Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

- Jurnalis

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jafar Said membalik adonan leker yang dipanggang menggunakan panas bara api di atas gerobak tuanya yang mangkal di Jalan Salak, Minggu (26/7/26).

Jafar Said membalik adonan leker yang dipanggang menggunakan panas bara api di atas gerobak tuanya yang mangkal di Jalan Salak, Minggu (26/7/26).

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah menjamurnya jajanan kekinian, satu gerobak leker sederhana di Jalan Salak, Kota Pekalongan, masih setia mengepulkan api dari bara arang. Selama hampir empat dekade, Jafar Said (70) mempertahankan cara memasak tradisional yang kini semakin langka, meski belum ada satu pun anaknya yang berminat meneruskan usaha keluarga itu.

Jafar mulai berjualan leker pada 1985, menggantikan mertuanya yang telah lebih dulu menjajakan kudapan tersebut sejak era 1950-an. Awalnya ia berkeliling dari kampung ke kampung sebelum akhirnya menetap mangkal di Jalan Salak hingga sekarang.

“Awalnya saya membantu bapak mertua. Dulu masih keliling, baru kemudian menetap di Jalan Salak,” kata Jafar kepada kanalplus.id, Minggu (26/7/2026).

Yang membuat leker buatannya berbeda bukan hanya resep turun-temurun, tetapi juga proses memasaknya. Hingga kini ia tetap menggunakan cetakan tanah liat dan bara arang, bukan kompor gas seperti kebanyakan pedagang saat ini.

Baca Juga :  Ampera Pekalongan Mulai Konsolidasi, Siapkan Gerakan Respons Dinamika Nasional dan Kenaikan Beban Masyarakat

Menurutnya, penggunaan bara api menghasilkan aroma yang lebih khas. Adonan berbahan tepung terigu, gula, santan dan irisan pisang raja matang akan mengeluarkan wangi yang lebih kuat saat dipanggang perlahan di atas bara.

“Kalau pakai bara api rasanya lebih legit. Aroma pisang rajanya juga lebih keluar dibanding memakai kompor gas,” ujarnya.

Setiap hari Jafar mulai berjualan pukul 09.00 hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Dari sekitar 1,5 kilogram adonan, ia mampu menghasilkan kurang lebih 200 leker yang hampir selalu habis terjual.

Meski harga leker kini hanya Rp2.500 per porsi, usahanya masih mampu menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu setiap hari. Angka itu jauh berbeda dibanding saat pertama kali ia berjualan, ketika satu leker hanya dihargai Rp50.

Sayangnya, keberlangsungan leker tradisional tersebut kini menghadapi tantangan baru. Dari 10 anak yang dimilikinya, tidak ada satu pun yang tertarik melanjutkan usaha keluarga.

Baca Juga :  Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

“Alhamdulillah saat ini masih menguntungkan, tapi memang belum ada anak yang mau meneruskan usaha ini,” ungkapnya.

Bagi pelanggan setianya, leker buatan Jafar bukan sekadar camilan murah. Aroma pisang yang berpadu dengan asap bara api menghadirkan cita rasa nostalgia yang sulit ditemukan pada leker modern, menjadikannya salah satu kuliner legendaris yang masih bertahan di Kota Pekalongan.

Anisa Maulidya (39) salah satu pelanggan warga Kota Cirebon menuturkan bahwa sejak kecil saat masih bersekolah dan tinggal di Kota Pekalongan, kerap dibelikan jajanan tradisional tersebut oleh orang tuanya.

“Mama yang sebetulnya kerap beli untuk cemilan di rumah, lalu menular ke anak-anaknya termasuk saya,” ungkapnya.

Setelah berkeluarga dirinya pindah ke Kota Cirebon namun masih menyempatkan diri membeli leker saat pulang ke Kota Pekalongan.

“Kalau pas pulang nengok mama, jajan yang pertama beli ya leker. Suami anak-anak juga suka,” tuturnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB