KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah menjamurnya jajanan kekinian, satu gerobak leker sederhana di Jalan Salak, Kota Pekalongan, masih setia mengepulkan api dari bara arang. Selama hampir empat dekade, Jafar Said (70) mempertahankan cara memasak tradisional yang kini semakin langka, meski belum ada satu pun anaknya yang berminat meneruskan usaha keluarga itu.
Jafar mulai berjualan leker pada 1985, menggantikan mertuanya yang telah lebih dulu menjajakan kudapan tersebut sejak era 1950-an. Awalnya ia berkeliling dari kampung ke kampung sebelum akhirnya menetap mangkal di Jalan Salak hingga sekarang.
“Awalnya saya membantu bapak mertua. Dulu masih keliling, baru kemudian menetap di Jalan Salak,” kata Jafar kepada kanalplus.id, Minggu (26/7/2026).
Yang membuat leker buatannya berbeda bukan hanya resep turun-temurun, tetapi juga proses memasaknya. Hingga kini ia tetap menggunakan cetakan tanah liat dan bara arang, bukan kompor gas seperti kebanyakan pedagang saat ini.
Menurutnya, penggunaan bara api menghasilkan aroma yang lebih khas. Adonan berbahan tepung terigu, gula, santan dan irisan pisang raja matang akan mengeluarkan wangi yang lebih kuat saat dipanggang perlahan di atas bara.
“Kalau pakai bara api rasanya lebih legit. Aroma pisang rajanya juga lebih keluar dibanding memakai kompor gas,” ujarnya.
Setiap hari Jafar mulai berjualan pukul 09.00 hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Dari sekitar 1,5 kilogram adonan, ia mampu menghasilkan kurang lebih 200 leker yang hampir selalu habis terjual.
Meski harga leker kini hanya Rp2.500 per porsi, usahanya masih mampu menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu setiap hari. Angka itu jauh berbeda dibanding saat pertama kali ia berjualan, ketika satu leker hanya dihargai Rp50.
Sayangnya, keberlangsungan leker tradisional tersebut kini menghadapi tantangan baru. Dari 10 anak yang dimilikinya, tidak ada satu pun yang tertarik melanjutkan usaha keluarga.
“Alhamdulillah saat ini masih menguntungkan, tapi memang belum ada anak yang mau meneruskan usaha ini,” ungkapnya.
Bagi pelanggan setianya, leker buatan Jafar bukan sekadar camilan murah. Aroma pisang yang berpadu dengan asap bara api menghadirkan cita rasa nostalgia yang sulit ditemukan pada leker modern, menjadikannya salah satu kuliner legendaris yang masih bertahan di Kota Pekalongan.
Anisa Maulidya (39) salah satu pelanggan warga Kota Cirebon menuturkan bahwa sejak kecil saat masih bersekolah dan tinggal di Kota Pekalongan, kerap dibelikan jajanan tradisional tersebut oleh orang tuanya.
“Mama yang sebetulnya kerap beli untuk cemilan di rumah, lalu menular ke anak-anaknya termasuk saya,” ungkapnya.
Setelah berkeluarga dirinya pindah ke Kota Cirebon namun masih menyempatkan diri membeli leker saat pulang ke Kota Pekalongan.
“Kalau pas pulang nengok mama, jajan yang pertama beli ya leker. Suami anak-anak juga suka,” tuturnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













