20 Nama Sudah Dikantongi, Siapa Calon Rais Aam Pilihan PCNU Pekalongan?

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Rais Syuriah PC NU Kota Pekalongan, DR. KH. Hasan Su’aidi, M.SI. dan Ketua Tanfidziyqh Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan, DR. KH. Moch Machrus, Lc. M.Si. berpose bersama usai konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/26) malam.

Rais Syuriah PC NU Kota Pekalongan, DR. KH. Hasan Su’aidi, M.SI. dan Ketua Tanfidziyqh Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan, DR. KH. Moch Machrus, Lc. M.Si. berpose bersama usai konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/26) malam.

KANAL KOTA – Bursa kandidat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU mulai memasuki fase yang lebih menarik. PCNU Kota Pekalongan mengaku telah mengantongi sekitar 20 nama yang dipertimbangkan untuk diusulkan dalam mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, dari 20 nama tersebut, hanya sembilan nama yang nantinya akan dibawa PCNU Kota Pekalongan ke Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Siapa saja nama-nama tersebut?Untuk sementara, PCNU Kota Pekalongan masih menyimpannya rapat-rapat.

Rais Syuriah PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH Hasan Su’aidi, M.Si., mengatakan penentuan sembilan nama tersebut belum final. Keputusan akan diambil melalui rapat gabungan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah.

PCNU Kota Pekalongan sudah menentukan sekian nama, seingat saya ada 20 nama. Ini menjadi kerja berat nanti terus kemudian untuk mengerucutkan sembilan nama,” kata Hasan dalam konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/2026).

Dengan demikian, 20 nama tersebut belum otomatis menjadi daftar resmi calon AHWA yang akan dibawa ke arena muktamar. Namun, proses penyaringan justru menjadi salah satu pekerjaan penting PCNU Kota Pekalongan menjelang keberangkatan ke Jombang.

Hasan menegaskan, dirinya bersama jajaran pengurus hanya akan membawa keputusan organisasi yang dihasilkan melalui mekanisme internal.

“Kami ini sebagai mandataris, sudah tentu apa yang menjadi hasil dari rapat gabungan antara jajaran Syuriah dan Tanfidziyah itu nanti yang akan kita bawa di gelaran Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang,” ujarnya.

20 Nama, 1 Pilihan, 1 Rais Aam

Baca Juga :  Hari Kedua Operasi SAR Korban Tenggelam di Kali Banger Kota Pekalongan, Radius Pencarian Diperluas hingga 1 Kilometer

Yang membuat pertarungan ini menarik, sembilan nama yang nantinya dipilih bukan sekadar daftar formal.

Mekanisme AHWA akan menjadi bagian penting dalam menentukan Rais Aam PBNU untuk periode mendatang. Karena itu, penyusutan dari 20 nama menjadi sembilan nama berpotensi menjadi salah satu proses paling menentukan bagi arah kepemimpinan Syuriah NU ke depan.

Namun, PCNU Kota Pekalongan belum membuka identitas 20 nama tersebut.

Alih-alih ikut larut dalam bursa nama yang beredar, organisasi memilih menyelesaikan proses internal terlebih dahulu.

Dengan kata lain, nama-nama yang ramai dibicarakan di luar belum tentu sama dengan nama yang akhirnya masuk daftar sembilan pilihan PCNU Kota Pekalongan.

Bukan Sekadar Cari Tokoh Populer

Hasan mengatakan figur Rais Aam yang diharapkan bukan semata-mata tokoh dengan popularitas tinggi. Ada kriteria keulamaan yang menjadi pertimbangan.

Ia menyebut sejumlah sifat yang menjadi gambaran ideal Rais Aam sebagaimana diatur dalam AD/ART NU, antara lain zahid, muharrik, munadzim dan wara’.

Menurutnya, Rais Aam harus memiliki kedalaman ilmu sekaligus kemampuan menggerakkan organisasi.

“Profil Rais Aam ini di AD/ART mengerucut kepada mereka yang mempunyai sifat-sifat itu. Kalaupun tidak kemudian ideal, paling tidak mendekati sifat-sifat itu,” katanya.

Bagi Hasan, persoalan kepemimpinan NU tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang menjadi Rais Aam dan siapa yang menjadi ketua umum.

