KANAL PEMALANG – Desa Kandang, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, berubah menjadi lautan cahaya setiap malam selama Agustus. Sepanjang hampir tiga kilometer jalan desa dihiasi lampu warna-warni dan berbagai miniatur, dari Monas, Jembatan Suramadu hingga burung Garuda.
Yang menarik, gemerlap tersebut bukan dibangun dengan anggaran pemerintah. Seluruhnya berasal dari swadaya dan gotong royong warga.
Gebyar lampu hias digelar sejak 1 hingga 31 Agustus 2026 untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Namun, kreativitas warga itu kini berkembang menjadi magnet wisata malam yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
Kepala Desa Kandang Murtadho mengatakan, pemasangan lampu hias membentang mulai dari sejumlah RT hingga kawasan Pasar Tambang.
“Ini kalau kita hitung sekitar tiga kilometer. Yang paling ramai adalah jalan sini sampai jalan utama,” kata Murtadho kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026) malam.
Menurutnya, antusiasme pengunjung bahkan sudah terlihat sebelum acara resmi dimulai. Begitu memasuki Agustus, ruas jalan desa mulai ramai didatangi warga.
“Setelah mulai dibuka tanggal 1, bahkan sebelum tanggal 1 pun sudah membludak seperti ini. Setiap hari ramai,” ujarnya.
Warga tidak sekadar memasang lampu di sepanjang jalan. Berbagai ornamen dibuat untuk menciptakan suasana berbeda di setiap titik.
Tahun ini, miniatur Monas dan Jembatan Suramadu menjadi dua ikon yang paling mencolok. Ornamen burung Garuda dan berbagai bentuk satwa juga melengkapi dekorasi.
Khusus miniatur Jembatan Suramadu, warga membutuhkan sedikitnya delapan rol lampu yang dirangkai membentuk pola yang diinginkan.
“Untuk tahun ini ada miniatur Monas dan Jembatan Suramadu serta ikon-ikon lainnya. Kemungkinan tahun depan konsepnya bisa berubah lagi,” terang Murtadho.
Kreativitas tersebut sekaligus menjadi cara warga menghidupkan suasana desa pada malam hari selama bulan kemerdekaan.
Pengunjung pun tidak hanya berasal dari Comal dan desa sekitar. Warga dari sejumlah wilayah Pemalang, mulai Muncang Kecamatan Bodeh, Moga hingga Randudongkal, turut berdatangan. Bahkan ada pengunjung dari wilayah Kabupaten Pekalongan.
Di balik kemeriahan itu terdapat biaya yang tidak sedikit. Murtadho memperkirakan nilai material dan pengerjaan seluruh ornamen bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Namun, tidak ada anggaran APBN maupun APBD yang digunakan untuk membangun gebyar lampu hias tersebut.
“Kalau dihitung di atas kertas, paling tidak mencapai ratusan juta. Ini bukan dari pemerintah, bukan APBN atau APBD. Murni swadaya masyarakat,” tegasnya.
Pembuatan hingga pemasangan ornamen dilakukan warga selama sekitar satu bulan. Mereka bergotong royong menyiapkan bahan, merakit miniatur hingga memasang lampu di sepanjang jalur.
Sementara itu bagi pengunjung, daya tarik Desa Kandang bukan hanya gebyar lampunya, tetapi pengalaman menikmati suasana malam yang menjadi wisata yang hanya ada setahun sekali.
Aura (9), bocah kelas tiga SD warga Kabunan, Pemalang, sampai harus datang bersama rombongan untuk menyaksikan langsung dari dekat suasana kemeriahan Agustusan di Desa Kandang.
Ia mengaku baru pertama kali berkunjung dan melihat dari dekat rangkaian lampu hias yang membentuk berbagai karakter ikon terkenal seperti monas dan jembatan.
“Bentuknya bagus, senang bisa lihat lampunya warna-warni,” katanya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













