Harga SBM Naik Hampir Rp3.000, Peternak Batang Pertanyakan Kebijakan Impor

- Jurnalis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:13 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Peternak menilai harga SBM yang mengalami kenaikan tinggi menjadi salah satu pemicu potensi ambruknya usaha ayam petelur di Kabupaten Batang, Minggu (9/8/26). Foto : Ilustrasi AI

Peternak menilai harga SBM yang mengalami kenaikan tinggi menjadi salah satu pemicu potensi ambruknya usaha ayam petelur di Kabupaten Batang, Minggu (9/8/26). Foto : Ilustrasi AI

KANAL BATANG – Persoalan peternak ayam petelur di Kabupaten Batang tak hanya dipicu anjloknya harga telur. Di sisi lain, harga bahan baku pakan justru terus menekan biaya produksi. Salah satu yang disoroti peternak adalah kenaikan harga soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai yang menjadi salah satu bahan baku penting dalam pakan ayam petelur.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Sektor Batang, Joko Pramono, mengatakan harga SBM yang sebelumnya sekitar Rp6.700 per kilogram pada akhir 2025, kini berada di kisaran Rp9.200 hingga Rp9.700 per kilogram.

“Pada akhir tahun 2025, harga SBM itu masih Rp6.700. Sekarang yang saya dengar dari teman-teman peternak yang memakai SBM impor, harganya sudah Rp9.600 sampai Rp9.700. Ada yang dapat Rp9.200,” ungkap Joko kepada kanalplus.id, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, kenaikan tersebut mencapai hampir Rp3.000 per kilogram. Kondisi itu dinilai semakin memperlebar tekanan biaya produksi peternak ketika harga telur justru berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.

Joko mempertanyakan penyebab kenaikan harga SBM tersebut. Sebab, berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya terhadap harga SBM di negara asal hingga biaya impor, kenaikan tersebut dinilai tidak sepenuhnya dapat dijelaskan hanya oleh faktor kurs dan biaya importasi.

“Kalau kita hitung dengan harga SBM yang ada di luar negeri, terutama Argentina dan Amerika, sampai sini tidak sampai Rp6.400. Itu sudah termasuk pajak,” jelasnya.

Namun, setelah memperhitungkan berbagai komponen hingga harga di pelabuhan, Joko menyebut harga yang menurut perhitungannya wajar seharusnya berada di kisaran Rp8.400-Rp8.500 per kilogram.

“Harusnya maksimal Rp8.400-Rp8.500, itu sudah termasuk pajak final sampai loko di pelabuhan,” terangnya.

Karena itu, peternak meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap tata kelola impor bahan baku pakan, terutama setelah adanya penugasan impor SBM kepada PT Berdikari.

Joko menyebut sekitar 60 persen impor SBM berada dalam skema penugasan tersebut. Menurut dia, kondisi itu perlu dievaluasi karena peternak justru merasakan kenaikan harga bahan baku setelah kebijakan tersebut berjalan.

Baca Juga :  Bupati Batang Siapkan Penertiban PKL di Area Publik, Alun-alun dan Trotoar Harus Steril dari Aktivitas Berdagang

“Setelah dipegang Berdikari, harga SBM menjadi naik sampai hampir Rp3.000 dari akhir tahun 2025. Ini harus dievaluasi,” tegasnya.

Joko mengatakan persoalan harga pakan dan telur sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan peternak kepada pemerintah melalui berbagai pertemuan, termasuk rapat daring. Bahkan, pada 3 Agustus 2026, para peternak dari berbagai daerah berangkat ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

Namun, menurut dia, berbagai kebijakan yang selama ini disampaikan pemerintah belum memberikan perubahan berarti di tingkat peternak.

“Sudah berkali-kali kita rapat, lewat Zoom meeting juga sudah. Terakhir tanggal 3 Agustus kami berangkat ke Jakarta tiga bus untuk menekan mereka agar mengeluarkan instruksi,” ujarnya.

Peternak, lanjut Joko, pada dasarnya tidak menuntut harga telur setinggi-tingginya. Mereka meminta adanya keseimbangan antara harga jual telur dengan biaya produksi.

Pasalnya, harga telur di tingkat kandang saat ini masih berada di kisaran Rp19.000-Rp21.000 per kilogram, sementara HAP pemerintah yang disebut peternak berada di angka Rp26.500 per kilogram. Artinya, terdapat selisih sekitar Rp5.500-Rp7.500 per kilogram antara harga aktual di tingkat peternak dengan HAP tersebut.

Pada saat bersamaan, harga jagung sebagai bahan utama pakan juga berada di kisaran Rp6.600-Rp6.800 per kilogram, bahkan mendekati Rp7.000. Padahal, HAP jagung di tingkat peternak disebut Rp5.500 per kilogram.