Ada pekerjaan yang jauh lebih besar setelah muktamar, yakni memastikan organisasi mampu menjalankan fungsi keumatan dan keagamaan secara bersamaan.

“Bagaimana kemudian isu, bagaimana kemudian program PBNU ini bisa dijalankan dengan baik dalam bingkai riayatul ummah dan hidayatud din,” terangnya.

Baca Juga :  Dikabarkan Menghilang, Terduga Pelaku Pencabulan Sejumlah Santri di Musala Pekalongan Selatan Belum Masuk DPO

NU Ditantang Ikut Zaman Tanpa Kehilangan Aswaja

Di luar pertarungan nama, Hasan mengingatkan Muktamar ke-35 juga akan menjadi momentum menentukan arah NU menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, sebagai organisasi yang memiliki basis massa besar, NU memiliki tanggung jawab menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sekaligus tidak boleh gagap menghadapi perkembangan zaman.

Ia menggambarkan NU sebagai salah satu kekuatan penting dalam menjaga tradisi Aswaja di Indonesia.

Karena itu, menurut Hasan, tantangan NU ke depan bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti zaman. Keduanya harus berjalan bersama.

“Bagaimana kemudian Ahlussunnah wal Jamaah ini terjaga tanpa kemudian meninggalkan apa yang menjadi perkembangan pada masa ini,” katanya.

Ia menilai nilai-nilai Aswaja tetap harus menjadi fondasi, mulai dari tradisi fikih, akidah, tasawuf hingga sikap sosial seperti toleransi dan i’tidal.

Namun, nilai-nilai tersebut harus mampu menjawab persoalan masyarakat kontemporer.

“Artinya bahwa Ahlussunnah wal Jamaah harus bisa mengikuti pola-pola itu,” ujarnya.

Kini, perhatian PCNU Kota Pekalongan tinggal mengarah pada satu agenda penting, yakni memeras 20 nama menjadi sembilan nama.

Siapa yang masuk sembilan besar masih menjadi teka-teki. Yang jelas, sembilan nama itulah yang nantinya akan menjadi bagian dari proses penentuan AHWA dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Dan dari sembilan nama itu pula, NU akan mencari sosok yang akan duduk sebagai Rais Aam untuk membawa organisasi memasuki babak berikutnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tak Mau Kalah, Puluhan Lansia di Kota Pekalongan ini Gelar Upacara Bendera Sendiri di Hari Kemerdekaan
Mbah Ubed: NU Harus Tetap Jadi Penjaga Moral, Dinamika Jangan Keluar dari Khittah
Terungkap, Jukir yang Terlibat Keributan di Jalan Hayam Wuruk Bukan Nama dalam Surat Tugas Dishub
Duduk Perkara Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Dikeroyok Bermula dari Cinta Lama yang Belum Usai
Polisi Memastikan Pendampingan Psikologis dan Keamanan Terhadap F Saat Kembali ke Sekolah
Kasus Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Berkelahi, Polisi Turun Tangan Cegah Perundungan Susulan dan Balas Dendam
Punya SOP Antikekerasan, SMPN 6 Pekalongan Akui Tak Ada CCTV di Lokasi Perkelahian
Berawal dari Persoalan Teman Wanita di WhatsApp, Siswa SMPN 6 Pekalongan Berkelahi di WC Sekolah Hingga Koma
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:04 WIB

Tak Mau Kalah, Puluhan Lansia di Kota Pekalongan ini Gelar Upacara Bendera Sendiri di Hari Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:05 WIB

Mbah Ubed: NU Harus Tetap Jadi Penjaga Moral, Dinamika Jangan Keluar dari Khittah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Terungkap, Jukir yang Terlibat Keributan di Jalan Hayam Wuruk Bukan Nama dalam Surat Tugas Dishub

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:33 WIB

Duduk Perkara Siswa SMPN 6 Pekalongan Koma Setelah Dikeroyok Bermula dari Cinta Lama yang Belum Usai

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Polisi Memastikan Pendampingan Psikologis dan Keamanan Terhadap F Saat Kembali ke Sekolah

Berita Terbaru

Banyak klub besar menjadi penguasa domestik di suatu negara, namun dominasi tersebut tidak selalu berasal dari klub besa. Foto : Ilustrasi AI

Olahraga

10 Klub Sepak Bola Penguasa Domestik Negara di Dunia

Senin, 17 Agu 2026 - 07:31 WIB