KANALPLUS.ID, PEKALONGAN — Raya Salsabila Aziz (19), mahasiswi semester tiga Program Studi Kriya Batik ITSNU Pekalongan, menciptakan sebuah karya batik tradisi yang mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Karya berupa selendang berukuran 120 × 60 sentimeter itu dibuat untuk memenuhi tugas kampus, sekaligus menjadi sarana Raya menyampaikan keprihatinan, pesan moral dan kritik terhadap penanganan bencana karhutla yang menurutnya masih menjadi persoalan serius.
Raya yang tinggal di Kecamatan Kedungwuni tersebut mengaku memilih tema karhutla karena memiliki kedekatan emosional dengan Kalimantan. Baginya, kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar peristiwa yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan bencana yang membawa dampak luas bagi masyarakat, lingkungan, kesehatan, bahkan hubungan antarnegara.
“Jadi saya sangat-sangat prihatin karena di samping ada kebakaran itu juga menyebabkan dampak buruk bagi negara lain juga, karena terkena imbasnya,” ungkap Raya di kediamannya, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa keprihatinannya muncul karena kabut asap akibat karhutla tidak hanya mengganggu masyarakat di Kalimantan, tetapi juga menyebar hingga menimbulkan dampak lintas wilayah. Menurutnya, meningkatnya Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan meningkatnya emisi menjadi bukti bahwa karhutla bukan persoalan lokal semata, melainkan persoalan lingkungan yang bersifat luas.
Raya juga menyoroti kesulitan pemadaman kebakaran di lahan gambut. Ia menyebut tanah gambut di Kalimantan membuat api sulit dipadamkan karena bara dapat tersimpan di dalam tanah dan kembali membesar meskipun permukaan lahan tampak sudah padam. Kondisi itu, kata dia, membuat penanganan karhutla membutuhkan perhatian yang lebih serius dan berkelanjutan.
Selain persoalan teknis pemadaman, Raya menyampaikan kritik terhadap tata kelola penanggulangan bencana. Ia mengaku membaca informasi mengenai dugaan korupsi dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurutnya, hal semacam itu semakin memperbesar keprihatinannya karena dana yang seharusnya digunakan untuk menangani bencana justru berpotensi tidak sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Jadi, benar-benar saya ingin menyuarakan Kalimantan, seperti itu,” ujar mahasiswi asal Kalimantan tersebut.
Raya menyebut karya batik ini merupakan tugas mata kuliah batik tradisi yang diberikan oleh kampus. Meskipun demikian, Raya menjelaskan bahwa pihak kampus tidak menentukan tema khusus bagi setiap mahasiswa. Setiap mahasiswa diberi kebebasan memilih gagasan dan mengembangkan karyanya sesuai minat masing-masing.
“Emang ditugasi dari kampus, tapi setiap individu beda-beda. Enggak ditentukan temanya. Nah, kebetulan saya Kalimantan, dilalah langsung tak angkat karhutla ini,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa karya ini sepenuhnya dikerjakan secara pribadi. Ia tidak membuat karya tersebut bersama kelompok, melainkan mengolah gagasan, motif dan proses pembuatannya sendiri. Baginya, kebebasan memilih tema menjadi ruang untuk menghadirkan persoalan yang benar-benar dekat dengan pengalaman dan perhatiannya.
Mahasiswi berkacamata itu menilai bahwa batik dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan kritik. Menurutnya, menyampaikan kritik secara langsung kadang berpotensi berujung pada perdebatan atau konfrontasi dengan pihak lain. Sebaliknya, karya seni memungkinkan seseorang menyampaikan pesan dengan cara yang lebih halus, reflektif, dan dapat dinikmati lebih banyak orang.
“Kalau misalkan kritik mungkin kita langsung berhadapan dengan orang lain, seperti berdebat. Nah, kalau lewat karya bisa juga menyampaikan pesan-pesan lain,” jelasnya.
Sebelum mulai mengerjakan kain, Raya terlebih dahulu mencari filosofi dari motif yang ingin diangkat. Tahap ini menjadi dasar bagi ia untuk menerjemahkan isu karhutla ke dalam bentuk visual batik, bukan sekadar menggambar peristiwa kebakaran secara langsung.
Setelah filosofi ditemukan, ia membuat sketsa menggunakan pensil. Sketsa tersebut kemudian ditebalkan menggunakan spidol sebelum dipindahkan ke atas kain. Setelah pola berpindah ke kain, Raya mulai melakukan proses canting menggunakan malam panas.
Menurut Raya, proses canting merupakan bagian yang paling memakan waktu. Ia harus menelusuri garis-garis motif dengan canting secara teliti agar bentuk dan detail motif tetap terjaga. Ketelitian itu penting karena malam berfungsi menahan warna pada bagian tertentu kain.
Setelah proses canting selesai, Raya melakukan teknik colok. Teknik ini dilakukan dengan mewarnai bagian motif tertentu menggunakan kuas bambu. Tujuannya adalah agar warna tetap berada pada area yang diinginkan dan tidak melebar ke bagian lain motif.
“Colok itu caranya mewarnai bagian motif-motif tertentu biar enggak melebar dengan kuas,” terangnya.
Selanjutnya, bagian yang telah diwarnai melalui teknik colok ditutup menggunakan proses popok. Popok berfungsi melindungi warna yang sudah diberikan agar tidak terkena pewarna saat proses pemberian warna latar dilakukan.
“Gunanya dipopok itu kita mau mewarnai background dengan cara dicelup. Jadi, bagian yang sudah diwarnai ini biar enggak kena background,” urai Raya.
Setelah latar selendang selesai diwarnai, Raya melakukan proses lorot, yaitu menghilangkan malam atau lilin dari kain. Proses ini dilakukan dengan merebus kain menggunakan ramuan tertentu. Setelah malam terangkat dan motif batik tampak jelas, kain kemudian dikeringkan hingga karya siap digunakan.
Hasil akhir karya Raya berupa selendang berukuran 120 × 60 sentimeter. Meskipun berbentuk pakaian pelengkap, selendang tersebut mengandung pesan yang ingin disampaikan kepada siapa pun yang melihatnya bahwa karhutla adalah bencana yang harus diperhatikan, bukan dibiarkan berulang.
Melalui motif tersebut, Raya berharap masyarakat lebih sadar bahwa kerusakan hutan dan lahan akan berdampak pada kehidupan banyak orang. Ia ingin karyanya mengajak orang untuk tidak memandang kebakaran hutan sebagai berita yang berlalu begitu saja, tetapi sebagai persoalan yang menyangkut masa depan lingkungan dan kesehatan manusia.
Raya juga berharap karya batiknya dapat mendorong kesadaran akan pentingnya pengelolaan bencana yang jujur, transparan dan berpihak kepada masyarakat. Baginya, menyuarakan Kalimantan melalui batik adalah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa alam tidak dapat terus dieksploitasi tanpa konsekuensi.
“Saya benar-benar ingin menyuarakan Kalimantan,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