“Kalau harga telur tidak bisa naik, paling tidak harga pakan harus diturunkan. Terserah melalui mekanisme apa, subsidi, SPHP, atau impor,” tegasnya.

Joko juga mengungkapkan bahwa persoalan pakan ayam petelur tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan terhadap bahan baku impor.

SBM, kata dia, masih sepenuhnya bergantung pada impor. Dalam formulasi pakan ayam petelur, penggunaannya memang tidak dominan, yakni sekitar 20 persen. Namun, bahan tersebut tetap menjadi komponen penting dalam produksi pakan.

Baca Juga :  Bupati Batang Ajak Letakkan Gawai, Peluk Anak Sebelum Terlambat Sebagai Pesan Harganas

Jika ditambah obat-obatan dan bahan pendukung lainnya, Joko memperkirakan sekitar 22-24 persen komponen produksi pakan masih memiliki ketergantungan terhadap produk impor.

“Kalau masih 24 persen impor, menurut saya belum bisa disebut swasembada. Kalau namanya swasembada, harusnya ketergantungannya di bawah lima persen,” ujarnya.

Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena peternak juga masih menghadapi kesulitan mendapatkan jagung lokal dengan harga sesuai HAP. Di Kabupaten Batang, kondisi itu dirasakan terutama oleh peternak yang berada di sentra produksi seperti Kecamatan Tersono.

Joko menilai pemerintah perlu melihat persoalan peternakan secara utuh, bukan hanya menjaga harga telur agar tetap terjangkau konsumen. Sebab, ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual ditekan, beban tersebut pada akhirnya berpindah ke peternak.

“Kalau harga telur tidak bisa naik dan harga pakan tetap tinggi, kami yang terus mensubsidi protein murah untuk masyarakat,” katanya.

Tekanan tersebut, menurut Joko, mulai memengaruhi kemampuan peternak mempertahankan usaha. KPUS Sektor Batang saat ini memiliki 117 anggota aktif dengan populasi sekitar 600 ribu lebih ayam petelur. Hingga kini belum banyak peternak yang benar-benar menghentikan usaha, tetapi sebagian disebut mulai menggadaikan aset untuk mempertahankan operasional.

“Kalau usaha berhenti, kredit kami macet. Kalau diteruskan, utang di bank juga tidak bisa dibayar. Jadi dilemanya seperti itu,” tuturnya.

Ia memperkirakan jika kondisi harga telur dan pakan tidak berubah dalam beberapa bulan ke depan, peternak kecil akan mulai berguguran satu per satu.

Karena itu, aksi pembagian ayam yang akan dilakukan peternak di Batang bukan sekadar kegiatan simbolis. Aksi tersebut dimaksudkan sebagai pesan bahwa peternak mulai berada pada batas kemampuan untuk mempertahankan usaha.

“Yang tidak bisa kita kasih makan itu ayamnya, bukan telurnya. Kalau secara simbolis kami sudah tidak kuat memberi makan ayam, makanya ayamnya kami bagikan,” tandas Joko.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Punya APBD Rp1,95 Triliun, Batang Pakai 70 Persen untuk Benahi Jalan
Butuh 1,5 Jam Evakuasi Macan Kumbang dari Rumah Warga,
Macan Kumbang Masuk Rumah Warga di Batang Berada di Piggir Hutan
Saat Dievakuasi dari Rumah Warga, Kaki Macan Kumbang dalam Keadaan Terluka
Macan Kumbang Masuk Rumah Warga di Batang, 7 Ayam Jadi Santapan Sebelum Dievakuasi
Korsleting Listrik Sebabkan Rumah di Batang Terbakar, Kerugian Disebut Rp15 Juta
Bukan Cuma Pasang Bendera, Warga Denasri Kulon Siapkan Lengko 250 Meter untuk Rayakan HUT RI
Populasi Ayam Petelur Naik 17 Persen dengan Konsumsi Hanya 2 Persen, Peternak Batang Soroti Proyeksi MBG
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Punya APBD Rp1,95 Triliun, Batang Pakai 70 Persen untuk Benahi Jalan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Butuh 1,5 Jam Evakuasi Macan Kumbang dari Rumah Warga,

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:50 WIB

Macan Kumbang Masuk Rumah Warga di Batang Berada di Piggir Hutan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:18 WIB

Saat Dievakuasi dari Rumah Warga, Kaki Macan Kumbang dalam Keadaan Terluka

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Macan Kumbang Masuk Rumah Warga di Batang, 7 Ayam Jadi Santapan Sebelum Dievakuasi

Berita Terbaru