Geram Hutan Dibakar Berulang, Kades Jojogan Pemalang Siapkan Sayembara Rp5 Juta Tangkap Pelaku

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sulitnya medan dan ketiadaan akses kendaraan membuat tim gabungan kesulitan memadamkan api yang membakar hutan di lereng Bukit Banowati Desa Jojogan, Senin (10/8/26)  malam. Foto : Istimewa

Sulitnya medan dan ketiadaan akses kendaraan membuat tim gabungan kesulitan memadamkan api yang membakar hutan di lereng Bukit Banowati Desa Jojogan, Senin (10/8/26) malam. Foto : Istimewa

KANAL PEMALANG – Kesabaran Pemerintah Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, menghadapi kebakaran hutan di lereng Bukit Banowati, mulai menipis. Kebakaran di kawasan Puncak Wadas Lawang tersebut kerap terjadi di setiap musim kemarau.

Dugaan kuat kebakaran sengaja dilakukan untuk membuka lahan agar lebih mudah digarap. Karena kesal kebakaran terus terjadi dan pelakunya tak kunjung diketahui, Kepala Desa Jojogan Irman Fauzi bahkan membuat langkah tak biasa. Ia menyiapkan sayembara berhadiah Rp5 juta bagi warga yang berhasil menemukan pelaku pembakaran hutan untuk kemudian diserahkan kepada pihak berwenang.

“Barang siapa yang menemukan orang yang membakar, tak kasih hadiah Rp5 juta,” kata Irman saat dihubungi kanalplus.id,  Senin (10/8/2026) malam.

Menurut Irman, kebakaran di kawasan tersebut bukan kejadian baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pola serupa disebut selalu muncul saat musim kemarau.

Bahkan, kebakaran di lokasi yang sama disebut telah terjadi dua kali hanya dalam sepekan terakhir.

“Ini sudah dua kali. Minggu kemarin sudah, ini dibakar lagi. Paling nanti minggu depan ataupun sebelum malam juga bisa kebakar,” ujarnya.

Irman menduga kebakaran bukan terjadi secara alami. Menurutnya, ada pihak yang sengaja membakar semak dan vegetasi di lereng bukit agar lahan menjadi lebih mudah dibuka dan digarap.

“Ya sepertinya disengaja. Kalau nanti kebakar, kan garapnya enak digarap oleh petani,” terangnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah desa berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, masyarakat bersama pemerintah desa telah berupaya melakukan penghijauan dan menjaga sumber mata air. Namun, upaya tersebut kembali terancam setiap kali kebakaran terjadi. Irman mengaku sudah sampai pada titik jenuh.

Baca Juga :  Diduga Hindari Kucing, Truk Bermuatan Bir Terguling di Pantura Pemalang

“Kami sekarang kadang muak. Makanya kadang saya mengadakan sayembara juga, siapa yang nemu, cepel, nanti tak kasih hadiah,” ujarnya.

Yang paling dikhawatirkan bukan hanya hilangnya vegetasi di lereng bukit, tetapi juga rusaknya sumber air.

Irman mengatakan kawasan tersebut memiliki mata air yang dahulu menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat.

Pemerintah desa bersama pemuda dan masyarakat bahkan pernah melakukan penanaman pohon, termasuk jenis tanaman yang diharapkan dapat menjaga kawasan sumber air. Namun, kebakaran yang berulang membuat kondisi lingkungan semakin rusak.

“Di situ ada mata air. Cuma sudah adanya tradisi tiap tahun begini, sekarang sumber mata airnya hilang,” ungkapnya.

Padahal, menurut dia, kualitas air dari kawasan tersebut sebelumnya sangat baik dan menjadi sumber air bersih warga desa.

“Kita sudah nanami beringin, nanami pohon yang bisa melindungi sumber-sumber air. Mata air itu kini hilang karena kejamnya masyarakat yang tangannya tidak bisa dijaga,” kecamnya.

Irman menilai ulah oknum pembakar hutan tidak hanya berdampak pada kawasan yang terbakar. Jika tutupan vegetasi terus rusak, masyarakat sendiri yang akan menanggung akibatnya, terutama ketika memasuki musim kemarau dan kebutuhan air meningkat. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak hanya melihat kebakaran sebagai persoalan lahan yang terbakar sesaat.

“Makanya kita selalu bikin pernyataan, kalau nanti musim kering butuh air, jangan teriak-teriak kepada kami,” tukasnya.

