KANAL KOTA – Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias ternyata tidak sempat menyaksikan langsung aksi teatrikal peserta Simbangkulon Night Carnival (SKNC) yang kemudian viral di media sosial dan dikaitkan dengan ritual satanic.
Bukan karena tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Ferra justru mengaku berada di lokasi, namun memilih turun langsung mengurai kemacetan yang terjadi saat pelaksanaan karnaval.
Ia mengatakan kemacetan mulai terjadi ketika arus kendaraan dan kerumunan warga semakin padat. Kondisi tersebut membuat sejumlah ruas jalan mulai tertutup.
“Saya mengurai kemacetan biar cepat. Karena saya lihat sudah ramai banget, jalan sudah mulai tertutup,” ungkap Ferra kepada kanalplus.id di Lobi Mapolres, Selasa (15/9/2026).
Untuk mempercepat penguraian arus lalu lintas, Ferra bahkan turun langsung bersama Kasat Lantas Polres Pekalongan Kota. Ia ikut mengawal proses pengaturan lalu lintas bersama personel dan Banser.
Namun, keputusan tersebut membuatnya justru kehilangan kesempatan menyaksikan aksi peserta karnaval yang berlangsung di panggung utama.
Sebab, ketika kemacetan berhasil diurai dan Ferra kembali menuju panggung, pertunjukan yang menjadi sorotan tersebut ternyata sudah selesai.
“Rentang waktu antara saya mengurai itu, mereka sudah selesai. Pertunjukannya sudah berakhir,” ujarnya.
Sesampainya di panggung utama, Dies mengaku tidak lagi melihat aksi yang belakangan menjadi sorotan publik tersebut.
Ia sempat mengira penampilan yang dimaksud merupakan bagian dari peserta di barisan belakang. Namun setelah diperiksa, ternyata aksi tersebut merupakan penampilan peserta di bagian awal karnaval.
“Saya pikir yang di belakang. Di belakang kan ada peti juga. Saya pikir itu. Ternyata bukan, ternyata urutan yang kedua,” katanya.
Ferra kemudian tetap berada di sekitar panggung bersama jajaran Forkopimda dan pihak lainnya setelah tiba di lokasi.
Terkait kontroversi penampilan tersebut, Ferra mengatakan kepolisian sebelumnya sudah melakukan pemantauan. Kasat Intelkam disebut telah turun menggali informasi mengenai kegiatan tersebut sebelum pelaksanaan karnaval dan melaporkannya kepada Kapolres.
Ia juga mengatakan sejumlah pihak telah dipanggil untuk memberikan klarifikasi terkait penampilan yang viral tersebut.
Ketika ditanya apakah pihak-pihak tersebut datang secara sukarela atau dipanggil polisi, Ferra menegaskan mereka dipanggil untuk dimintai klarifikasi.
” Dipanggil,” ucapnya.
Ferra menambahkan, polisi tetap menghargai kreativitas masyarakat dalam berkegiatan. Namun, setelah muncul persoalan seperti yang terjadi dalam karnaval tersebut, pihaknya akan melakukan pendalaman lebih detail terhadap konsep dan rangkaian kegiatan sebelum acara digelar.
“Makanya besok, ketika ada kegiatan itu lagi, saya akan lebih mendetail dengan masalah kegiatannya,” terangnya.
Sebelumnya, aksi teatrikal dalam SKNC viral di media sosial setelah sejumlah warganet menilai penampilannya menyerupai ritual satanic. Kontroversi tersebut kemudian mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, kepolisian, MUI, serta panitia penyelenggara.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












