan yang signifikan di provinsi ini.
Meski jumlah pelanggannya terbesar, penetrasi PDAM di Banyumas masih relatif moderat jika dibandingkan dengan jumlah penduduk sekitar 1,806 juta jiwa. Jika satu sambungan diasumsikan melayani sekitar empat orang, sekitar 101 ribu sambungan setara dengan kurang lebih 400 ribu jiwa atau sekitar 22 persen penduduk, artinya, sebagian besar warga masih bergantung pada sumber air di luar jaringan PDAM.
Di antara kota-kota di Jawa Tengah, Kota Semarang memiliki jumlah pelanggan PDAM terbanyak. Pada 2023, Perumdam Tirta Moedal melayani 187.471 pelanggan, naik 3,17 persen dibandingkan 2022.
Dengan populasi Kota Semarang sekitar 1,695 juta jiwa pada 2023, 187 ribu sambungan secara kasar setara dengan sekitar 750 ribu jiwa atau sekitar 44 persen penduduk bila memakai asumsi empat orang per sambungan. Angka ini menunjukkan penetrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten seperti Banyumas, karena kepadatan penduduk, keterbatasan lahan untuk sumur dan kebutuhan air perkotaan mendorong lebih banyak rumah tangga menggunakan air perpipaan.
Urutan kota dengan pelanggan PDAM terbanyak secara umum dipimpin oleh Semarang, diikuti kota-kota menengah seperti Surakarta, Magelang, Pekalongan, Tegal dan Salatiga. Kota Semarang jelas berada di posisi teratas karena jumlah penduduknya jauh lebih besar daripada kota lain di Jawa Tengah.
Salatiga, meskipun merupakan kota terkecil, tetap memiliki basis pelanggan yang cukup besar secara proporsional. PDAM setempat mencatat 40.876 sambungan rumah pada 2023 dengan pendapatan sekitar Rp54,245 miliar. Sementara itu, PDAM Kota Tegal mencatat pendapatan 2023 sebesar Rp59,7 miliar, naik Rp16,7 miliar dari tahun sebelumnya, menandakan peran ekonomi PDAM yang cukup penting bagi pendapatan daerah.
Penetrasi PDAM di banyak wilayah Jawa Tengah tampak rendah secara proporsional karena masyarakat memiliki banyak alternatif sumber air. Yang paling umum adalah sumur gali dan sumur bor, terutama di kawasan perumahan yang masih memiliki lahan terbuka serta air tanah yang relatif mudah dijangkau.
Selain itu, warga juga memanfaatkan mata air, sungai setelah diolah, air kemasan, depot isi ulang, serta SPAM/PAMSIMAS yang dikelola pemerintah desa atau kelompok masyarakat. Faktor ini membuat pertumbuhan pelanggan PDAM tidak selalu sebanding dengan pertumbuhan penduduk.
Ada juga faktor ekonomi dan teknis seperti biaya sambungan baru, tarif bulanan, kecukupan tekanan air, keandalan jaringan serta kebiasaan lama menggunakan sumur. Di beberapa daerah, cakupan administratif PDAM bahkan jauh lebih tinggi daripada cakupan teknis; contohnya Kabupaten Semarang yang mencatat cakupan pelayanan administratif sekitar 13,48 persen dan cakupan teknis 14,26 persen pada 2022.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












