Mengapa Koruptor Selalu Digambarkan sebagai Tikus? Mengapa Bukan Babi?

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Perdebatan simbol tikus sebagai koruptor mengapa bukan babi dipersoalkan di X (twitter). Foto : Ilustrasi AI

Perdebatan simbol tikus sebagai koruptor mengapa bukan babi dipersoalkan di X (twitter). Foto : Ilustrasi AI

Di hampir setiap demonstrasi antikorupsi, kita akan menemukan gambar yang sama. Seekor tikus berdasi, berperut buncit, membawa karung uang atau menggigit lembaran rupiah. Kartunis menggambarnya demikian. Demonstran mengarak boneka tikus raksasa. Bahkan bahasa sehari-hari pun ikut mengabadikannya. Kita menyebut koruptor sebagai ‘tikus berdasi’.

Julukan itu begitu akrab hingga nyaris tak pernah dipertanyakan lagi. Namun sesekali muncul pertanyaan yang menggelitik,  mengapa harus tikus? Bukankah jika ukuran yang dipakai adalah kerakusan, babi justru lebih sering diasosiasikan sebagai hewan yang makan apa saja? Bukankah babi tampak lebih lahap, lebih gemuk dan dalam banyak budaya bahkan menjadi lambang kerakusan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersembunyi persoalan yang lebih besar tentang bagaimana manusia menciptakan simbol, membentuk cara berpikir, bahkan memaknai kejahatan.

Barangkali kita terlalu sering mengira bahwa tikus dipilih karena rakus. Padahal, bukan itu alasan utamanya.

Tikus bukan hewan yang paling banyak makan. Bahkan secara biologis, kebutuhan makan seekor tikus relatif kecil dibandingkan banyak mamalia lain. Namun tikus mempunyai satu kemampuan yang membuat manusia sejak dahulu memusuhinya, ia datang ketika orang lengah.

Ia masuk melalui celah yang nyaris tak terlihat. Ia bergerak dalam gelap. Ia menggerogoti sedikit demi sedikit. Ketika kerusakan ditemukan, sering kali semuanya sudah terlambat.

Karena itulah tikus menjadi simbol yang kuat dalam berbagai kebudayaan. Ia bukan sekadar pencuri makanan, tetapi pencuri yang bekerja diam-diam.

Korupsi memiliki watak yang mirip. Ia jarang datang dengan suara keras. Ia masuk melalui tanda tangan, rapat tertutup, rekening yang tak diketahui publik, proyek yang dinaikkan nilainya beberapa persen, atau keputusan administrasi yang tampaknya biasa saja.

Ketika masyarakat sadar ada yang hilang, kerugiannya sudah mencapai miliaran, bahkan triliunan rupiah. Tikus menggerogoti lumbung. Korupsi menggerogoti negara.

Lalu bagaimana dengan babi?

Di sinilah menariknya. Banyak orang menganggap babi lebih pantas menjadi simbol korupsi karena diasosiasikan dengan kerakusan. Namun anggapan itu sebenarnya lebih merupakan konstruksi budaya daripada fakta tentang hewan tersebut.

Seekor babi makan karena naluri. Ia tidak menyembunyikan makanannya. Ia tidak mengambil makanan tetangganya dengan membuat aturan palsu. Ia tidak menyusun jaringan agar makanan terus mengalir kepadanya. Babi tidak korup.

Yang kita sebut ‘rakus seperti babi’ lebih banyak lahir dari cara manusia memberi makna kepada hewan daripada perilaku hewan itu sendiri. Ironisnya, kita sering kali lebih kejam kepada binatang daripada kepada manusia. Kita memakai nama mereka untuk menyebut sifat buruk manusia, padahal mereka hanya menjalankan hukum alam. Seekor babi tidak pernah bangun pagi dengan rencana mencuri uang rakyat. Manusia bisa.

Baca Juga :  MENEGUHKAN KEMBALI RUH PANCASILA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Dalam novel Animal Farm, George Orwell memakai babi sebagai tokoh utama yang perlahan berubah menjadi penguasa yang korup. Banyak orang lalu mengira Orwell sedang mengatakan bahwa babi adalah hewan paling buruk. Padahal bukan itu maksudnya.

Orwell memilih babi justru karena pembaca telah memiliki prasangka tertentu terhadap hewan itu. Melalui satir, ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaan dapat mengubah siapa saja menjadi penindas. Bukan karena ia babi, melainkan karena ia manusia yang haus kuasa.

Pesan Orwell sesungguhnya bukan tentang hewan. Pesannya tentang manusia.

Ahli tata kelola Robert Klitgaard pernah merumuskan korupsi secara sederhana, yakni ketika monopoli kekuasaan bertemu dengan keleluasaan mengambil keputusan tanpa pengawasan yang memadai, peluang korupsi membesar.

Rumus itu menarik karena sama sekali tidak menyebut kerakusan. Artinya, keserakahan memang mempercepat korupsi, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Seseorang bisa sangat kaya, tetapi tetap korup. Seseorang bisa bergaji tinggi, tetapi tetap mencuri.

