Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Soto Semarang Mas Bagas dengan porsi besar dan kecil tanpa nasi dengan harga cukup Rp8000 dan Rp10.000 sudah bisa menjadi pilihan untuk sarapan maupun makan siang.

Soto Semarang Mas Bagas dengan porsi besar dan kecil tanpa nasi dengan harga cukup Rp8000 dan Rp10.000 sudah bisa menjadi pilihan untuk sarapan maupun makan siang.

KANAL KOTAKuliner soto di Kota Pekalongan tak hanya identik dengan kuah bercita rasa tauco. Di Jalan Jawa, terdapat warung Soto Semarang Mas Bagas yang menawarkan soto dengan kuah bening dan segar, lengkap dengan taburan bawang putih goreng yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Warung Soto Semarang Mas Bagas menjadi salah satu pilihan warga untuk sarapan maupun makan siang. Dalam sehari, penjualan soto disebut bisa mencapai sekitar 200 porsi lebih dan hampir selalu habis.

Pengelola Soto Semarang Mas Bagas, Muhammad Aris (29), mengatakan usaha tersebut mulai beroperasi sekitar 2020. Saat ini, meski sudah cukup dikenal pelanggan masih menjadi satu-satunya gerai dan belum membuka cabang.

“Kalau saat ini memang belum buka cabang, cuma masih di sini,” ujar Aris kepada kanalplus.id, Kamis (20/8/2026).

Menurut Aris, cita rasa soto yang ditawarkan memiliki karakter berbeda dibandingkan soto khas Pekalongan yang identik dengan tauco. Soto Semarang Mas Bagas mengandalkan kuah yang lebih ringan dan segar sehingga dinilai lebih mudah diterima pelanggan, terutama kalangan anak muda.

“Kalau soto Pekalongan identik dengan tauco. Kalau Semarang, Boyolali, yang khas itu kuahnya segar. Anak muda biasanya suka yang kuahnya segar,” katanya.

Selain kuah, penggunaan rempah menjadi bagian penting dari racikan soto. Salah satu yang cukup menonjol adalah bawang putih goreng yang ditaburkan di atas soto.

Menurut Aris, penggunaan bawang putih tersebut membuat cita rasa soto semakin kuat sekaligus menjadi pembeda dari soto lainnya.

“Lebih terasa kalau bawang putih. Mungkin lebih menonjol saja untuk soto khas Semarang ini,” jelasnya.

Satu mangkuk Soto Semarang Mas Bagas berisi bihun, tauge, seledri, suwiran ayam, serta bawang putih goreng. Sementara kuahnya dibuat menggunakan kaldu ayam dan dipadukan dengan racikan rempah yang menjadi resep khas.

Baca Juga :  Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Menariknya, pilihan soto di warung ini masih fokus pada soto ayam. Dari sisi harga, Soto Semarang Mas Bagas juga menyasar konsumen dari berbagai kalangan. Untuk porsi kecil, harganya Rp8.000 tanpa nasi, Rp10.000 dengan nasi yang dicampur dan Rp12.000 apabila nasi dipisah.

Sedangkan porsi besar dibanderol Rp10.000 tanpa nasi, Rp12.000 dengan nasi dicampur dan Rp14.000 dengan nasi terpisah.

“Kalau harga mungkin ramah kantong juga ya, karena untuk semua kalangan,” terangnya.

Dengan harga yang relatif terjangkau, warung tersebut mampu menjual lebih dari 200 porsi setiap hari. Bahkan, rata-rata penjualan disebut berada di kisaran di atas 200 porsi dan stok soto hampir selalu habis.

Dari aktivitas penjualan tersebut, omzet Soto Semarang Mas Bagas bisa mencapai lebih dari Rp3 juta per hari, terutama ketika jumlah pelanggan sedang tinggi.

Untuk melengkapi menu utama, pelanggan juga bisa memilih beragam makanan pendamping seperti gorengan, sosis Solo, tahu bacem, serta aneka sate.

Pilihan sate yang tersedia antara lain sate kulit, sate ayam, sate rempelo ati hingga sate telur puyuh.

Popularitas Soto Semarang Mas Bagas tidak hanya menarik pelanggan dari sekitar Jalan Jawa. Aris menyebut sejumlah pelanggan datang dari luar Kota Pekalongan, bahkan ada rombongan dari Bogor yang sengaja mampir.

“Pernah rombongan jamaah dari Bogor, sekitar tiga sampai empat mobil. Mereka tahu dari media sosial juga, karena kemarin sempat lumayan viral,” ungkapnya.

Pelanggan dari luar kota lainnya juga disebut datang ketika berkunjung ke Pekalongan, termasuk wisatawan yang datang untuk berburu batik.

Menurut Aris, pelanggan dari Bandung dan Surabaya juga pernah mampir ke warung tersebut ketika sedang berada di Pekalongan.

Baca Juga :  Heboh Udik-udikan Rp15 Juta di Pekalongan Ternyata Hoaks, Keluarga Pilih Batalkan Syukuran dan Bagi-bagi ke Tetangga

Sementara dari kalangan lokal, pelanggan rutin datang dari berbagai kelompok, mulai dari pegawai pemerintahan, ibu-ibu PKK hingga jemaat gereja yang mampir selepas beribadah pada Minggu.

Warung Soto Semarang Mas Bagas buka mulai pukul 07.00 WIB pada Senin hingga Kamis. Sementara Sabtu dan Minggu, warung sudah buka lebih pagi, yakni sekitar pukul 06.30 WIB. Adapun hari Jumat menjadi hari libur.

Salah satu pelanggan, Nur Hidayah (36), karyawan swasta di Kota Pekalonga mengaku sudah sekitar dua tahun mengenal Soto Semarang Mas Bagas.

Ia tidak selalu datang setiap hari atau setiap pekan. Namun, ketika berada di sekitar lokasi, ia kerap mampir untuk sarapan atau makan siang. Tak jarang pula ia membeli soto untuk dibawa pulang sebagai bekal.

“Saya sudah sekitar dua tahun langganan. Kalau sedang mampir biasanya untuk sarapan atau makan siang. Kadang juga dibungkus untuk bekal, terutama kalau sedang malas masak,” ujarnya.

Menurut Nur, salah satu alasan dirinya menyukai Soto Semarang Mas Bagas adalah cita rasanya yang ringan. Ia lebih menyukai soto dengan kuah segar dan tidak terlalu tajam rasa rempahnya.

“Rasanya enak dan ringan. Tidak terlalu tajam rempahnya. Saya memang lebih suka soto yang kuahnya segar,” ucapnya

Untuk pesanannya, Nur biasanya memilih porsi kecil dengan nasi yang langsung dicampur. Ia juga kerap menambahkan lauk pendamping seperti sate telur puyuh atau tahu bacem serta segelas es jeruk.

Menurutnya, perpaduan harga yang terjangkau dan cita rasa yang sesuai selera membuat Soto Semarang Mas Bagas tetap menjadi salah satu pilihan ketika ingin menikmati makanan berkuah.

“Enak untuk sarapan dan makan siang serta harganya juga terjangkau untuk saya,” tutupnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus
Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan
Peyek Udang Jumbo Seukuran Piring Makan di Kota Pekalongan Jadi Buruan, Dijual Rp10 Ribu per Lembar
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:22 WIB

Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya

Berita Terbaru