KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Peyek udang sudah menjadi lauk pelengkap yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pesisir. Umumnya peyek hanya selebar telapak tangan. Namun berbeda dengan peyek buatan Ibu Supi’ah di Kota Pekalongan yang justru berukuran tak lazim, mencapai diameter lebar sekitar 30 sentimeter atau sebesar piring makan.
Sekilas tampilannya lebih mirip kipas anyaman daripada peyek pada umumnya. Bentuknya bulat lebar dengan taburan udang yang memenuhi permukaan. Meski ukurannya jauh lebih besar, harganya tetap ramah di kantong, hanya Rp10 ribu per lembar.
“Memang saya dari dulu membuatnya sebesar ini, seukuran piring,” kata Supi’ah kepada kanalplus.id, Selasa (21/7/2026).
Perempuan yang kini berusia lebih dari 78 tahun itu mengaku tidak pernah sengaja membuat peyek jumbo demi menarik perhatian. Ukuran tersebut justru sudah menjadi ciri khas usahanya sejak puluhan tahun lalu. Meski begitu, jika ada pelanggan yang menginginkan ukuran lebih kecil untuk acara arisan atau hajatan, ia tetap melayaninya sesuai pesanan.
Setiap hari, Supi’ah membuka lapaknya mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB di kawasan Pantaisari, Kecamatan Pekalongan Utara. Bersama sang suaminya, Simo (76) mereka bergantian menggoreng peyek agar pesanan pelanggan tetap terpenuhi.
Untuk memenuhi permintaan pasar, Supi’ah menghabiskan sekitar 10 kilogram udang hampir setiap hari. Bahan baku tersebut didapat langsung dari nelayan atau juragan yang mengantarkannya dari laut.
“Kalau udang dapatnya langsung dari laut. Ada juragan yang mengantarkan ke sini,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya.
Dari sekitar 10 kilogram udang itu, Supi’ah mampu menghasilkan sekitar 80 lembar peyek ukuran jumbo setiap hari. Sebagian dijual langsung kepada pembeli yang datang, sementara sisanya dipasok ke pedagang sayur dan pasar tradisional.
Menurutnya, permintaan bisa melonjak berkali-kali lipat pada momen tertentu. Saat usahanya sempat viral di media sosial dan berbagai akun informasi lokal, produksi bahkan melonjak drastis.
“Kalau sedang ramai pernah sampai menghabiskan 40 kilogram, bahkan pernah 50 kilogram sehari. Banyak yang pesan 50 sampai 100 biji,” tuturnya.
Selain peyek udang, Supi’ah juga membuat peyek berbahan udang tambak yang memiliki daya simpan lebih lama. Namun peyek udang laut tetap menjadi favorit pembeli karena cita rasanya yang lebih gurih dengan harga lebih terjangkau.
Rahasia kerenyahan peyek buatannya berasal dari perpaduan tepung beras dan tepung pati. Sementara bumbu yang digunakan tergolong sederhana, yakni bawang putih, ketumbar, kencur, garam dan penyedap rasa.
Meski menggunakan resep rumahan, hasilnya mampu menghasilkan tekstur yang renyah dengan aroma udang yang kuat serta awet tidak mudah mlempem atau mempu bertahan seharian tanpa harus masuk wadah kedap udara.
Keunikan ukuran menjadi alasan banyak pelanggan rela datang khusus untuk membeli. Tak sedikit pula yang menjadikan peyek jumbo ini sebagai oleh-oleh khas Pekalongan karena tampilannya yang tidak biasa dan sulit ditemukan di daerah lain.
“Beberapa pembeli mengaku berasal dari Surabaya, Semarang dan sekitar Pekalongan,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa peyek udang buatannya berukuran jumbo juga lantaran ingin pelanggan lebih bisa merasakan gurihnya udang dalam jumlah banyak dalam satu kali goreng.
“Satu peyek ada sekitar 15 udang di mana cara menggorengnya sekali sampai matang, sedangkan peyek lainnya perlu dua kali proses goreng sehingga udang sudah kopong dan biasanya tepung sudah berwarna putih,” bebernya.
Supi’ah mengungkap dirinya berjualan peyek udang jumbo sejak 1992 hingga sekarang setelah sebelumnya sempat membuka warung makan.
“Dulu jualannya nasi tapi sejak 1992 hanya jual peyek udang saja karena bertambahnya usia tenaga sudah jauh berkurang,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












