KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di bawah rindangnya pohon beringin sisi selatan Alun-alun Kota Pekalongan, tepat di depan Matahari Mall, antrean pembeli pecel hampir tak pernah sepi. Banyak orang mengenalnya sebagai Pecel Alun-alun Bu Murni, tak banyak yang mengetahui kalau perempuan asal Kabupaten Wonogiri itu sebelumnya berjualan pecel keliling yang disunggi di atas kepala sejak 1979.
Murni (64) pertama kali datang ke Kota Pekalongan sejak masih belia. Bersama suaminya yang berdagang bakso, ia memilih membantu ekonomi dengan berjualan pecel keliling kampung selama 15 tahun pertama. Selanjutnya berjualan menetap di tempat yang sama sampai sekarang.
“Awalnya jualan keliling dulu selama 15 tahun, lalu menetap di bawah pohon beringin ini sejak Matahari Mall dibangun tahun 1994. Jadi sudah 32 tahun, kalau dihitung sudah hampir 50 tahun berjualan pecel,” ungkapnya kepada kanalplus.id, Minggu (2/8/2026).
Nyaris setengah abad berjualan pecel membuat lapaknya berubah menjadi salah satu kuliner yang paling dikenal di pusat Kota Pekalongan. Bukan hanya warga lokal, pembeli datang dari berbagai daerah, termasuk para perantau yang sengaja mampir ketika pulang kampung.
Menurut Murni, banyak pelanggan mengetahui lapaknya dari cerita mulut ke mulut hingga tayangan di media sosial sehingga banyak juga yang penasaran kemudian datang sendiri mampir dan mencoba membeli.
“Orang Jakarta, Solo, Madiun dan daerah lainnya banyak yang kalau ke Pekalongan pasti mampir. Banyak juga yang tahu dari YouTube,” katanya.
Di tengah naik turunnya harga bahan pokok, Murni mengaku tidak pernah mengurangi kualitas bumbu dan sayuran. Baginya, cita rasa adalah alasan utama pelanggan kembali datang.
“Kalau cabai mahal ya tetap beli yang bagus. Saya tidak mau pakai cabai murahan atau mengurangi bumbu. Pokoknya sambalnya harus puas,” ucapnya.
Satu porsi pecel dijual Rp15 ribu. Isinya cukup lengkap, mulai lontong, tahu, bakwan, rempeyek kacang, kerupuk, hingga aneka sayuran seperti bayam, kacang panjang, kubis, tauge dan daun ubi jalar yang disiram sambal kacang khas racikan Murni.
Ramainya pembeli membuat dapurnya di rumah bekerja tanpa henti. Dalam sehari, sambal kacang bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram, bahkan mencapai 15 kilogram pada hari libur.
Untuk sayuran, Murni menyiapkan sekitar 100 ikat bayam, kacang panjang dan daun ubi jalar, ditambah 150 bungkus tauge serta puluhan buah kubis. Ia tidak sendiri, ada empat orang membantu melayani pembeli di lapak, sementara total delapan pekerja terlibat mulai dari proses memasak hingga persiapan bahan.
Pada hari libur, lapaknya sudah buka sekitar pukul 07.30 WIB untuk melayani warga yang selesai berolahraga di Alun-alun Kota Pekalongan. Sementara pada hari biasa, ia mulai berjualan paling lambat pukul 09.00 WIB.
Tak jarang, sebelum tengah hari pendapatan yang diperoleh sudah mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Ketika antrean pembeli masih panjang sementara stok sayur mulai menipis, Murni langsung menghubungi keluarganya di rumah untuk merebus sayuran lagi agar dagangan tetap tersedia hingga sore.
“Kalau ramai dan sayurnya habis, ya saya telepon orang rumah supaya merebus sayur lagi. Stok di rumah masih ada, tinggal dimasak,” terangnya.
Bagi Murni, perempuan yang sudah dikaruniai enam anak dan tujuh cucu itu menyebut perjalanan panjang berjualan pecel tidak selalu mudah. Ia sudah bertahan hampir setengah abad berjualan pecel dan mengenal banyak pelanggan setianya.
Salah satu pelanggan, Hermanto (49), warga Kajen, mengaku hampir setiap kali mengantar istri dan anak berbelanja ke Matahari Mall, ia memilih menunggu sambil menikmati seporsi pecel Bu Murni.
“Saya tidak ikut masuk mal. Lebih enak duduk di bawah pohon beringin sambil makan pecel. Adem, bisa merokok dan tidak capek muter-muter di dalam mal,” jelasnya.
Ia pertama kali mengetahui lapak pecel Bu Murni tersebut saat mencari tempat parkir yang penuh. Dari kejauhan ia melihat keramaian di bawah pohon beringin dan memutuskan mencoba.
“Rasanya enak, mengenyangkan, harganya juga masih terjangkau. Sekarang kalau ke sini seringnya memang sengaja makan pecel sambil menunggu keluarga belanja,” tuturnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













