Banyak pelanggan setia sempat mengira Lontong Tahu “Dunia Lain” di Kota Pekalongan telah tutup. Maklum, sejak usai Lebaran 2026, penjual legendaris yang biasa mangkal di Jalan Jawa setiap menjelang tengah malam itu mendadak menghilang. Padahal, Mafrudin (60) hanya memindahkan lapaknya ke rumahnya sendiri di Gang 11 RT 01 RW 17, Kelurahan Bendan Kergon.
KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Hilangnya lapak Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ dari Jalan Jawa sempat membuat banyak pelanggan setianya kebingungan. Kuliner malam yang selama bertahun-tahun menjadi penyelamat perut lapar para pekerja malam itu ternyata tidak tutup, melainkan pindah berjualan ke rumah pemiliknya.
Keputusan tersebut diambil Mafrudin karena dagangannya hampir setiap malam selalu habis terjual bahkan sebelum tengah malam. Berjualan di rumah dinilai lebih praktis dibanding harus membuka lapak di pinggir jalan.
Kini, pelanggan bisa menikmati lontong tahu yang sudah melegenda itu dengan datang langsung ke rumah Mafrudin di Gang 11 RT 01 RW 17 Kelurahan Bendan Kergon. Satu porsi lontong tahu komplit telur ceplok dan kerupuk dibanderol Rp18 ribu.
Namun, perpindahan lokasi ternyata membawa konsekuensi. Tidak sedikit pelanggan lama yang kehilangan jejak.
Salah satunya Hendro (34), sopir sewaan yang kerap bepergian keluar kota pada malam hari. Ia mengaku sempat beberapa kali datang ke lokasi lama di Jalan Jawa, tetapi tidak lagi menemukan penjual lontong tahu favoritnya.
“Saya kira sudah tutup. Beberapa kali lewat malam-malam enggak ada lagi. Baru belakangan tahu ternyata pindah ke rumah,” ujarnya kepada kanalplus.id saat menikmati lontong tahu kesukaannya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Hendro, lokasi baru cukup sulit dijangkau bagi pelanggan yang menggunakan mobil karena berada di dalam gang sempit.
“Kalau naik mobil enggak bisa masuk. Harus parkir dulu lalu lanjut pakai motor atau jalan kaki,” katanya.
Padahal, selama ini Lontong Tahu Dunia Lain menjadi pilihan utama para pekerja yang beraktivitas hingga larut malam.
Mulai dari sopir travel, petugas keamanan, pekerja shift malam, hingga masyarakat yang baru pulang bepergian kerap mampir hanya untuk mengganjal perut sebelum melanjutkan aktivitas.
Mafrudin menceritakan, dirinya sudah lebih dari tiga dekade berjualan lontong tahu.
Awalnya ia berjualan keliling sejak 1994. Namun saat pandemi Covid-19, ia mencari cara agar tetap bisa berdagang tanpa menimbulkan kerumunan pada jam sibuk.
Dari situlah muncul ide membuka lapak mulai pukul 23.00 hingga menjelang Subuh. Konsep tersebut justru menjadi pembeda dibanding pedagang lontong tahu lainnya.
“Saya ingin menciptakan pasar sendiri. Saat orang lain sudah tutup, saya baru mulai jualan,” ujarnya.
Nama ‘Dunia Lain’ pun lahir dan diadopsi karena jam operasionalnya yang tak lazim. Bukan karena kisah mistis, melainkan karena pembeli datang saat sebagian besar warga sudah terlelap.
Setiap malam, sekitar 50 porsi lontong tahu habis terjual. Pelanggannya tidak hanya berasal dari Kota Pekalongan, tetapi juga sopir antarkota, awak travel, hingga warga luar daerah yang sengaja mampir ketika melintas pada malam hari.
Meski dikenal luas, Mafrudin mengaku tidak memiliki resep rahasia. Bumbu lontong tahunya hanya terdiri dari bawang putih, bawang merah, garam, kecap dan kacang goreng yang diulek hingga halus.
Namun menurutnya, rasa nikmat lontong tahu justru muncul karena disantap saat perut benar-benar lapar di tengah malam.
“Resepnya biasa saja. Mungkin karena makannya malam-malam saat orang lapar, jadi terasa lebih enak,” katanya sambil tersenyum.
Kini, meski tidak lagi mangkal di Jalan Jawa, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ tetap menjadi salah satu kuliner malam paling diburu di Kota Pekalongan. Hanya saja, pelanggan lama perlu mengetahui bahwa ‘markas’ barunya telah berpindah ke sebuah gang kecil di Bendan Kergon. Mereka yang berhasil menemukannya akan disuguhi cita rasa yang sama seperti saat masih berjualan di pinggir Jalan Jawa.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













