KANAL KOTA – Budi Riyanto (51) nelayan yang selamat setelah perahu yang ditumpanginya pecah dihantam ombak di kawasan muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), akhirnya diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis.
Sementara rekannya, Muhayat, yang sempat tenggelam setelah kapal pecah, meninggal dunia dan telah dibawa keluarganya ke rumah duka.
Kasat Polairud Polres Pekalongan Kota Iptu Ponco Budiarto mengatakan, Budi dan Muhayat sempat dibawa ke rumah sakit setelah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian.
“Keduanya sudah pulang semua yang berhasil diselamatkan sudah dipersilahkan pulang ke rumahnya,” terang Ponco kepada wartawan, Sabtu (12/9/2026) malam.
Sedangkan Muhayat juga sudah dibawa keluarganya dengan ambulan menuju ke rumah duka.
“Yang meninggal atas nama Pak Muhayat sudah dibawa oleh keluarganya, dalam hal ini istri sama anaknya, ke rumah duka,” ujarnya.
Muhayat meninggal setelah sempat tenggelam ketika perahu KM Surya A yang ditumpanginya bersama Budi dihantam ombak saat hendak masuk ke muara.
Budi yang berhasil menyelamatkan diri kemudian mencari rekannya setelah berhasil mencapai daratan.
Menurut kesaksian Budi, Muhayat ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di sekitar pinggir muara. Saat ditemukan, dari mulut korban masih terlihat busa putih. Budi kemudian meminta bantuan untuk mengevakuasi Muhayat dari lokasi.
Peristiwa tersebut terjadi ketika rombongan nelayan hendak pulang setelah melaut. Lima kapal disebut berangkat dari TPI sekitar pukul 17.00 WIB dan mencari ikan di sekitar perairan Batang.
Saat perjalanan kembali, kondisi cuaca berubah dan ombak membesar. Dua kapal mengalami masalah ketika mendekati pintu masuk muara.
KM Surya A yang membawa Budi dan Muhayat pecah setelah dihantam ombak dan membentur tumpukan batu.
Polisi menyebut kejadian tersebut merupakan kecelakaan. Kondisi perairan saat itu juga disebut sedang buruk dengan gelombang tinggi akibat musim timuran.
Ponco mengatakan informasi mengenai kondisi gelombang sebenarnya disampaikan kepada nelayan melalui pihak pelabuhan maupun Satpolairud. Namun, sebagian nelayan tetap melaut karena harus mencari nafkah.
“Iya saat ini sedang musim timuran sehingga ombaknya cukup tinggi dan kondisi angin lumayan kencang,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