Menurutnya, pemerintah desa, Karang Taruna dan masyarakat selama ini telah berusaha merawat sumber air. Namun, upaya tersebut menjadi sia-sia jika pembakaran terus dilakukan.

Penanganan kebakaran di lereng Bukit Banowati juga tidak mudah. Lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman dan tidak memiliki akses kendaraan.

Baca Juga :  Spesialis Bobol Atap Minimarket Dibekuk, Polisi Ungkap Jejak Aksi di 8 Lokasi

Irman menyebut perjalanan dari Desa Jojogan menuju lokasi membutuhkan waktu hampir dua jam. Bahkan, kendaraan roda dua maupun mobil tidak bisa mencapai titik kebakaran.

“Jalan kaki. Mobil, motor saja enggak bisa,” katanya.

Kondisi medan membuat upaya pemadaman secara langsung memiliki risiko tinggi. Pemerintah desa bersama masyarakat lebih memilih melakukan pemantauan dan berupaya mencegah api merembet ke lahan atau kebun warga.

Menurut Irman, kondisi kebakaran malam ini relatif lebih terkendali karena tidak disertai angin kencang.

“Untung saja ini tidak ada angin. Kalau ada angin, waduh, habis, sudah,” tuturnya.

Sebagian kawasan yang terbakar disebut merupakan wilayah Perhutani. Karena itu, Irman berharap penanganan dan pencegahan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa maupun masyarakat. Ia meminta Perhutani ikut memperkuat pengawasan di kawasan tersebut.

“Kan nanti kita tergantung juga kerja sama Perhutani. Mereka juga harus ikut menjaga, sama-sama,” katanya.

Irman menyebut luas kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut secara keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar empat hingga lima hektare, meski luasan pasti kebakaran terbaru masih perlu pendataan di lapangan.

Bagi Pemerintah Desa Jojogan, sayembara Rp5 juta tersebut bukan sekadar soal hadiah. Langkah itu merupakan bentuk kejengkelan karena kebakaran berulang terjadi, sementara pelakunya belum pernah berhasil diketahui.

Irman berharap jika ada warga yang melihat atau mengetahui orang yang diduga melakukan pembakaran, informasi tersebut segera disampaikan kepada aparat agar dapat diproses sesuai hukum.

“Pokoknya barang siapa yang menemukan orang yang membakar, tak kasih hadiah Rp5 juta,” tegasnya.

 

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Sebut Hasil Autopsi Jadi Kunci Penyebab Kematian Al Fian Siswa SMP di Pemalang Korban Perundungan
Penyidikan Kematian Al Fian Siswa SMP di Pemalang 90 Persen, Polisi Sudah Kantongi Nama Terduga Pelaku
Semarak Lampu Hias Agustusan di Pemalang, Pedagang Dadakan Ikut Ketiban Rezeki
Habiskan Ratusan Juta, Lampu Hias Sepanjang Tiga Kilometer Sulap Desa di Pemalang Jadi Wisata Malam
Usai Kasus Dugaan Perundungan Sebabkan Siswa Tewas, Pemkab Pemalang Siapkan CCTV di Sekolah
Sekolah Akui Sempat Ada Konflik Antar Siswa Sebelum Alfian Meninggal, Polisi Dalami Keterkaitannya
Sakit Berhari-hari hingga Muntah Darah, Kronologi Terakhir Al Fian Sebelum Meninggal Masih Jadi Bagian Penyelidikan
Kepala SMPN 4 Randudongkal Bantah Ada Pengeroyokan, Klaim Tak Pernah Terima Laporan Perundungan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:59 WIB

Polisi Sebut Hasil Autopsi Jadi Kunci Penyebab Kematian Al Fian Siswa SMP di Pemalang Korban Perundungan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:26 WIB

Penyidikan Kematian Al Fian Siswa SMP di Pemalang 90 Persen, Polisi Sudah Kantongi Nama Terduga Pelaku

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:29 WIB

Geram Hutan Dibakar Berulang, Kades Jojogan Pemalang Siapkan Sayembara Rp5 Juta Tangkap Pelaku

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:57 WIB

Semarak Lampu Hias Agustusan di Pemalang, Pedagang Dadakan Ikut Ketiban Rezeki

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:39 WIB

Habiskan Ratusan Juta, Lampu Hias Sepanjang Tiga Kilometer Sulap Desa di Pemalang Jadi Wisata Malam

Berita Terbaru