Aksi Kolaboratif Jadi Upaya Pelestarian Batik Rifaiyah Khas Batang dari Ancaman Kepunahan

- Jurnalis

Rabu, 29 April 2026 - 16:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Puluhan peserta workshop pelestarian Batik Rifaiyah yang terdiri dari perajin, pegiat, komunitas dan pemerintah daerah bertemu dan membahas upaya penyelamatan batik warisan budaya khas Kabupaten Batang tersebut dari ancaman kepunahan, Rabu (29/4/2026).

Puluhan peserta workshop pelestarian Batik Rifaiyah yang terdiri dari perajin, pegiat, komunitas dan pemerintah daerah bertemu dan membahas upaya penyelamatan batik warisan budaya khas Kabupaten Batang tersebut dari ancaman kepunahan, Rabu (29/4/2026).

BATANG, KANALPLUS.ID — Nasib Batik Rifaiyah yang menjadi warisan budaya khas Kabupaten Batang, kini berada di titik mengkhawatirkan. Dari puluhan motif yang pernah berkembang, sebagian mulai hilang seiring berkurangnya pembatik generasi lama yang belum tergantikan oleh generasi yang lebih muda.

Kondisi ini memicu kekhawatiran berbagai pihak hingga mendorong digelarnya workshop pelestarian bagi batik yang identik dengan warga Rifa’iyah berlangsung di Kafe Joglomberan. Kegiatan tersebut mempertemukan perajin, pegiat literasi, komunitas hingga pemerintah daerah itu menjadi ruang bersama untuk upaya penyelamatan dari kepunahan.

Penggiat Batik Rifaiyah, Miftakhutin, menilai kolaborasi lintas pihak menjadi kunci penting untuk menjaga keberlangsungan batik berciri religius tersebut. Ia menyebut dukungan dari pemerintah dan komunitas literasi memberikan energi baru bagi para pembatik.

“Jadi ini semacam support system yang sangat bagus. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan ini membuat teman-teman pembatik lebih semangat untuk terus berkarya,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).

Baca Juga :  Tersebar di Belasan Lokasi, BPI Manfaatkan FABA Jadi Upaya Pulihkan Ekosistem Laut di Batang

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan regenerasi berjalan. Tanpa penerus, keberlanjutan Batik Rifaiyah akan semakin terancam.

Data yang dihimpun menunjukkan penyusutan jumlah motif secara signifikan. Jika pada awal 2000-an terdapat sekitar 24 motif, kini yang tersisa hanya sekitar 16 motif. Hilangnya motif tersebut sebagian besar disebabkan wafatnya para pembatik sepuh yang belum sempat mewariskan pengetahuan mereka.

Ketua Dekranasda Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, yang juga terlibat dalam upaya pelestarian, menegaskan bahwa Batik Rifaiyah memiliki nilai historis dan spiritual yang tidak dimiliki batik lain yang tidak tergantikan.

“Proses membatiknya dilakukan sambil melantunkan selawat dari awal hingga akhir. Ini menjadi kekhasan yang sangat kuat,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun usia Batik Rifaiyah telah melampaui satu abad, eksistensinya di pasar tergolong masih muda karena baru mulai dipasarkan secara luas pada era 2010-an.

Namun di balik potensi tersebut, ancaman kepunahan menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah melalui Dekranasda pun mulai mengambil langkah strategis, mulai dari dokumentasi motif hingga promosi ke tingkat nasional melalui berbagai pameran, termasuk Inacraft.

Baca Juga :  Wabup Batang Suyono Ingatkan SPPG Dekat Kandang Ayam Harus Pindah, Jangan Langgar Standar Kesehatan

Upaya ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi. Dengan nilai jual yang lebih tinggi, diharapkan generasi muda tertarik untuk terjun menjadi pembatik.

“Kalau nilai ekonominya meningkat, anak muda akan melihat membatik sebagai peluang, bukan sekadar tradisi,” papar Faelasufa.

Selain itu, ia juga mendorong keterbukaan komunitas dalam proses regenerasi. Menurutnya, pembelajaran Batik Rifaiyah tidak harus terbatas pada komunitas tertentu, melainkan bisa diperluas agar peluang pelestarian semakin besar.

“Workshop ini diharapkan menjadi titik balik dalam menjaga keberlangsungan Batik Rifaiyah. Tanpa langkah cepat dan kolaboratif, bukan tidak mungkin warisan budaya yang sarat nilai religius ini akan perlahan hilang dari jejak sejarah Kabupaten Batang,” tutupnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah
Kisah Pilu Ikin Sodikin Bertahan Setengah Abad Jualan Bendera Merah Putih, Kini Dikalahkan Belanja Online
Misteri Alas Pandawa Batang, Konon Dijaga Pasukan Gaib Putri Keraton hingga Kini

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat

Berita Terbaru

Polisi menunjukkan bagian belakang Po Bus Tunas Muda yang terbakar di KM 350 Tol Semarang - Batang, Minggu (13/9/26) pagi. Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

Batang

Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Batang, 15 Penumpang Selamat

Minggu, 13 Sep 2026 - 07:50 WIB

Lansia yang bekerja sebagai petani di Batang dilaporkan tewas tertemper kereta api saat berjalan di rel Desa Ponowareng, Sabtu (12/9/26). Foto: Istimewa & AI

Peristiwa

Berjalan di Rel, Lansia di Batang Tewas Tertemper KA Kaligung

Minggu, 13 Sep 2026 - 06:49 WIB