BATANG, KANALPLUS.ID – Pemerintah Kabupaten Batang menyiapkan langkah konkret menjawab keluhan nelayan yang selama ini kesulitan keluar masuk pelabuhan akibat sedimentasi di sejumlah muara sungai. Melalui APBD Perubahan 2026, Pemkab mengalokasikan sekitar Rp5 miliar untuk pengadaan kapal keruk baru.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan pendangkalan muara yang selama ini menjadi hambatan utama aktivitas nelayan, terutama menjelang musim baratan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang, Budhi Santosa, mengatakan sedimentasi di muara sungai sudah menjadi persoalan klasik yang terus dikeluhkan para nelayan.
“Permasalahan yang sangat klasik adalah muara sungai yang pengendapannya sudah dianggap parah,” kata Budhi, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, pendangkalan muara membuat kapal nelayan kesulitan berlabuh, bertambat, hingga keluar menuju laut sehingga berdampak langsung terhadap produktivitas para nelayan.
Sebagai solusi, Bupati Batang mendorong pengadaan kapal keruk baru melalui APBD Perubahan 2026. Armada tersebut ditargetkan sudah bisa dioperasikan sebelum memasuki musim baratan pada akhir tahun.
“Harapannya mendekati Desember sudah ready. Kita usahakan secepatnya terealisasi,” ujarnya.
Selain membeli armada baru, pemerintah juga akan memperbaiki kapal keruk lama yang dibeli pada 2013 agar kembali beroperasi. Dengan demikian, Batang nantinya memiliki dua kapal keruk yang dapat bekerja secara bersamaan.
“Yang satu pengadaan baru dan perbaikan yang lama,” jelas Budhi.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Penguatan Daya Saing DKP Batang, Ibnu Abihatim, mengatakan kapal keruk baru diproyeksikan mampu melayani lebih banyak wilayah, tidak hanya di muara utama tetapi juga kawasan Roban, Celong, hingga Siklayu.
“Harapannya ke depan muara-muara sungai yang ada di Batang itu kita bisa melakukan perawatan,” katanya.
Ibnu menjelaskan, anggaran sekitar Rp5 miliar tersebut digunakan untuk pengadaan dua komponen utama, yakni ekskavator dan ponton. Proses pengadaan ditargetkan rampung sekitar November 2026 karena pembuatan ponton memerlukan waktu perakitan sekitar satu hingga dua bulan.
Menurutnya, keberadaan dua armada kapal keruk akan membuat pemeliharaan muara dilakukan secara rutin sepanjang tahun. Kapal lama difokuskan menangani alur sungai, sedangkan kapal baru diprioritaskan mengeruk sedimentasi di kawasan muara.
Strategi tersebut dinilai penting mengingat sedimentasi terus terjadi akibat material pasir yang terbawa ombak dari laut maupun endapan yang datang dari aliran sungai di bagian hulu.
Selain mendukung kelancaran aktivitas nelayan, pengerukan sedimentasi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi potensi banjir. Selama ini DKP Batang berkolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dalam membersihkan lumpur dan sampah di sejumlah sungai, termasuk kawasan eks Sungai Sambong.
Dengan tambahan armada tersebut, pemerintah berharap akses keluar-masuk kapal nelayan menjadi lebih lancar sekaligus menjaga produktivitas sektor perikanan tangkap yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir Batang.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













