KANAL KOTA – Sodik Haryanto (42), nelayan yang berada sekitar 25 meter di belakang kapal Muhayat (60), menyaksikan langsung detik-detik perahu nelayan itu dihantam ombak saat hendak masuk ke muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), Sabtu (12/9/2026) malam.
Sodik mengatakan, saat itu sejumlah kapal nelayan pulang hampir bersamaan setelah selesai mencari ikan. Kapal Muhayat berada di depan, disusul kapal miliknya dan beberapa kapal lainnya.
Menurut Sodik, rombongan awalnya masih dapat melaju menuju pintu masuk muara. Namun, kondisi berubah ketika mereka mendekati area tersebut.
Kapal Muhayat yang berada di depan dihantam ombak dari arah timur. Kapal sempat miring sebelum kembali dihantam ombak hingga akhirnya karam dan membentur batu.
“Langsung kapal miring, dihantam ombak lagi dari timur. Akhirnya karam, nabrak batu-batu,” ungkap Sodik kepada kanalplus.id di RS Budirahayu.
Sodik memperkirakan ketinggian ombak saat kejadian lebih dari dua meter. Kondisi tersebut membuat kapal sulit dikendalikan ketika hendak melewati pintu muara.
Jarak antara kapal miliknya dengan kapal Muhayat saat kejadian sekitar 25 meter. Dari posisi tersebut, ia melihat kapal Muhayat mengalami kerusakan parah setelah menghantam batu.
“Pecah, hancur, lebur. Enggak ada bentuknya kapal,” ucapnya.
Sodik mengatakan, selain kapal Muhayat, satu kapal lainnya juga terdampak dan mengenai batu. Namun kapal tersebut belum langsung dievakuasi.
Dari sekitar lima kapal yang berangkat melaut sore itu, dua kapal mengalami masalah ketika kembali ke daratan. Sementara kapal lainnya berhasil melewati kawasan tersebut.
Sodik sendiri mengaku sempat melihat kondisi kapal Muhayat setelah kejadian. Muhayat sudah tidak sadarkan diri ketika berhasil dievakuasi dari sekitar lokasi.
“Korban kemudian dibawa ke daratan untuk mendapatkan pertolongan,” jelasnya.
Sodik menuturkan, sebelum berangkat melaut sekitar pukul 17.00 WIB, kondisi cuaca masih relatif normal. Tidak ada tanda yang menurutnya menunjukkan cuaca akan memburuk.
Namun, ketika rombongan hendak pulang pada malam hari, perubahan cuaca terjadi secara mendadak.
“Tidak ada tanda saat berangkat, cuaca buruk datang mendadak,” beber Sodik.
Rombongan kemudian memilih menarik jaring dan kembali ke daratan setelah melihat tanda-tanda cuaca memburuk.
Sodik menyebut, wilayah tangkapan ikan mereka tidak terlalu jauh dari daratan. Para nelayan biasanya mencari ikan di sekitar perairan Batang dan kembali pada hari yang sama apabila kondisi memungkinkan.
Peristiwa itu akhirnya menewaskan Muhayat. Sementara Budi Riyanto yang berada satu kapal dengan korban berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka.
Polisi sebelumnya menyebut kejadian tersebut merupakan kecelakaan setelah kapal terbawa arus dan ombak hingga membentur batu di kawasan muara.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













