KANAL KOTA – Bursa kandidat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU mulai memasuki fase yang lebih menarik. PCNU Kota Pekalongan mengaku telah mengantongi sekitar 20 nama yang dipertimbangkan untuk diusulkan dalam mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, dari 20 nama tersebut, hanya sembilan nama yang nantinya akan dibawa PCNU Kota Pekalongan ke Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Siapa saja nama-nama tersebut?Untuk sementara, PCNU Kota Pekalongan masih menyimpannya rapat-rapat.
Rais Syuriah PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH Hasan Su’aidi, M.Si., mengatakan penentuan sembilan nama tersebut belum final. Keputusan akan diambil melalui rapat gabungan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah.
“PCNU Kota Pekalongan sudah menentukan sekian nama, seingat saya ada 20 nama. Ini menjadi kerja berat nanti terus kemudian untuk mengerucutkan sembilan nama,” kata Hasan dalam konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/2026).
Dengan demikian, 20 nama tersebut belum otomatis menjadi daftar resmi calon AHWA yang akan dibawa ke arena muktamar. Namun, proses penyaringan justru menjadi salah satu pekerjaan penting PCNU Kota Pekalongan menjelang keberangkatan ke Jombang.
Hasan menegaskan, dirinya bersama jajaran pengurus hanya akan membawa keputusan organisasi yang dihasilkan melalui mekanisme internal.
“Kami ini sebagai mandataris, sudah tentu apa yang menjadi hasil dari rapat gabungan antara jajaran Syuriah dan Tanfidziyah itu nanti yang akan kita bawa di gelaran Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang,” ujarnya.
20 Nama, 1 Pilihan, 1 Rais Aam
Yang membuat pertarungan ini menarik, sembilan nama yang nantinya dipilih bukan sekadar daftar formal.
Mekanisme AHWA akan menjadi bagian penting dalam menentukan Rais Aam PBNU untuk periode mendatang. Karena itu, penyusutan dari 20 nama menjadi sembilan nama berpotensi menjadi salah satu proses paling menentukan bagi arah kepemimpinan Syuriah NU ke depan.
Namun, PCNU Kota Pekalongan belum membuka identitas 20 nama tersebut.
Alih-alih ikut larut dalam bursa nama yang beredar, organisasi memilih menyelesaikan proses internal terlebih dahulu.
Dengan kata lain, nama-nama yang ramai dibicarakan di luar belum tentu sama dengan nama yang akhirnya masuk daftar sembilan pilihan PCNU Kota Pekalongan.
Bukan Sekadar Cari Tokoh Populer
Hasan mengatakan figur Rais Aam yang diharapkan bukan semata-mata tokoh dengan popularitas tinggi. Ada kriteria keulamaan yang menjadi pertimbangan.
Ia menyebut sejumlah sifat yang menjadi gambaran ideal Rais Aam sebagaimana diatur dalam AD/ART NU, antara lain zahid, muharrik, munadzim dan wara’.
Menurutnya, Rais Aam harus memiliki kedalaman ilmu sekaligus kemampuan menggerakkan organisasi.
“Profil Rais Aam ini di AD/ART mengerucut kepada mereka yang mempunyai sifat-sifat itu. Kalaupun tidak kemudian ideal, paling tidak mendekati sifat-sifat itu,” katanya.
Bagi Hasan, persoalan kepemimpinan NU tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang menjadi Rais Aam dan siapa yang menjadi ketua umum.
Ada pekerjaan yang jauh lebih besar setelah muktamar, yakni memastikan organisasi mampu menjalankan fungsi keumatan dan keagamaan secara bersamaan.
“Bagaimana kemudian isu, bagaimana kemudian program PBNU ini bisa dijalankan dengan baik dalam bingkai riayatul ummah dan hidayatud din,” terangnya.
NU Ditantang Ikut Zaman Tanpa Kehilangan Aswaja
Di luar pertarungan nama, Hasan mengingatkan Muktamar ke-35 juga akan menjadi momentum menentukan arah NU menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, sebagai organisasi yang memiliki basis massa besar, NU memiliki tanggung jawab menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sekaligus tidak boleh gagap menghadapi perkembangan zaman.
Ia menggambarkan NU sebagai salah satu kekuatan penting dalam menjaga tradisi Aswaja di Indonesia.
Karena itu, menurut Hasan, tantangan NU ke depan bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti zaman. Keduanya harus berjalan bersama.
“Bagaimana kemudian Ahlussunnah wal Jamaah ini terjaga tanpa kemudian meninggalkan apa yang menjadi perkembangan pada masa ini,” katanya.
Ia menilai nilai-nilai Aswaja tetap harus menjadi fondasi, mulai dari tradisi fikih, akidah, tasawuf hingga sikap sosial seperti toleransi dan i’tidal.
Namun, nilai-nilai tersebut harus mampu menjawab persoalan masyarakat kontemporer.
“Artinya bahwa Ahlussunnah wal Jamaah harus bisa mengikuti pola-pola itu,” ujarnya.
Kini, perhatian PCNU Kota Pekalongan tinggal mengarah pada satu agenda penting, yakni memeras 20 nama menjadi sembilan nama.
Siapa yang masuk sembilan besar masih menjadi teka-teki. Yang jelas, sembilan nama itulah yang nantinya akan menjadi bagian dari proses penentuan AHWA dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Dan dari sembilan nama itu pula, NU akan mencari sosok yang akan duduk sebagai Rais Aam untuk membawa organisasi memasuki babak berikutnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













