BATANG, KANALPLUS.ID – Upaya pemulihan ekosistem Laut Jawa kini mendapat dorongan dari inovasi tak biasa. PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) memanfaatkan limbah pembakaran batu bara atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sebagai bahan utama pembangunan terumbu buatan di perairan Kabupaten Batang.
Langkah ini menjadi bagian dari kontribusi sektor industri dalam menjawab tantangan kerusakan ekosistem laut di kawasan pesisir utara Jawa yang selama ini tertekan oleh perubahan iklim, aktivitas penangkapan berlebih, hingga degradasi terumbu karang.
External Relation Manager BPI, Dona Doni Putu Wignya, menjelaskan bahwa pihaknya mengembangkan struktur bawah laut berupa Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR) sebagai habitat baru bagi biota laut.
“Kami berupaya menghadirkan solusi berbasis inovasi. FABA yang merupakan sisa produksi PLTU kami manfaatkan menjadi struktur ramah lingkungan untuk mendukung restorasi laut,” ujarnya saat kegiatan Festival Gemar Makan Ikan di Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (30/4/2026).
Program ini telah berjalan sejak 2020 dan dikembangkan bersama akademisi, khususnya dari Universitas Diponegoro. Hasilnya, struktur yang dipasang di dasar laut tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mulai ditumbuhi organisme laut secara alami.
“Yang menarik, bukan hanya karang transplantasi yang tumbuh, tetapi juga ada rekrutmen alami. Artinya, ekosistem mulai terbentuk dengan sendirinya,” jelas Dona.
Fenomena tersebut menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekosistem Laut Jawa, yang selama ini menghadapi tekanan berat. Bahkan, nelayan setempat mulai melaporkan kemunculan biota laut berukuran besar di sekitar lokasi pemasangan struktur.
“Di Karang Sepapang, ada laporan munculnya hiu paus, lumba-lumba, hingga beberapa jenis hiu. Ini menunjukkan kawasan tersebut mulai hidup kembali,” katanya.
Struktur AFA dan APR dipasang di kedalaman sekitar 10 meter dan berjarak sekitar 20 kilometer dari garis pantai. Dalam jangka panjang, kawasan ini diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekosistem baru yang mampu menopang populasi ikan.
Konsep yang diterapkan mengarah pada efek “spillover”, di mana kawasan yang dipulihkan menjadi sumber penyebaran ikan ke wilayah tangkap nelayan.
“Kalau ekosistemnya sehat, ikan akan berkembang dan keluar dari area itu. Pada akhirnya nelayan yang akan merasakan manfaatnya,” imbuhnya.
Pada 2026 ini, BPI menargetkan penambahan hingga 10 unit struktur baru dengan desain yang diperkuat agar lebih tahan terhadap dinamika arus laut.
Selain aspek lingkungan, program ini juga menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular. FABA yang sebelumnya dianggap limbah kini diubah menjadi material konstruksi alternatif yang aman dan bernilai guna.
Mengacu pada PP Nomor 22 Tahun 2021, FABA dari PLTU telah dikategorikan sebagai limbah non-B3 sehingga dapat dimanfaatkan kembali secara aman, termasuk untuk kebutuhan konstruksi dan restorasi lingkungan.
“BPI sendiri telah menggelontorkan anggaran lebih dari Rp1 miliar untuk pengembangan proyek ini di sejumlah titik perairan Batang,” bebernya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