Mengapa? Karena korupsi bukan sekadar persoalan perut. Ia adalah persoalan kekuasaan. Kalau hanya lapar, sepotong roti sudah cukup. Tetapi ketika seseorang mencuri karena ingin terus menumpuk kekayaan, yang bekerja bukan lagi kebutuhan, melainkan hasrat. Hasrat hampir tidak pernah mengenal kata selesai.

Di sinilah simbol tikus menjadi masuk akal. Tikus tidak pernah menghabiskan seluruh persediaan dalam satu malam. Ia menggerogoti sedikit demi sedikit. Begitu pula korupsi. Jarang ada negara runtuh hanya karena satu kasus korupsi.

Negara melemah karena ribuan penggerogotan kecil yang berlangsung bertahun-tahun. Satu proyek dinaikkan lima persen. Satu pengadaan dimark-up sepuluh persen. Satu izin diperdagangkan. Satu jabatan diperjualbelikan. Semuanya tampak kecil.

Namun ketika seluruh ‘gigitan kecil’ itu dijumlahkan, yang hilang bukan lagi sekadar uang negara, melainkan kepercayaan masyarakat. Dan ketika kepercayaan telah habis, negara kehilangan modal sosial yang jauh lebih mahal daripada anggaran.

Ada ironi lain yang jarang disadari. Tikus sebenarnya tidak pernah berpura-pura menjadi makhluk lain. Ia tetap tikus. Koruptor justru sering tampil sebagai kebalikannya. Ia berbicara tentang integritas. Ia menghadiri seminar antikorupsi. Ia memberi sambutan tentang pelayanan publik. Ia tersenyum di depan kamera. Ia memakai jas, dasi atau seragam yang melambangkan kehormatan.

Baca Juga :  Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate

Mungkin karena itulah masyarakat menambahkan kata ‘berdasi’. Bukan karena tikus memakai dasi. Melainkan karena manusialah yang memakai dasi sambil bertingkah seperti tikus. Namun dunia telah berubah.

Korupsi hari ini tidak selalu bergerak diam-diam seperti tikus di lumbung. Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih canggih. Melalui transaksi digital. Melalui perusahaan cangkang. Melalui regulasi yang tampak sah. Melalui konflik kepentingan yang sulit dibuktikan.

Korupsi modern sering kali tidak lagi meninggalkan jejak berupa karung uang. Ia meninggalkan jejak berupa angka-angka dalam server.

Apakah simbol tikus masih cukup menjelaskan semua itu? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Tetapi simbol memiliki satu kekuatan, ia membantu masyarakat memahami sesuatu yang rumit melalui gambaran yang sederhana.

Susan Sontag pernah mengingatkan bahwa manusia gemar memakai metafora untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Metafora memang memudahkan. Tetapi ia juga bisa menyederhanakan kenyataan.

Ketika kita terus menyebut koruptor sebagai tikus, tanpa sadar kita mungkin sedang menganggap korupsi sebagai sesuatu yang alamiah, seolah-olah itu naluri. Padahal korupsi bukan naluri. Korupsi adalah keputusan.

Seekor tikus tidak pernah belajar etika. Koruptor pernah. Seekor tikus tidak pernah mengucapkan sumpah jabatan. Koruptor pernah. Seekor tikus tidak pernah berjanji melayani rakyat. Koruptor pernah.

Perbedaan itu sangat penting. Karena di sanalah letak tanggung jawab moral. Mungkin akhirnya pertanyaan ‘mengapa tikus, bukan babi?’ memang tidak pernah membutuhkan jawaban mutlak. Yang lebih penting justru pertanyaan berikutnya. Mengapa kita begitu mudah meminjam nama hewan untuk menjelaskan keburukan manusia?

Barangkali karena kita merasa lebih mudah menerima kenyataan jika kejahatan diberi wajah seekor tikus. Padahal pelakunya tetap manusia. Ia lahir sebagai manusia. Dididik sebagai manusia. Dipercaya sebagai manusia. Lalu memilih mengkhianati kepercayaan itu sebagai manusia pula.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti menyalahkan tikus. Tikus hanya menjalankan nalurinya..Koruptor menjalankan pilihannya. Dan di antara naluri seekor tikus dan pilihan seorang manusia, sejarah selalu menunjukkan bahwa pilihan manusialah yang mampu menghancurkan sebuah bangsa.

 

Dari berbagai sumber :

1. George Orwell – Animal Farm (1945)

2. Robert Klitgaard – Controlling Corruption (1988)

3. Susan Sontag – Illness as Metaphor (1978)

4. Kajian tentang simbol tikus dalam budaya dan politik

5. Kajian zoologi dan etologi

6. Perdebatan di akun X @kink1ng

 

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate
MENEGUHKAN KEMBALI RUH PANCASILA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:20 WIB

Mengapa Koruptor Selalu Digambarkan sebagai Tikus? Mengapa Bukan Babi?

Senin, 13 Juli 2026 - 06:49 WIB

Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate

Senin, 1 Juni 2026 - 11:36 WIB

MENEGUHKAN KEMBALI RUH PANCASILA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Berita Terbaru