Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Aprodita saat menyajikan kopi untuk pelanggannya di atas sepeda roda tiga rakitan yang diubah menjadi meja barista, Rabu (22/7/26) pagi.

Aprodita saat menyajikan kopi untuk pelanggannya di atas sepeda roda tiga rakitan yang diubah menjadi meja barista, Rabu (22/7/26) pagi.

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID  – Banyak anak muda berharap bisa bekerja di tempat yang nyaman dan terlihat keren seperti hotel atau kafe ternama. Namun, bagi Aprodita, perempuan berusia 20-an lulusan perhotelan, rutinitas bekerja hingga 10 jam sehari justru membuatnya berpikir ulang tentang arti bekerja dan menikmati hidup.

Setelah hampir lima tahun berpindah-pindah bekerja di industri food and beverage (F&B) di Yogyakarta, ia memutuskan pulang ke Kota Pekalongan. Alih-alih mencari pekerjaan baru, Aprodita memilih membangun usaha kecil dengan konsep yang belum banyak ditemui di kota kelahirannya, yakni menjual kopi spesialti menggunakan sepeda roda tiga rakitan.

Keputusan itu diambil sekitar lima bulan lalu. Kini, setiap pagi, sepeda berwarna mencolok yang membawa mesin espresso itu menjadi pemandangan akrab bagi para pencinta kopi yang berangkat bekerja melewati Jalan Diponegoro, tepatnya di sisi selatan Kantor Satlantas Polres Pekalongan Kota.

“Aku pengin lebih bebas. Kalau kerja di F&B ikut orang itu waktunya benar-benar habis. Bisa sembilan sampai sepuluh jam sehari. Aku merasa hidupku cuma buat kerja,” katanya membuka obrolan dengan kanalplus.id, Rabu (22/7/2026).

Baginya, memiliki usaha sendiri bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi memberi ruang untuk menikmati waktu sekaligus menyalurkan idealisme tentang secangkir kopi.

Ide menggunakan sepeda justru muncul ketika ia kebingungan membawa mesin espresso yang ukurannya cukup besar. Motor dinilai tidak memungkinkan, sementara kendaraan roda tiga membutuhkan modal yang jauh lebih besar. Saat itulah matanya tertuju pada sepeda lama peninggalan masa sekolah.

“Aku lihat sepedaku, terus kepikiran dibikin roda tiga saja. Akhirnya aku diskusi sama bapak, dibawa ke tukang las, terus kotaknya juga aku desain sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Bahurekso Bangkit Resmi Dideklarasikan, Horison Nahkodai Ormas dengan Misi Tinggalkan Citra Arogan

Kotak kayu tempat menyimpan peralatan kopi dibuat dari kayu bekas yang dibeli di Pasar Loak. Semua diukur dan dirakit sendiri tanpa contoh sebelumnya.
Modal yang dikeluarkan pun tak sedikit.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, Aprodita menghabiskan dana lebih dari harga sebuah sepeda motor baru karena harus membeli mesin espresso, genset, hingga berbagai perlengkapan pendukung.

Meski sempat kesulitan mengendalikan sepeda pada hari-hari pertama, kini ia sudah terbiasa mengayuh sambil membawa seluruh perlengkapan kopi.

Ada alasan mengapa Aprodita memilih berjualan hanya pada pagi hari, mulai pukul 06.00 hingga 09.30 WIB. Sepulang dari Yogyakarta, ia merasa Pekalongan masih minim pilihan kopi berkualitas pada pagi hari, padahal banyak pekerja yang membutuhkan kopi sebelum memulai aktivitas.

“Aku sendiri terbiasa ngopi pagi. Pas pulang ke Pekalongan kok enggak nemu yang jual kopi pagi. Akhirnya aku pikir, ya sudah aku jual pagi saja,” ungkapnya.

Usai berjualan, waktunya dihabiskan untuk menyiapkan bahan, memanggang kue, hingga membuat berbagai menu yang akan dijual keesokan harinya.
Selain kopi, ia juga membuat sendiri aneka kudapan seperti lemon cake dan cappuccino loaf yang berganti setiap hari.

Berbeda dengan tren bisnis yang mengejar keuntungan besar, Aprodita justru sengaja mengambil margin tipis.
Ia menggunakan biji kopi full arabika dengan kualitas terbaik meski harga bahan bakunya lebih mahal. Baginya, kepuasan pelanggan jauh lebih penting daripada keuntungan sesaat.

“Aku maunya orang datang terus balik lagi. Daripada untung banyak tapi cuma beli sekali karena kopinya biasa saja,” ucapnya.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai Rp12 ribu hingga Rp22 ribu per gelas. Kemudian untuk menu favorit pelanggan adalah Salted Honey seharga Rp15 ribu dan Sunrise Cold Brew Rp18 ribu, minuman yang sekaligus menjadi upayanya mengenalkan metode cold brew kepada penikmat kopi di Pekalongan.

Baca Juga :  Petugas Diduga Tertidur, Palang Perlintasan di Kota Pekalongan Tetap Terbuka Saat Kereta Melintas Bikin Geger Warga

Dalam sehari ia hanya membawa sekitar 20 porsi. Bukan karena sengaja membatasi penjualan, tetapi keterbatasan kapasitas mesin membuat stok yang memiliki kemampuan terbatas dan rentan bila dipaksakan lebih dari ketentuan. Tak jarang ia harus menolak pelanggan yang datang terlambat.

“Ke depan kalau ada rejeki mungkin beli mesin yang memiliki kapasitas lebih besar dati yang sekarang,” tutur ibu muda satu anak ini.

Meski baru berjalan sekitar lima bulan, Aprodita mengaku belum memiliki keinginan membuka cabang atau merekrut karyawan.
Fokusnya saat ini hanya satu, terus menyempurnakan kualitas kopi dan alat yang digunakan.

“Aku ingin tetap bikin sendiri. Paling nanti upgrade alat supaya hasil ekstraksinya lebih bagus,” katanya.

Bagi Aprodita, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Lewat sepeda rakitannya, ia telah memenuhi keinginannya, keluar dari zona nyaman dan mempertahankan idealisme  menjaga resep kopi enak di pagi hari bagi pelanggannya.

Salah satu pelanggan setianya, Elsa (30), mengaku pertama kali mengetahui kedai kopi keliling itu dari Instagram.

Rasa penasaran membuatnya mencoba. Kini, hampir setiap pagi ia bersama suaminya selalu mampir membeli kopi sebelum berangkat bekerja.

“Awalnya lihat di Instagram, terus penasaran. Setelah coba ternyata cocok. Sekarang hampir setiap pagi beli sebelum berangkat kerja,” katanya.

Elsa mengaku menyukai rasa americano yang menurutnya lebih lembut dibanding kopi di tempat lain. Bukan hanya rasa kopi yang membuatnya kembali, tetapi juga semangat sang pemilik usaha.

“Menurut saya keren. Masih muda, perempuan, tapi berani bikin konsep yang beda,” sebutnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB